Surat Terlama Yang Pernah Aku Baca

iblis perang hancurkan sedih/ tubuh lelah terkurung gelap/ habis sudah rasa kemanusiaan/ hilang lenyap terkubur umur….” #Np Labyrinth -Pure Saturday

Surat-Surat Kartini. Renungan tentang dan untuk bangsanya. Buku ini tersimpan dalam sebuah lemari milik kakek, berwarna merah dan sudah bulukan. Aku mengambilnya tanpa banyak bicara, lagipula mana mungkin ia membaca buku-buku beginian. Tak tahu lah aku dari mana dia dapatkan buku ini. Yang jelas buku macam begini cukup berguna buatku. Minimal aku bisa berkaca dari sana.

Aku juga tak menduga jika ia menyimpan harta karun perempuan Indonesia semacam Kartini. Mengingat buku-buku yang memenuhi lemarinya itu hampir semuanya tentang agama. Ia memang termasuk pemeluk islam garis keras, sebut sajalah fanatik. Sip. Cukup segitu saja.

Ini adalah surat terlama yang pernah aku baca. Lumayan tebal, 408 halaman diterbitkan IKAPI tahun 1979, diterjemahkan dari DOOR DUISTERNIS TOT LICHT, cetakan ke-4, terbitan: N. V. ELECTR. DRUKKERIJ-LUCTOR ET EMERGO’s-Gravenhage, diterbitkan atas kerjasama kerajaan Belanda.

Aku tidak sedang meresensi buku ini. Aku ingin mengemukakan apa yang ada dalam kepalaku pasca membaca buku ini yang memang meminta kesabaran luar biasa. Nyaris dua bulan aku merampungkannya sampai tandas.

***

Kartini ialah seorang penggila buku, kegilaan itu dimulai sejak ia berusia 12 tahun. Terinspirasi dari kakeknya yang juga suka membaca. Ia suka membaca buku-buku perihal kemanusiaan, dan malah jatuh cinta, dari situ berlanjut ke buku-buku lainnya yang berbau art dan sains, ia juga pintar melukis, kukira hidupnya menjadi berubah sejak ia mengkhatamkan Multatuli aka Max Havelaar yang menceritakan betapa brengseknya feodalisme. Karenanya juga she is the biggest fans of him. Ia sangat tidak menyukai feodalisme, terutama di bagian yang mensahkan raja-raja jawa mempunyai banyak selir. Menurutnya itu tidak adil bagi kaum perempuan, sangat tidak adil!

Dalam Bumi Manusia milik Pramoedya sedikit disinggung tentang anak bupati Jepara ini. Minke berkunjung ke Jepara untuk melaksanakan propaganda politiknya. Diceritakan jika Minke adalah kawan sepaham Kartini. Minke, tepatnya, Tirto Adi Suryo, dan Kartini mempunyai cita-cita yang sama. Membangun peradaban yang beradab. Kartini berjuang untuk kaum perempuan di sekelilingnya, mendidiknya secara Eropa, namun dalam kemasan Boemiputra (baca: Indonesia). Tentunya, kontekstual. Yang mana diselaraskan dengan berbagai situasi dan kondisi yang ada, budaya yang ada, kepercayaan yang ada. Sedang Minke berjuang menyampaikan keadilan lewat berbagai Surat Kabar, dan atau menyampaikan ‘kebenaran’.

Cita-cita Kartini memang tak sepenuhnya tercapai. Karena bila ia eksekusi cita-citanya untuk sekolah ke eropa untuk kemudian mentransfer ilmunya kelak buat anak-anak Boemiputra. Bapaknya yang amat ia kasihi itu akan sangat terluka berat hatinya, karena berarti ia menentang adat istiadat, di mana perempuan kelak bila dewasa nanti mesti berakhir memegang panci dan koali di dapur. Itulah adat feodal yang terkutuk. Namun, kukira pada masa itu berkaitan juga dengan corak pemerintah kolonial Belanda, bapak Kartini yang seorang Bupati mendapat tekanan ini dan itu dari pihak pemerintah Belanda. Padahal bapak Kartini cukup punya peduli pada pendidikan anak-anaknya.

Seorang kawan pernah sampai bertanya-tanya apa sebetulnya agama Kartini? Islamkah, Kristenkah, Hindukah, Budha, atau Kejawenkah? Aku tidak merespon pertanyaannya. Setelah membaca Surat-Surat-nya barulah aku cukup mengerti kenapa kawanku sampai bertanya-tanya demikian? Yang jelas Kartini adalah seorang theis. Ia hanya enggan ‘memihak’ kepada salah satu agama hanya karena ia cemas anak didik atau sahabat-sahabatnya merasa terdiskriminasi sebab seorang Kristen, Hindu, Budha, dan sebagai-bagai.

Tak beda jauh seperti Sukarno atau Tan Malaka yang tidak terlalu memusingkan identitas kepercayaannya. Dalam Madilog, Tan Malaka menyebut jika perkara kepercayaan itu ada di wilayah privasi. Secara tegas ia mengatakan; dihadapan manusia saya seorang komunis sedang dihadapan Tuhan saya seorang muslim. Di Nasakom Sukarno juga pernah berkata kepada kawan-kawan politiknya, “Anda boleh menganggap saya seorang Kristen, Hindu, Budha, Islam, Kejawen, dan lain-lain, yang terpenting kita tak boleh terpecah-pecah karenanya.” Meminjam istilah Gus Dur, “gitu aja kok, repot.”

Terdapat bagian yang sangat menarik perhatianku di surat-surat ini, aku tak ingat halaman berapa, dan males pula bolak-balik halaman haha, namun seingatku isinya itu bahwa ia begitu mencintai musik. Saat ia merasa letih, lelah, memperjuangkan hak-hak perempuan, pada saat itulah komposisi musik eksis bagi dirinya, ia suka mendengar gamelan jawa dan musik klasik Eropa yang dikenalkan oleh sahabat Belanda-nya, yang menurut Kartini memberi kekuatan tersendiri untuk melanjutkan perjuangan di hari esok.

Musik? Seberapa kuatkah pengaruh musik bagi banyak orang, apakah musik mampu merevolusi pikiran, dan bahkan mewujudkan revolusi dalam arti harfiahnya? Bagiku, sangat mungkin sekali. Pada tahun 1991 di Amerika Serikat, Rage Againts The Machine mampu menggerakkan massa yang beringas karena kebanalan sistem melalui lagu Killing In the Name.

Ada penggalan Surat yang cukup membuatku ‘terharu’ dan bermakna ‘spiritual’, ditulis di Rembang 24 Agustus, 1904. Sebulan sebelum menjelang akhir hayatnya. Surat itu ditujukan untuk ibunya (sahabatnya), R. M Abendanon-Mandri:

Terimalah salam saya, Ibu. Boleh jadi surat ini surat saya yang terakhir kepada Ibu! Kenangkanlah kerap kali anak ibu, yang sangat mencintai ibu berdua. Sampaikanlah salam kami berdua banyak-banyak pada Tuan dan Ibu saya tekankan ke dalam hati. 

Meskipun ia tak benar-benar menutup pada saat itu. Namun yang luar biasa adalah ia menulis surat itu dalam kondisi lemah lunglai tak berdaya karena sakit. Tubuhnya merapuh, namun pikirannya tidak. Terus bekerja. Setelahnya pun ia masih saja menulis surat. Kartini baru benar-benar berpulang 4 hari setelah ia melahirkan anaknya.

Thank You, Kartini buat surat-suratnya. 🙂

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s