Sekilas Tentang “Creep”

Sepertinya lagu ini menjadi soundtrack hari ini. Betapapun penulis liriknya (Thom Yorke) sendiri menganggap bahwa lagu ini adalah lagu yang paling menjijikan yang pernah ia bikin. Lagu ini memang sesumbar akan ke-galau-an seseorang. Seperti diriku. Ya, memang. Aku sedang galau. Galau yang personal. Menurut KBBI ga·lau, ber·ga·lau, ialah sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran); ke·ga·lau·an dan sifat (keadaan hal) galau. Boleh juga dibilang lagu ini tentang “kegalauan” total. Terlebih karena wanita! Anjisssssss! Weirdo kieu aing…. Setuju sekali kalau lagu ini memang ultra-“menjijikan”. Cuih! Cuih! Cuih! Ku rasa ini adalah hari terakhir aku menyetel Creep.

Namun, secara penghayatan harus ku akui lagu ini berkompeten menyeret pendengar pada lembah frustasi hiperbolis. Sewaktu aku menerobos hutan you tube secara tak sengaja aku melihat seorang penyanyi perempuan membawakan Creep dengan penuh penghayatan. Range-dynamic komposisi musik mengombak-ombakkan telinga dan isi dada. Plus arrangement semi jazz, semi pop-rock yang terdengar pas. Hanya saja tak sampai pada nuansa Gloomy Sunday-nya Rezsco Serres yang super dark-jazz, full of depreshit. Meskipun potensi ke sana sebetulnya tetap ada di lagu ini.

Pada saat mencapai klimaks di part “she’s runing out again…run…run….run”, hawa depresi lagu ini tertularkan dengan sukses. “Ya. Aku depresi. Frustasi. Sakit hati. Remuk. Hancur. Berkeping-keping. Berkeping-keping. Karenamu.” Begitulah kira-kira kalau dibahasakan dengan kata lainnya. Terdengar seperti “manifesto” anak-anak SMA era digital seperti sekarang. LOL :p

Thom Yorke memang vokalis ajaib, ia salah satu penyanyi favoritku selain Denis Lyxzen. Thom mengadopsi Dada cut-up style dalam menuliskan setiap liriknya. Di mana sebuah teks dipotong-potong sedemikian rupa ke bagian-bagian yang lebih kecil secara acak, untuk kemudian dibentuk kembali dalam sebuah teks baru. Dan selamat datang di alam magis yang amat personal. Sedang Lyxzen menulis lirik perlawanan total pada sistem yang tak beres dengan radikal-intelektual nan jenius (terutama saat masih di Refused). Penjaga gerbang kewarasan. Kadang aku bermimpi gimana kalau mereka bikin project album bersama saja? Seperti Clive Cusler drumer Portishead yang berkontribusi untuk album The King of Limbs, Radiohead.

Apa jadinya hard-core punk revolusioner dipadu dengan pop is dead yang tak jarang berbentuk elektronis eklektis ala Kid A atau TKOL? Tentu bakal menawarkan sesuatu yang menyegarkan di ranah musik. Pastinya bukan wacana yang membosankan untuk dibahas. Tapi konyol juga sih…..terlalu jauh...Come what may, sekonyol apapun impianku akan kolaborasi mereka tentunya tak sekonyol pada pilihanku untuk tak perlu lagi menyetel Creep selama-lamanya. *Kok jadi panjang begini…
image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s