I.M.O

Pada dasarnya musik itu media informasi. Sebagaimana informasi ia harus dapat berkomunikasi, kalau bukan, berbahasa. Dengan kata atau tidak. Immortal Technique, Refused, Radiohead, dsj, menggunakan kata (lirik) sebagai senjata. Godspeed, Sigur Ros, Explossion In The Sky, Mono, dsj, menggunakan instrumen sebagai bahasa. Ketujuhnya sama-sama berpesan, senihil apapun pesan itu ia tetap berpesan.

Bagi pendengar Godspeed mungkin mahfum akan pesan-pesan dalam melodi mereka bahwa, “hidup semestinya melampaui kata-kata, dan aksi adalah sebenar-benarnya eksistensi diri.” Aku juga tak pernah menyangka jika Godspeed adalah post-rock ultra politis yang pernah ada dimuka bumi ini.

Namun ada yang berbeda dengan Sigur Ros, yang belakangan ini menggelar konser di Jakarta. Meskipun aku tak jadi menonton mereka, karena, ah terlalu basi jika beralasan nir-budget. Intinya aku bodoh nan tolol saja, barangkali. Sigur Ros memang tidak nir-lirik, namun aku merasa yang menjadi kekuatan terbesar dari mereka justru terletak pada komposisi musik, atau, instrumentasi itu sendiri. Dan memang aku sendiri tidak paham bahasa Icelandic. Terlepas dari itu semua aku tak suka mengkotak-kotakkan musik. Karenanya aku suka mendengar musik dari genre manapun. Apapun.

Meskipun demikian ada jenis musik yang ku rasa musik jenis itu adalah milikku. Hanya milikku. Setidaknya, bagiku hingga hari ini, post-rock adalah manifestasi kegetiran yang begitu personal. Ketika kata-kata saja tak cukup mewakili maka instrumen hadir sebagai entitas lain yang dapat memuntahkan segala resah dan gelisah. Bahkan mencerahkan dan menggelapkan sekaligus. Terutama ketika engkau muak menasehati dan dinasehati.

Toh seni itu sifatnya subjektif seharusnya ia tak punya pusat. Ia mesti bebas dari ragam kungkungan. Lagi pula terlalu stupid jika seni itu bersifat mengurung. Biarkan saja seni atas diriku mengalir mencari muara kemana ia menetap nantinya. Terlalu dini untuk mendewa-dewikan suatu genre. What the fuxxx with a label, anyway. Yang jelas bagiku seni itu untuk diriku sendiri bukan untuk publik. Lagi pula musik itu sakral. Sesakral engkau menghayati alam semesta.

Seharusnya setiap orang punya selera yang berbeda-beda saat menikmati musik. Namun kenyataan berpihak pada keseragaman dan media arus utama macam televisi adalah penjahat yang tak layak eksis dimuka dunia ini. Seringnya, aku muak jika tak sengaja melihat acara musik di tifi. Kenapa orang-orang harus menyukai hal yang sama ketika sesungguhnya didalam diri mereka begitu banyak perbedaan? Bukankah yang sepatutnya seragam adalah akses ekonomi?

Ah. Fuxxx you tv program!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s