Pisah

“where are we now? where are we now? the moment you know you know, you know #Np Where Are We Know -David Bowie

Perpisahan, sebagaimana yang kita tahu eksis karena adanya pertemuan. Ada dua kemungkinan yang timbul karena perpisahan, pertama; kebahagiaan, kedua; kesedihan. Dikatakan bahagia karena apabila kita berpisah dengan seseorang yang kita anggap menyiksa karena kehadirannya, di suatu waktu ia pergi, dengan demikian segera kita mendapati kelegaan dan atau berbahagia karena seseorang itu pergi, dalam hidup atau mati. Sedang opsi kedua, berpisah dengan orang yang benar-benar kita cintai, terlebih selama-lamanya. Bukankah itu amat menyedihkan?

Kamu tentu ingat ketika seorang Ustadz terkenal pergi untuk tak kembali aka meninggal dunia, kemudian disusul oleh tangisan juta’an orang yang mengiringi kepergiaannya, tentu itu bukanlah tangisan kebahagiaan.

Adakah perpisahan yang benar-benar membawa kebahagiaan? Jawabannya, akan selalu relatif, toh bahagia dan sedih juga relatif, namun hematku bukankah setiap orang pada umumnya inginnya berpisah untuk bertemu lagi, sesungguhnya hanya jarak saja lah yang menjadi penghambat. Tapi karena ini adalah era super-informasi komunikasi, jarak tak menjadi masalah yang serius.

Ngomong-ngomong tentang perpisahan baru saja aku menghadiri perpisahan anak-anak SD. Dimana aku menangkap sebuah momen yang menurutku begitu menguras emosi. Momen yang bakal benar-benar membekas. Berpotensi menjadi memori kolektif.

Padahal, toh, suatu waktu anak-anak itu dapat bertemu lagi dengan guru-gurunya. Namun bagi mereka perpisahan ini begitu bermakna, meaningful. Dibalik keharuan itu terdapat sejarah yang tersirat dalam benak mereka. Selama enam tahun mereka bersama, diajari bagaimana caranya membaca, berhitung, menulis, dikasih pengertian, dimarahi, canda tawa dalam kelas yang dilewati bersama-sama, dan sebagainya, dan sebagainya.

Takkah itu memori yang bakal terus menempel dalam benak mereka? Siapa guru yang paling menyebalkan, siapa guru yang paling menyenangkan? Namun yang jelas semua guru pada dasarnya ingin murid-muridnya pintar, bukan cuma pintar secara akademis, melainkan juga pintar dalam menjalani kehidupan ditengah ketidakpastian masa depan. Siapa yang tahu hari esok kan seperti apa?

Anyway, momen apakah yang ingin kita tinggalkan kepada orang-orang yang kita cintai? Yang kita ingin tanamkan kepada mereka sebelum benar-benar kita berpisah?

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s