Minggu Pagi dan 2 Juni

“ku tenggelam dalam kelam dan menjauh tanpa bayang ku coba menelan luka yang tak kunjung usai” #Np Tiga Titik Hitam ~Burger Kill

Ritual minggu pagi biasanya aku menyetel musik-musik keras; dari heavy metal hingga metal core, dari old-school hard core sampai hard core-punk revolusioner. Tentu saja bertemankan segelas kopi dan kepulan asap rokok. Memikirkan hal-hal apa yang harus aku buat hari ini dan esok hari. Atau juga menemani beres-beres kontrakkan yang sesungguhnya jauh dari dikatakan beres. 🙂

Namun, nampaknya hari ini ada yang spesial, setidaknya bagiku. Di mana bertepatan dengan tanggal 2 Juni. Ya. 2 Juni, tepatnya 2 Juni 1897, telah lahir ke dunia seseorang yang sangat menginspirasiku agar hidup tetap tegar betapapun busuknya dunia ini.

Adalah Ibrahim Datuk Tan Malaka. My Saviour! Yang telah mendapat tempat yang tinggi dalam pikiran dan sanubariku. Jika aku dapat mempersembahkan sebuah lagu untuk beliau maka Tiga Titik Hitam adalah manifestasi krisis eksistensial diriku pada tahun-tahun lalu yang ingin kuperdengarkan padanya. Hingga aku menemukan harta karunnya yang dinamai Madilog, yang membuat dunia menjadi nampak lebih cerah dan berpribadi.

Terlalu dangkal untuk dikatakan catatan sampah ini sebuah persembahan untuknya. Sangatlah tidak patut. Karena tidak mengandung wacana intelektual sedikitpun. Ini hanyalah curahan pribadi. Yang merasa telah terselamatkan dari invasi kultural dark ages karena karya monumentalnya, Madilog. Terima kasih untuk itu. Terima kasih.

***

2011 adalah tahun di mana aku menyerupai seorang bayi yang belajar merangkak, terjatuh, berjalan, kemudian berlari. Untuk terjatuh lagi. Aku berada di tengah keangkeran organisasi dark ages yang dilandasi ratusan metode logika pesugihan purbakala dalam strukturalnya. Di mana manusia baru mengenal nama-nama dan baru mampu membuat papan nama-nama -anggaplah saja demikian. Belum cukup sampai di situ, gaya feodalisme stadium 13 pun turut memberkati. Aku dicengkeram oleh segerombolan mafia; dari paranormal, salah seorang dosen, kapitalis kecil hingga besar, sampai pejabat tinggi militer. Hal itu membuatku tak punya nyali untuk keluar dari sana. Karena bila ada yang pergi ultimatum dunia astral pun ditembakkan.

Semuanya berwacana tentang aset Indonesia yang tak sedikit itu, dan konon harus lekas dicairkan. Angka aset itu tertulis disebuah dokumen yang terdiri dari nama-nama. Union Bank of Swiss adalah sebuah Bank yang menyimpan aset, KONON. Aset itu masih berbentuk collateral dan atau obligasi. Sehingga kami harus mengorganisir prosesi pencairan aset. KONON pula aset itu peninggalan leluhur bangsa Indonesia.

Sialnya, aku mempunyai hobi membaca. Hingga suatu ketika aku bertemu dengan Mahakarya Madilog yang mengubah segala-galanya. Aku pelajari ulang cara berpikir mereka, kucocokkan dengan pengetahuan yang kudapati. Semacam rehearse. Sampailah pada penegasian purna, “kalian pergi saja ke neraka”. Ya. Karena itu memang KONON belaka sudah dapat dipastikan bahwa tidak ada apa-apa disana. Akun Bank yang ditunjukan padaku adalah akun palsu bikinan mafia-mafia perbankan. Sebagaimana mafia jika digertak dengan pasal 378 saja, tidak akan pernah mampu menyentuh rambutnya sekalipun. Persis peran Steven Siegel dalam film-film-nya.

Pasca membaca Madilog. Sang Nyali kembali kudapati. Malah bertambah. Tak sedikitpun aku gentar pada ultimatum dunia astral. Aku seperti diberkati kekuatan magis. Malah kupantati ultimatum itu. Karena aku yakin dan percaya ‘Tuhan’ selalu berada pada orang-orang yang punya nyali karena benar.

Memang mesti kuakui juga saat memfollow organisasi feodal itu, seterkutuk apapun di dalamnya, masihlah terdapat hal-hal baik yang bisa diperoleh. Meskipun kerugianku dan kami tak sedikit karena perbuatan mereka. Agar menyumbang untuk ini itu. Baik moral maupun material. Tapi apa pula moral itu? Moral orang-orang di hari ini tak lebih dan juga tak kurang mannerisme maksimum cuma. Munafik. Badut tengil. Tak beda jauh sepertiku. Hanya aku tidak badut dan tidak tengil.

Hm. Masih relevankah orang munafik berbicara kemunafikan? Yang jelas dan terasa langsung olehku warisan feodalisme itu memang amat berbahaya. Berbuaya. Dan patut dikebiri dari Bumi Manusia. Feodalisme memicu fasisme yang ultra-terkutuk. Mengertilah aku akan sesumbar Homicide di track Puritan bahwa, “FASIS YANG BAIK ADALAH FASIS YANG MATI.” Hell only requiring fascism. Oke. Cukup sanjung puja-pujinya. Well, experience was very expensive, anyway.

Dengan demikian rasanya jutaan terima kasih tak cukup mewakili kalimat untuk seseorang seperti Tan Malaka yang tak henti-hentinya mengucurkan air inspirasinya. Engkau akan tetap berada pada lubuk dan sanubari kami. Jika boleh berdoa, semoga Tuhan Semesta Alam menempatkanmu di tempat setinggi-tingginya tempat. Greatest respect of all us!
image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s