You’re of What You Wear or What You Feel? or Nothing

Fashion yang bermutu, seperti halnya karya sastra. Ia tak sekedar mendekorasi tubuh pemakainya, seperti buku yang kita inginkan tak sekedar mendekorasi pengetahuan kita. Ia memberi kejutan tinggi tidak klise dan menyuguhi kita lompat artistik tak terbayangkan. Ia memberi pengalaman baru, yang membuat kita merasa hidup kita jadi berbeda, bukan lagi individu yang sama, seperti sebelum mengenalnya. Kata Linda Christanty, di sebuah sosial media.

Oke. Jika dikaitkan dengan busana, sekilas aku perhatikan pernyataannya, memang ada benarnya juga. Bahwa fashion (dalam hal ini busana) yang bermutu itu yang memberi lompatan nilai artistik tak terbayangkan, dan memberi impuls pada pemakainya, minimal membuat ia berbeda, menyadari bahwa ia adalah seorang makhluk individual, dan pastinya bikin percaya diri. Benarkah?

Tak dapat disangkal memang bahwa busana membantu mendefinisikan  dan membentuk kultur popular, yang pada gilirannya, menyetir kultur-kultur dalam ruang lingkup yang lebih besar. Pasca naik daunnya film-film drama Korea, dan atau Jepang, orang-orang di hari ini terutama di level SD-SMA mulai berbondong-bondong mengadopsi gaya rambut dan pakaian mereka. Menggelikan memang mengetahui jika penyeragaman masih berlaku di hari ini. Spectacle.

Dalam pola yang sama industri musik dan busana juga semakin berhubungan dekat. Bagaimana seseorang/grup musik tertentu dianggap ‘Punk’ hanya karena ia berambut mohawk, memakai kaos oblong, pensil jeans, bersepatu converse, dan chord tiga jurus dengan beat cepat. Buatku, ‘Punk’ tak cuma perkara busana dan chord tiga jurus apalagi berambut mohawk, melainkan ‘Punk’ adalah perihal kebebasan merayakan kemandirian, berbagi kewarasan antar kawan, dan tentang kepedulian.

Mungkin juga banyak yang pernah mengalami seseorang melabelimu ‘Grunge’ hanya ketika kamu mengenakan flanel kotak-kotak. Sungguh sesuatu yang jumud. Meskipun pada dasarnya semua trend kultural selalu memiliki komponen busana, seseorang tak dapat mengadopsi peran kultural tanpa mengetahui bagian integralnya. Anda belum cinta Indonesia, sebelum anda memakai batik. Walaupun tak sedangkal itu juga.

Trend busana mempengaruhi secara resiprokal dalam merefleksikan trend sejarah. Fashion is a mirror of history, ujar Louis IV. Hak pilih bagi perempuan di Amerika Serikat, berbarengan dengan naik daunnya trend di kalangan perempuan di mana perempuan mulai mengenakan rok yang lebih mini, pakaian longgar, dan rambut bob. Busana berakselerasi dengan gerak sejarah -bukan hanya berarti busana pilihan tersebut membuat perempuan bergerak lebih cepat dan lincah.

Saat terpilihnya Jokowi sebagai Gubernur DKI, semua orang nampak tercengang tak menyangka. Terutama mafia-mafia birokrat. Namun persetan dengan kemenangan Jokowi dan mafia-mafia yang menentangnya. Yang membuatku tertarik adalah kemeja kotak-kotaknya. Ya. Busana yang menegaskan kultur identitas perpolitikannya. Marketing gimmick.

Dalam artikel yang ditulis Taufiq Rachman, di situs Jakartabeatnet menyebut, kain bermotif kotak-kotak sudah ada sejak awal zaman, namun menjadi populer ketika diadopsi oleh dan menjadi kebesaran bangsa Skot di abad 17, yang kemudian menandakan pemberontakan mereka kepada tirani Inggris, yang kemudian juga melarangnya sejak pemberontakan tahun 1746.  Seperti sudah kusebut di atas, pada dekade 90’an flanel kotak-kotak merupakan simbol pemberontakan grunge terhadap kemapanan. Diafirmasi oleh Kurt Cobain yang nyaris ditiap penampilannya mengenakan flanel kotak-kotak.

Sah-sah saja jika kamu menganggap; Jokowi wanna be hero for Jakarta, with their sloganeering “Jakarta Baru”. Melalui agenda ‘pemberontakan’ dengan memasuki super-struktur pemerintahan. Dan kemeja kotak-kotaknya merupakan the power of symbol the rebellion.

Hmm. Haruskah busana yang aku kenakan memiliki makna dan definisi tersendiri? Karena dari busana juga seorang introvert dapat mengawali interaksi dan komunikasi dengan orang lain dari apa yang ia kenakan. Walau aku bukanlah sosok introvert. Namun aku yakin seyakin-yakinnya, ibu-ibu arisan tak akan pernah mau berbelanja ke pasar dengan mengenakan gaun pengantin. 😀

image

One comment

  1. I discovered your “You&” page and noticed you could have a lot more traffic. I have found that the key to running a website is making sure the visitors you are getting are interested in your subject matter. There is a company that you can get traffic from and they let you try it for free. I managed to get over 300 targetted visitors to day to my website. Check it out here: http://nsru.net/lpti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s