Tanah Merah

Aku lupa jika hari ini Al-izzah libur. Shit! Maka hari ini pun tak ada kelas yang harus ku penuhi. Jadwal di Pejuang pun kosong. Jadi aku bisa pulang cepat hari ini dan meneruskan membaca buku-buku yang belum tuntas. Saat di jalan tadi aku melihat ada sebuah plang besar diatas tanah bertuliskan, “STATUS TANAH INI BELUM JELAS”, singkatnya sedang diidentifikasi oleh pihak berwajib (?). Karena telah diklaim bahwa dokumen mengenai tanah itu palsu. Ku rasa tanah ini lah yang kemarin hangat dibicarakan oleh rekan-rekanku di sekolah.

Sekejap pikiranku tertuju pada tahun-tahun lalu saat aku bergabung dengan sebuah lembaga bantuan hukum ter-absurd se-Indonesia. HaHaHa. Di Bogor. Waktu itu aku dan kawanku ditugasi oleh katakanlah, “pimpinan lembaga”, menempati sebuah desa yang sedang dilanda kasus sengketa tanah antara pemda, native local, dan salah seorang warga “asing” yang membeli tanah yang cukup luas disekitar desa itu. Diatas tanah yang diperebutkan itu berdiri sebuah rumah yang cukup besar. Aku tinggal didalamnya kurang lebih 3 minggu.

Desa itu sangat sepi, rumah yang ada disana bisa dihitung dengan jari. Desa itu berada ditengah-tengah kuburan cina yang ku kira orang-orang yang mati itu adalah para borjuis kecil dan besar. Betapa tidak setiap kuburan yang ada disana luasnya melebihi kontrakanku. Dan bagiku sama sekali tak nampak menyeramkan.

Kasus itu kurang lebih sama dengan kasus dijalan tadi. Adanya pemalsuan dokumen. Hanya disini turut serta warga lokal yang mempunyai saham atas tanah tersebut. Jauh-jauh hari warga kadung bercocok tanam diatas tanah tersebut. Sehingga warga “asing” yang tertipu karena beli tanah tersebut, harus berurusan dengan warga lokal selain pihak pemda yang sebelumnya juga mengklaim atas kepemilikan tanah tersebut. Ditambah terendus kabar jika ada perselingkuhan antara warga “asing” itu dengan warga “asing” lainnya yang berlainan agama sehingga hal itu dijadikan kekuatan oleh pemda dan warga untuk memenangkan pertarungan ini.

Ini kah logika hukum kita? Posisi kami memang tidak memihak kepada siapa-siapa hanya meredam jikalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Semacam pahlawan kesiangan. Lagi pula netral itu dungu. Kami memang dungu saat itu.

Entah kenapa setelah kurang lebih 3 minggu berada disana “pimpinan” kami memutuskan untuk tak melanjutkan penyelidikan ini. Namun intinya bahwa kasus ini terlalu mafiawi dan kami tak mau mengambil resiko lebih jauh. Suatu ketika kebetulan aku sedang menonton berita di metro tifi dan bukan kebetulan jika berita didalamnya mengenai kasus sengketa tanah tempo hari yang ternyata dimenangkan oleh pemda dengan membawa segerombolan aparat.

Sekarang atau mungkin dari entah kapan, betapa mudahnya seseorang memalsukan sebuah dokumen atas tanah? Berapa banyak korban yang dihasilkan olehnya? Berapa ratus jeritan yang dilahirkan darinya? Dimana ada uang disitu ada jalan. Inikah efek samping dari konsep neo-liberalisme? Dimana banyak hal yang diprivatisasi cuma menerbitkan petaka bagi mayoritas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s