M-A-Y-A

Kita hidup di era dimana teknologi mengubah pola-pola produksi, interaksi, juga komunikasi. Ketika hari ini setiap orang dapat mengakses informasi dengan begitu cepat hanya dengan satu syarat; terkoneksi dengan internet. Ketika hari ini orang-orang dapat dengan mudah berkomunikasi tanpa harus bertemu muka, secara bersamaan menimbulkan kebanalan dalam bentuk lain.

Sebut saja pager, telephone, handphone, sampai smartphone (yang terakhir ini lah yang biasanya menyebalkan). Pergeseran paradigma disetiap aspek pun tak dapat dihindari. Tak terhitung berapa banyak sosial media dari semenjak era mcrl, friendster, hingga twitter. Barangkali karena alasan itu lah “aktivisme” maya hadir. Meskipun dalam praksisnya nyaris selalu berakhir absurd.

Apakah karakter masyarakat maya memang begitu? Mereka memang ingin “do it something”, namun disisi lain mereka juga punya kehidupan nyata yang harus diurus sepenuh-penuhnya. Dan saat “aktivisme” maya itu berjalan bisa saja salah satu “aktivis” itu  mengundurkan diri ditengah jalan, sebab memang kehidupan nyata meminta untuk penuh dan utuh.

Lalu apa anehnya ketika semua itu terjadi? Easy come. Easy go. Semudah itu. Secetek membuat mie instan.

Jika diadakan pertemuan dalam dunia nyata pun, ku kira tidak akan mengubah apa yang sudah ada? Sama saja dengan sebelumnya. Kecuali menambah pertemanan, tapi ini pun masih diragukan bukankah sebelumnya sudah terkoneksi antara satu dan lainnya? Dan jika beruntung, terjalin persahabatan, dan jika super beruntung, mendapat pasangan hidup.

Dalam hal gerakan politik. Tak dapat disangkal jika twitter berjasa besar atas kemenangan Obama, Jokowi, dan lain-lainnya. Tak dapat disangsikan jika para hacker itu menjadi pahlawan untuk suatu agitasi politik. Namun untuk sebuah “aktivisme” yang mengharap intensitas didalamnya bagiku rasanya kurang pas saja. Jangan harap akan ada keintiman. Jauh.

Sungguh “aktivisme” maya itu absurd sekali. Mau dibawa kemana? Tidak akan ada yang tahu. Absurd. Atau barangkali apa yang sesungguhnya terjadi hanya saling butuh jalinan pertemanan saja karena dalam kenyataan dikurung kesepian. Mengingat pada umumnya para pekerja “teralienasi” dari lingkungan sehari-hari. Sehingga mereka dahaga komunikasi. Bukan kebetulan jika sosial media menawarkan interaksi sosial dalam bentuk lain. Tapi teuing lah lieur aing oge….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s