5 Lagu Yang Selalu Membuat Merinding Ketika Mendengarnya

1. Di Udara -Efek Rumah Kaca

Hampir setiap orang mengetahui lagu ini. Diperdengarkan di mana-mana. Dan tercatat sebagai lagu yang tak mudah terhapus dalam kepala banyak orang. Ia nyaris selalu berdengung di sini. Dalam jiwa. Cholil bernyanyi begitu sendu nan impresif dengan lirik seolah ‘aku’ sedang ‘diteror’ oleh pemegang kuasa. Lagu ini sengaja didedikasikan untuk (alm) Munir Said Thalib. A Human Right Activist yang dibunuh via toxin dalam pesawat Garuda pada 7 September 2004 sewaktu hendak menempuh pendidikan ke Belanda. Hingga sekarang pun tak benar-benar jelas siapa pembunuhnya. “Tapi aku tak pernah mati, tak akan berhenti…,” adalah penggalan lirik yang begitu kontemplatif membekas di kepala, dibarengi nuansa khas minor ERK. Tak percaya silakan dengarkan kembali di sini: Di Udara

2. Labyrinth -Pure Saturday

Kadang aku tak mengerti kenapa band atau musik yang lahir dari rahim 1990’an nyaris semuanya dapat dikatakan layak dengar dan tidak jumud. Tahun 90’an adalah era keemasan di mana berbagai musisi merayakan kejumudan sosial dan politik lewat sebuah lagu atau album utuh. Pada waktu itu ranah lokal sedang ngehit-ngehit-nya dengan musik yang berbau underground, dari rock, balada rock, punk, hardcore, grindcore, hingga heavy metal. Simak saja album Slank maupun Iwan Fals kala itu yang tak semoron hari ini. Di mana lagu Birokrasi Kompleks Slank bergaung dengan nuansa nyinyir politis ke berbagai pelosok-pelosok desa, dan terlebih lagi Bongkar Iwan Fals yang menjadi katarsis kemuakkan terhadap tirani Soeharto. Dan sekarang betapa tidak lucunya mantra “Bongkar” menjadi slogan iklan kopi. Ah, sudahlah. Namun ada yang berbeda dari Pure Saturday yang berani menampilkan wajah ‘pop’-nya pada saat banyak musisi berhaluan musik-musik keras, bahwa wacana sosial dan politik tak melulu mesti dikabarkan lewat musik-musik keras. Dan lagu Labyrinth adalah contoh terbaik dalam merefleksikan keadaan saat itu.

3. Membaca Gejala Dari Jelaga -Homicide

Kukira di kalangan aktivis, seniman, budayawan, para pendidik, bahkan intel kodam siliwangi tak terlalu asing dengan kolektif hip-hop asal Bandung ini. Dengan front man yang begitu menginspirasi kalangan muda-mudi dan kalangan lainnya. Ialah Herry Sutresna atau yang biasa dikenal dengan nama Ucok Homicide. Sekalipun sejak 2007 secara resmi mereka telah membubarkan diri. Namun hingga kini lagu-lagu mereka selalu aku bawa kemanapun aku pergi, tersimpan dalam playlist handphone dengan baik. Hampir semua lagu yang ada dalam album Homicide layak kutip. Lirik yang ditulis dengan berbagai varian gaya, dari bahasa preman hingga masturbasi intelektual-radikal nan super jenius. Karena Homicide juga lah hidupku tak pernah sama lagi. Aku memilih lagu ini karena memang mix-sound yang dibuat begitu megah nan ‘menyedihkan’, jika bukan, tragedikal (sangat Godspeed You! Black Emperror) ditambah dengan cara Ucok membabat habis setiap rima yang terdapat di dalamnya. Kurasa kedua album dan lirik-liriknya masih relevan untuk didiskusikan hari ini. The Nekrophone Dayz dan Illsurekshun. Kalian bisa mendengar lagunya di sini: Just Listen

4. 2+2 = 5 -Radiohead

Mereka yang sudah membaca 1984 George Orwell tentu mahfum makna yang terbentang dalam lagu yang ultra politis ini. Aku memang punya Novel ini namun hingga saat ini belum juga selesai. haha. Namun terlepas dari pelabelan makna atas lagu ini. Ada yang membuat lirik dan komposisi musiknya terasa abadi, Thom menyanyikan lagu ini seperti orang yang hilang waras, jeritan panjang saat memasuki bar kedua nyanyian Thom serupa orang sedang memuntahkan penyesalan kepada angin, awan, udara dan langit, betapa tidak, nuansa komposisi dan lirik yang diracik begitu gelap, sedikit nihil, beat yang meracau di susul klimaks pada saat lagu akan menemu akhir, mendestruksi psikologis sekaligus merekonstruksi nilai-nilai. Sebuah curahan hati yang genap. Check  video-nya: you search a dreamer?

5. Tannhauser/ Derive -Refused

Yeah. Lagu yang sama sekali mengubah pandanganku terhadap beat-beat ‘punk’ yang cuma bercokol di tiga chord dengan sound yang begitu-begitu saja. Suara Violin berdesing bergesek merdu pada pembukaan lagu. Memasuki pertengahan tiba-tiba menjadi brutal, dan terdapat sedikit khotbah Dennis Lyxzen. Kemudian diakhiri dengan anti-klimaks yang indah. Menikmati Tannhauser/ Derive Refused, sama halnya dengan menikmati cerpen Djakarta, milik Pramoedya Ananta Toer. Ada sebuah perjalanan tak terduga di lagu ini. Perjalanan yang cuma mampu dirasai olehku. Diluaran sana banyak sekali orang yang mereview album The Shape of Punk to Come milik Refused yang notabene terdapat lagu favoritku, ini salah satunya. Lagu ini sering aku putar kala aku ingin menulis sesuatu pada malam-malam hari. Sebagai suplemen untuk tetap waras dan terjaga. Perenungan alternatif dalam menghempaskan kebosanan atas hidup yang stagnan, ‘coz, “boredom won’t get me tonight, right?”. Check this link and grab it, free!—> kick ’em out!

image

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s