Month: June 2013

Wawancara Kepulangan Kelima

Di sela-sela kesibukannya sebagai owner Indie Book Corner, menulis, giat di forum-forum sastra, dan masih banyak lagi segudang aktivitas lainnya. Irwan Bajang merelakan waktu luangnya untuk saya grecoki. Haha. Terkait dengan karyanya, album musikalisasi Kepulangan Kelima. Saya lakukan semua itu atas nama passion to art and sains. Beruntung dia tidak keberatan. Meski agak terlambat merespons email yang saya kirim 5 hari yang lalu dan beberapa pertanyaan ada yang terskip. Karena memang terlalu teknis untuk dijelaskan di sini. Namun sama sekali bukan masalah penting. Jika Irwan mengatakan menulis puisi itu untuk bersenang-senang, maka dibuatnya sesi interview ini juga untuk bersenang-senang. xoxoxo…🙂

***

Saya tak cukup paham dengan puisi, kecuali mungkin merasai setiap diksi-diksi didalamnya, sebagai contoh yang saya kutip di puisi Kepulangan Kelima; “tak ada yang bisa mengkhianati kenangan, meski kita telah gagal menyelamatkan perasaan masing-masing”, menurut Anda apakah puisi itu?

Puisi, bagi saya pribadi adalah sebuah jalan untuk bersenang-senang. Saya senang saat saya  menulis puisi. Sama kayak pemain bola atau penunggang kuda bahagia saat melakukan aktivitasnya. Tentunya sebagai penulis yang karyanya akan dibaca orang lain, saya juga harus memikirkan bagaimana kesenangan saya menulis puisi ini bisa menyentuh dan menyenangkan orang juga. Pemain bola harus bikin gol indah agar penontonnya bisa teriak dan senang. Setidaknya pengalaman saya dan pembaca pasti banyak bertemu pada beberapa titik. Nah, titik itu yang mati-matian dicari oleh seorang penulis. Titik pertemuan, di mana pengalaman penulis, pengalaman pembaca bertemu. Di pertemuan itu impresi kita bertemu dan kita seolah mengalami kejadian yang sama. Penulis dan pembaca bertemu dalam sebuah pengalaman menulis dan membaca yang bersinggungan.

Di web Anda terpajang sebuah adagium yang cukup menarik “Ketika semua orang bisa memproduksi bukunya, mungkin kita sudah gak butuh penerbit lagi.” Sepertinya Anda cukup vokal mengajak orang-orang agar menerbitkan bukunya secara indie, jika bukan, self-publish, boleh minta alasannya kenapa? Bukankah lebih baik dicetak dan diurus oleh penerbit-penerbit besar, mengingat profitable yang menggiurkan menanti di hari depan? 

Saya memulai karir menulis saya hitungannya tanpa bantuan siapapun secara langsung. Memang ada guru bahasa Indonesia sewaktu sekolah. Tapi dalam proses selanjutnya saya yang mencari sendiri pengalaman menulis, saya membaca sendiri, saya menemukan kegembiraan dan kenikmatan sendiri di sana. Nah, di awal, buku pertama saya cetak sendiri dengan sangat sederhana. Saya layout, bikin cover dan distribusi sendiri dengan teman-teman. Saya menikmati sekali situasi itu. Novel saya pernah diterbitkan oleh penerbit mayor juga, namun toh akhirnya saya balik ke jalan saya semula. Saya itu suka sekali tantangan, nah, menerbitkan buku sendiri, mendatangi pembaca sendiri itu menantang bagi saya. Saya suka dan saya jalani deh 🙂 .  Dalam beberapa kasus sebenarnya tidak ada yang berbeda antara penerbit konvensional dan menerbitkan buku secara indie atau mandiri. Hanya masalah siapa yang mendanai, siapa yang menjual dan share keuntungan aja. Selama ini saya lebih merasa diuntungkan dengan menempuh jalan menulis dan menerbitkan sendiri. Baik secara waktu, idealisme, sebaran buku, hak dan hasil secara finansial ataupun non finansial. Makanya saya sering kampanye menerbitkan buku sendiri. Siapa tau ada yang suka, ada yang nyaman, jadi bisa nambah banyak teman sharing lagi :). Royalti penerbit 10%, royalti saya 80% dari harga jual buku. Kalau hitung matematis, pendapatan saya jauh lebih banyak sih. Tapi menulis kan nggak semata-mata untuk itu. Ada banyak maksud lain selain kepentingan finansial.

Selain menulis puisi, cerpen, esei, dan mengurus Indie Book Corner apakah Anda juga bisa memainkan alat musik? Jika iya, apa? Apa yang mendorong anda untuk memasukan unsur musik dalam puisi ini?

Saya nggak bisa main alat musik, ngggak bisa nyanyi. Heheh. Tapi hidup saya ditemani musik sejak lahir. Sejak SD ayah saya sudah meracuni saya dengan banyak sekali jenis musik, terutama rock, sampai sekarang saya suka musik. Nah karena saya nggak bisa, maka saya kolaborasi. Kalau saya paksakan, bisa hancur deh karya itu. Hahahaha. Nggak semua orang suka baca puisi, nggak semua orang suka baca buku, buku Kepulangan Kelima saya maksudkan untuk menyentuh lebih banyak audiance, kalau nggak suka baca, denger aja tulisan yang dibacakan atau dinyanyikan. Pesan dan pengalaman saya mungkin bisa saja tidak sampai seperti apa yang saya maksudkan saat menulis, tapi bisa jadi juga sampai dengan lebih cepat, lewat jalan yang nggak saya pikirkan sebelumnya. Perkara itu kan, hak pembaca. Masak sih saya udah nulis sendiri, saya mau mengarahkan pembaca lagi untuk memahami sesuai mau saya. Saya ini siapa?

Seberapa besarkah kecintaan Anda terhadap musik?

Seperti jawaban saya di atas. Ayah saya suka musik, tiap hari saya mendengarkannya dan sampai sekarang susah sekali hidup tanpa musik. Hehehe. Gini gini SMA saya punya band, lho. Tapi band yang kacaulah, hahaha. Untung aja bandnya bubar, kalau nggak bubar saya bisa saingan sama Kangen Band.

Musik dan puisi manakah yang paling Anda sukai di album Kepulangan Kelima ini?

Saya menikmati semuanya, Ari KPIN mengekspresikan apa saja terserah dia dan bandnya. Saya nggak ikut campur bagaimana warna musiknya, keceriaan atau kesedihan yang ia sajikan lewat alunan musik, semuanya terserah kolaborator. Ari saya posisikan sebagai pembaca, bukan rekan penulisan puisi, meskipun beberapa puisi saya ada yang diberi masukan juga dan dikoreksi. Saat proses berlangsung, saya masuk menjadi bagian dari bandnya aja, bukan sebagai orang yang menulis puisi lagi. Saya suka Rinjani, Bangun Tengah Malam, dan Merah Padam Wajahmu. Banyak puisi yang saya tidak duga pemaknaannya bisa berbeda. Itu lucu, menyenangkan dan penuh kejutan.

Apakah Anda cukup puas dengan Album musikalisasi puisi ini, bagaimanakah proses  kreatifnya? Mengingat Anda,  Ari KPIN, dan Octora Guna Nugraha berada di kota yang berbeda dengan Anda?

Puas sekali, sampai menjelang album ini jadi saya tidak pernah berjumpa dengan mereka. Semua dilakukan jarak jauh, bahkan saya rekaman suara sendiri di kos. Hasilnya saya kirim via email dan dimusikkan, digabungkan oleh Ari KPIN. Menjelang Album rampung saya ke Bandung, jumpa sebagai teman dunia maya di dunia nyata. Kenalan, ngobrol-ngobrol dan finishing album Kepulangan Kelima. Lalu jadi deh. Hehehehe. Itulah kekuatan generasi cyber. Gak perlu jumpa, nggak perlu saling kenal, tapi kita bisa kerjasama.

Apakah Anda juga turut campur meracik komposisi setiap track di album ini?

Nggak, semuanya murni Ari KPIN. Saya itu pengen belajar musik, karena saya nggak bisa.

Apa yang Anda pilih puisi atau musik?

Puisi donk.

Rinjani, lagu ini begitu sunyi dan sepi, semacam kontemplasi total (setidaknya menurut saya). Manakah yang lebih dulu dibuat, puisi, atau komposisi musiknya?

Musikalisasi itu lahir dari puisi. Induknya puisi yang sudah jadi. Musik takluk pada puisi, Ari berjuang menemukan nada yang pas, intonasi yang pas. Semua puisi sudah jadi dan nggak diubah satu titik pun oleh pemusiknya. Itu perbedaan lagu secara umum dan musikalisasi puisi. Puisi jadi, si pemusik membuat puisi ini menjadi lagu.

Terakhir Bung, seandainya saya atau mereka ingin menulis buku secara Indie apakah yang harus dilakukan sebelum naik cetak karena mungkin kebanyakan dari kami takut tidak laku bukunya jika sudah dicetak, sehinga kerugian (secara materi) atasnya pun tak dapat dihindari, bagaimanakah mengantisipasi hal tersebut menurut Anda?

Belajar menulis yang bagus! Itu tugas pertama seorang penulis. Buku bagus memang belum tentu laku. Tapi buku bagus nggak laku lebih terhormat daripada buku jelek yang laris. Hm….., kenapa takut rugi, kan buku bisa diproduksi 1 eksemplar saja. Kalau nggak pesen ya nggak usah dicetakin. Hehehe. Atau kalau mau bener-bener bukunya dicetak banyak, kerjasama sama marketing, komunitas atau media untuk publikasinya. Intinya itu sih.

Terima kasih Bung Irwan atas waktunya. Keep breathing in poetry, a poetry, and poetry for many people. Tabik!

An

“kita terjebak pada sebuah harap/ tersesat dan enggan pulang/ angin yang terperangkap di lapang cakrawala/ senyala hari-hari gegap/ pada embun daun-daun/ kita raih butiran pagi/ rebah segala resah”

Perjalanan Pendek

Semalaman bulan dan bintang menyala berbarengan serupa harapan agar hari esok lebih indah dari hari ini. Alam semesta masih mau berbaik-baik dengan memberi secuil keindahan di tengah ketidakadilan dunia pada wajah-wajah tak berdosa di pesisir pantai selatan Jawa sana.

Aku hanya dapat menyisipkan seberkas doa dalam sanubari yang entah terkabul atau tidak, semoga perjuangan petani Kulon Progo membuahkan hasil yang diharapkan. Dapatkah warga Kulon Progo merasai keindahan alam meski satu malam saja, seperti keindahan yang dapat kurasai malam itu?

Kadang-kadang aku juga merasa gemintang dan rembulan gemerlapan itu serupa juga harapan lelaki pada seorang perempuan. Atau juga harapan perempuan pada seorang lelaki. *WEWW!!!*

***

Kota ini memang tidak pernah benar-benar ramah. Namun pagi ini nampak cerah, matahari terlihat gagah saat menyembulkan sinar yang tak berkesudahan dari jarak jutaan kilometer jauhnya dari tempat di mana kami bernafas dan berjuang melawan hari-hari menyebalkan.

Kota kembang menanti untuk disinggahi. Pure Saturday sudah pres konfrens perihal konser pasca 19 tahun eksistensinya, sebuah pencapaian yang tidak mudah dilalui bagi siapapun mereka yang menasbihkan diri di jalur indie. Konser akan diselenggarakan di teater tertutup Dago Tea House minggu besok. Untuk banyak alasan kukemudikan motor batmanku menuju ke kota itu yang sesungguhnya mendapat tempat istimewa bagi kalangan muda-mudi tanah air. Kota yang sempat mendapat predikat pusat intelektual dunia di era kolonial. Sebelum semuanya nampak berubah dan menyesakkan.

Perjalanan nampak seperti biasa. Macet dan hal-hal sebangsanya. Ditambah dengan visualisasi ga penting yang berdiri hampir sepanjang jalan merusak pemandangan mata. Para kader partai terpampang dengan sloganeering yang tidak bisa dipercaya. Tak berbeda jauh dengan program televisi. Aku mengambil jalur Cikarang-Karawang-Subang-Lembang dan singgah sebentar di rumah saudaraku yang ada di Subang.

Subang memang telah lama punah keindahannya. Tak ada kesan-kesan ramah didalamnya. Seperti kebanyakan masyarakat industri yang berjuang mempertahankan hidup pada batas kata “work hard, play hard” saja, di mana individualisme beradagium isi perut menjadi dasar-dasar sosial-ekonomi yang seolah-olah masuk akal dan dapat diterima begitu saja. Sambil berisitirahat di tempat saudaraku, lekaslah aku membuka email karena ada yang ditunggu, namun ternyata email yang kutunggu itu belum juga datang. Lanjutlah aku membuka twitter, dan tercengang bukan kepalang.

Time line dipenuhi umpatan pada seorang panglima ormas ga penting yang menyiram muka seorang sosiolog saat sedang beradu argumen, si panglima nihilis itu tak mau mendengar argumen sang sosiolog. klik video ini agar lebih jelasnya. What the hell, dude! C’mon… Tapi jika mengingat sejarah kemunculan ormas tersebut memang hal semacam itu dapat jadi sesuatu yang wajar-wajar saja. Tidak aneh lagi. Seharusnya aku pun tidak usah kaget juga. Namun aku hanya cemas pada generasi setelah kami jika melihat tragicomedy macam begini. What’s the point? Do you think social revolution from ormas will began because water spray… Ah, lagi pula perlukah aku cemas begitu? #prettt

***

Matahari perlahan mulai turun, pertanda waktu siang akan bertukar sore. Sekitar setengah tiga aku berpamitan pada saudaraku dan lekas melanjutkan perjalanan. Dari Subang aku melewati arah Lembang. Hawa di Subang tak berbeda jauh dengan Bekasi, panas menyengat. Seperti biasa menjelang weekend mobil berplat B memadati jalur menuju Bandung. Saat memasuki Ciater langit sudah tak tahan menumpahkan air. Hujan deras pun tiba. Aku sudah mengantisipasinya dengan membawa jas hujan. Sehingga hujan bukan masalah yang serius bagi perjalananku. Masalah bagiku saat perjalanan adalah baliho dari partai-partai ga penting yang merusak pemandangan daratan alam yang seharusnya lebih indah tanpanya. Itu saja.

Memasuki Ciater udara terasa lebih segar. Asupan oksigen dari pepohonan amat terasa oleh tubuhku. Melegakan memang. Sesuatu yang tidak mungkin didapatkan di kota industri manapun. Ini lah sesungguhnya kebutuhan esensial seluruh makhluk hidup selain makan dan minum, mendapat asupan oksigen dan mengeluarkan karbondioksida secara adil dan sirkular. Di mana manusia, hewan, dan tumbuhan saling memberi dan menerima. Sesederhana itu memang keadilan dan keindahan itu. Take and give. Namun keserakahan segelintir minoritas menjadi baja keangkuhan atasnya.

Dan hujan sama sekali berhenti saat aku sampai di Lembang. Baguslah, pikirku.

Saat perjalanan aku cuma memutar musik dari dua grup yang kerennya kelewatan, Pure Saturday dan Radiohead. Ketika perjalanan dari Bekasi ke Subang Pure Saturday terus menemani. Dari album pertama mereka hingga Time for a Change Time to Move On. Sedang dari Subang sampai menuju Bandung album In Rainbow Radiohead terus terngiang di telingaku. Haih… Ga bosen-bosen sama Jigsaw Falling Into Place

before you run away from me/ before you lost between the notes/ the beat goes round and round/ the beat goes round and round/ I never really got there/ I just pretended that I had/ what’s the point of instruments/ words are a sawed off shotgun….

Gambar

Kepulangan Kelima: Kerinduan Itu Menyergap

Sebuah album musikalisasi puisi yang cukup menarik. Karya Irwan Bajang yang juga seorang pemilik Indie Book Publishing Yogyakarta dengan label; Indie Book Corner. Irwan juga dikenal sebagai penggiat sastra. Ini adalah proyek kolaborasi yang tergolong unik. Tak banyak penyair berani memproduksi album musik puisi sendiri seperti yang Irwan lakukan hari ini. Ari KPIN penggiat musik puisi asal Bandung dan Illustrator Oktora Guna Nugraha menjadi kawan kolaborasi Irwan. Sekilas melihat cover album ini tadinya aku mengira ini cuma musikalisasi puisi saja, ternyata tidak, ia lebih dari itu; bisa dibaca, didengar, dan dilihat.

Seketika pun gaungan komposisinya mengingatkanku pada Iwan Fals era 90’an yang dimix dengan Mukti-Mukti Mimesis Soul. Juga tak luput sentuhan maut Jeff Buckley menyadur Led Zepelin dalam melodi dan petikan gitar yang minimalis. Sendu-liris-merindu. Dibalut dengan balada rawkustik yang menghadirkan senyawa sunyi-sepi yang maksimal. Suara Ari KPIN yang khas terasa pas dilatari deklamasi puisi Irwan. Seketika juga menyeret isi kepalaku pada sebuah romantisme akan kampung halaman dibawah kaki ciremai sana. Aku hanya mampu merasai apa yang diperdengarkan dari track ke track yang terdapat di album ini. Bukan menafsirkan puisi-puisi didalamnya.

And this is the effect…

Romantisme Sawahwaru

Bagi kami -anggota Karang Taruna- merayakan hari kemerdekaan adalah sesuatu yang niscaya. Setiap menjelang kemerdekaan, ketua RT, pak RT, hingga warga beramai-ramai mempersiapkan hari itu. Meski sejarah dalam buku-buku sekolah sesungguhnya mengabarkan apa yang tidak kami kira. Menyewa panggung pun sebuah keniscayaan. Hasil dari udunan warga. Prinsip ekonomi yang seharusnya tidak tergerus teori akumulasi modal yang merusak elemen individu dan masyarakat hari ini.

Waktu itu warga pun wajib untuk menampilkan kemampuannya diatas pentas kelak, entah itu nge-band, berpuisi, bernyanyi, menari, dan yang lain-lain. Sebelum pentas digelar, hampir setiap malam kami -lelaki perempuan, berkumpul disebuah ruangan milik warga membahas persiapan untuk hari esok, tak jarang kami bernyanyi bersama-sama disana. Sesekali sambil memperdengarkan puisi ekspresif yang muncul begitu saja dari mulut. Menghadirkan tawa yang memorable, tentu saja.

Kawan-kawan dilingkup RT adalah fanboys Iwan Fals akut, dengan begitu menyanyikan lagu-lagu milik Iwan Fals dari Bongkar, Ibu, Bento, Mata Indah Bola Ping-Pong, sampai Yang Terlupakan adalah tidak bisa tidak. Bergelas kopi, berbungkus rokok, kue, dan sudah pasti gegorengan dan sebangsanya tersedia. Masa-masa itu pun seakan dibetot kembali dalam sentuhan liris sebagaimana penggalan puisi Bangun Tengah Malam yang ditaburi melodi khas bernafas balada, persis menjelang lagu menemu akhir; Ohh…Seperti aku merindukan malam masa-masa kecilku yang penuh dongeng….

Belum cukup sampai disitu kerinduan ngungun itu direngkuh lagi dalam puisi Pagi Insomnia dan Seorang Pemuda yang Kehilangan Separuh Hidupnya; disini, aku menunggu separuh kenangan/ tentang malam khusyuk di balai-balai sawah dekat sungai/ dan kuburan kampung tanah kelahiran/ kucari separuh kenangan yang hilang, saat aku mengajak pohon-pohon kelapa rukuk sujud beserta semesta….

Puisi lainnya pun berpotensi menyesatkan pada kerinduan yang tidak mungkin untuk diraih lagi. Ah, sesungguhnya nostalgia itu memang mengandung racun, meminjam adagium Milan Kundera; “The more vast the amount of time we’ve left behind us, the more irresistible is the voice calling us to return to it.” Perkawinan kata dan musik dapat jadi merupakan mesin waktu yang nyata namun fiksi. Sehingga cukupi saja catatan ini dan rasakan saja puisi-puisinya. 🙂

Gambar

Kyshera?

Cukup lama aku tak menyimak sound musik yang bernafaskan grunge, kecuali mungkin Navicula, itu pun masih sesekali. Dan belakangan adalah Nickleback, itu pun karena diingatkan lagi oleh seorang teman baik yang sebelumnya nyaris lupa bahwa band itu eksis. Pasca bermain ping-pong barusan, aku iseng membuka twitter, dan dideretan Follower terdapat nama yang sama sekali asing ditelingaku; Kyshera, yang ternyata komplotan grunge asal Cardiff, Wales, UK.

Masih teringat dengan baik sekitar awal 2000’an (waktu itu masih SMP) aku dan kawan-kawanku termasuk getol mengakrabi Nirvana, setidaknya Nirvana dianggap sebagai Mahadewa grunge saat itu. Sosok Kurt Cobain sudah seperti pahlawan di kalangan ababil seperti kami, remaja, hingga dewasa. Barangkali ada kemiripin antara Cobain dan Sid Vicious, yakni; brutal diatas pentas, dan sama-sama mati secara mengenaskan. Sebagaimana sesuatu yang ‘brutal’ memang dianggap keren oleh muda-mudi saat itu. Dengan begitu sedikit banyak mereka memberi pengaruh terhadap konsumsi pendengaranku di hari-hari berikutnya.

Kembali ke Kyshera. Ada yang menarik di biografi akun twitter-nya yaitu; Band. Konic. Real. This is a movement. Join the Resistance. Aku mencium bau-bau ultra-politis disini. Di lini masa-nya terpampang lagu yang ber-tittle: Know Your Enemy. Sekilas seperti judul propaganda berbahaya milik Rage Againts The Machine. Segeralah aku mendengar lagunya via you tube: klik. Benar saja ini lagu memang berbahaya seperti sengaja dibuat untuk menggerakan sesuatu. Meski memang kini aku kurang begitu suka dengan musik-musik macam begitu.

Namun rasa penasaran masih terngiang dikepala, aku pun langsung mengecek website-nya: This. Kemudian, masuk ke kolom about band yang cukup menarik perhatianku; Defining some bands is hard. Defining Kyshera is impossible. “Yet for once, a band who’s declaration that they’re revolutionary innovators might just be right!”, agree’s Classic Rock Magazine. Instead of trying to squeeze into an existing musical scene, Kyshera simply invented their own. A scene with no limits and no rules. So they invented the term ‘Konic’ to mean ‘Anything which is otherwise indefinable and defies categorisation’ and that is how you define this band. Freedom nampaknya ingin ditegaskan oleh mereka. Pendengar dapat secara bebas mendefinisikan tentang mereka kayak apa.

Wah. Belum lima paragraf nih…. 🙂 Aku butuh satu paragraf lagi untuk menyelesaikan catatan ini. Oke. Begini saja, aku sering mendengar orang berkata musik itu jangan dikaitkan sama politik lah, musik ya musik, politik ya politik. Terdengar sejenis dengan adagium J.F Kennedy; Jika politik kotor puisi membersihkannya. Benarkah, lebih tepatnya, senaif itu kah? Sampai-sampai menafikkan kenyataan bahwa musik dan politik itu tidak berkorelasi. Seandainya tidak, mana mungkin Koes Plus ditangkap rezim Orde Lama cuma dengan alasan; Ngak…. Ngik…. Ngok….

In Rainbow #1

Aku tak biasa berpergian kemana-mana tanpa mendengar musik terlebih dahulu. Tak terkecuali dalam perjalanan. Aku merasa kesulitan untuk ‘mencipta’ sesuatu tanpa mendengar musik sebelumnya. Entah secara intens atau seketika saja. Musik sudah menjadi bagian ‘kegilaanku’ mengakrabi hari dengan rasa apapun. Dan memang hidup terlalu tidak berguna untuk dihabiskan mendengar musik-musik sembarangan.

Entah di bulan apa aku mendapat handphone Samsung Android Galaxy Young, tepatnya ditukarkan dengan handphone sebelumnya. Kemungkinan diawal tahun. Ah, aku tak dapat mengingatnya dengan baik. Karena memang untuk apa pula diingat-ingat yang begituan. Namun yang jelas ketika aku mendapatkannya, telah aku jejalkan didalamnya album-album musik yang menurut telingaku layak dengar dan menawarkan sensasi artistik yang terlalu sompral bila dikatakan butut. Diantaranya adalah Album In Rainbow Radiohead CD 1 yang diproduksi 6 tahun lalu. Aku memang mengenal album ini di 2010 lalu, better late than no, anyway. Huaha…

Namun, bodohnya, waktu pertama kali mengetahui aku tak menganggap ini adalah album penting transisi Radiohead dari image ‘digital minded’ ke konvensional, begitulah majalah Pitchfork menyebutnya. Mengingat tak sebanding dengan si kembar siam Kid A dan Amnesiac yang totally digital, apalagi bila disandingkan dengan Ok Computer yang cukup berbahaya dengan Paranoid Android-nya. Atau mellowis ‘provokatif’ ala No Surprises-nya. Jauh di konsep jauh di rasa.

Kala itu aku hanya lalu lewat begitu saja ketika mendengar setiap track di album ini. Kebodohan memang nyaris selalu menyebalkan. Tapi ya sudahlah, musik harus tetap diputar walau menemu jeda, layaknya hidup yang harus tetap berlanjut yang juga menemu jeda, namun sedikit meminta dituliskan.

Ini memang bukan review. Namun sebuah upaya untuk mengenalnya lebih jauh. Merasai sensasi disetiap tracknya memang semacam mendengar Novel fiksi mini klasik, syarat dinamik, yang kadang memunculkan ‘endemik’ seperti yang terdapat di track videotape. Selain itu telah terjadi ‘keanehan’ setiap aku ingin menghapusnya dari palylist handphone. Sesuatu yang jarang aku lakukan. Tiap kali ingin menghapus dan menggantinya dengan yang lain pikiranku selalu menegasi dengan hardcore. Mengingat aku ini termasuk orang yang mudah bosan.

Seprogresif apapun Refused di album The Shape of Punk To Come ia pernah aku hapus dan diganti dengan yang lain meski ku masukkan lagi. Sekontemplatif apapun Pure Saturday ia pernah ku hapus. Dan se-anti-imperialis apapun Homicide ia pernah ku hapus juga walau ku masukkan kembali. Sedang In Rainbow ia masih tetap eksis menemaniku kemanapun aku pergi dari semenjak aku punya Galaxy Young.