Inspiration Today #2

#Np Burial at Sea ~Mono

Baiklah lupakan hari-hari kemarin yang penuh “kegalauan”. Langkah harus tetap tegak dan meminta untuk bergerak. Minimal sudah ada tindakan untuk memperbaiki kekhilafan, toh, jika memang nir-hasil itu hal lain yang mesti diterima. Kehidupan lain masih menanti untuk dirayakan. Passion masih harus tetap ditularkan. Tanpa kecuali.

Berbagi buku (bekas) dapat jadi pula berbagi inspirasi. Seperti hari ini dimana aku mendapat seorang kawan baru. Kami banyak mengobrol tentang dunia tulis-menulis. Meskipun aku sendiri tidak cukup pintar dalam tulis-menulis.

Awalnya, kawan itu bercerita seputar dirinya yang konon cuma lulusan SD, ia merantau ke kota Bekasi untuk mencari nafkah, bekerja dimana saja; jadi pemulung dijabanin, tukang kebun juga iya, office boy apotik dihajarnya, karyawan pabrik hingga di PHK, sampai tukang bakso keliling seperti sekarang. Bisa dibayangkan betapa hidupnya penuh dengan perjuangan. Sesuatu yang sesungguhnya amat mulia.

Obrolan pun terus berlanjut, kelakar tawa tak jarang mengiringi dengan sewenang-wenang. Sore sudah tak sabar ingin bertukar posisi. Tak ketinggalan beberapa kawan lainnya nampak khusyuk mengobrol tentang apa yang menjadi minatnya.

Meskipun demikian ia sering membaca buku, sehingga terangsang untuk menulis sesuatu. Bahkan, katanya, suatu ketika cerpennya pernah dimuat di koran. Hanya bukan beratasnamakan dirinya a.k.a karyanya dicuri oleh seorang redaktur koran tersebut. Ia berang karenanya dan tak pernah lagi mengunjungi redaktur koran itu.

Katanya juga, ia menulis sebab sangat terinspirasi oleh salah satu Novelis Tanah Air yang tak mengenyam pendidikan setinggi angkasa, namun meraih keberhasilan secara ekonomi karena kerja keras dan cerdas. Ia pun kenal dengan Si Novelis itu dan suka berkonsultasi padanya dalam hal teknik tulis-menulis. Hubungan antara fans dan artist yang terdengar tanpa barikade.

Gradasi langit mulai berubah agak kehitam-hitaman. Suara adzan maghrib berkumandang menyusupi telinga. Ada yang bergegas memasuki masjid untuk sembahyang. Ada yang tetap asyik melanjutkan obrolan. Seperti kami, dan beberapa kawan lainnya.

Terdapat hal menarik dari proses kreatif kawan itu ternyata ia tak mampu menggunakan PC atau laptop dengan baik saat menulis. Ia menulis secara manual diatas kertas, use a pen. Ajaib!

Ku kira ini sangatlah langka, jika tak mau disebut mainstream, mengingat hari ini adalah abad dimana orang-orang dapat dengan jumawa membangga-banggakan gadget, smartphone, laptop, PC yang paling prestisius dihadapan kawan-kawannya. Sangat memalukan jika ditemukan nihil karya didalamnya. Maka pantas lah saja ditempeli label tepat di jidat mereka bahwa “aku adalah spectacle society, harap maklum.” Konsumeristis akut yang nyaris tak dapat ditemui obatnya. Masyarakat badut. Pasif. Terseret pada vicious circle oposisi biner, capitalism rules! Oke, cukup segitu saja kalimat yang seolah-olah keren dan seakan-akan intelektual. XD

Orang tak perlu mengoceh dan mengeluh untuk menciptakan sebuah karya. Nir-fasilitas, nir-uang, atau nir apapun. Orang hanya perlu produktif dan punya passion terhadapnya. Karena, toh, dimanapun kalian berada, apa pun medianya, jika mampu menghasilkan karya yang bagus (dalam hal ini menginspirasi) maka cepat atau lambat dunia akan mengetuk pintumu. Ohya, berjejaring itu penting. Good job!
image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s