Frekuensi Dari Teman

#Np Deepening Delta -Frequency Assisted Meditations-

Meditasi via audio yang berimbas pada lucid dream? Dan atau yang paling mengejutkan adalah gagasan akan insepsi bukanlah fiksi? Cukup membuat jidatku berdesing memang.

Pasca diputarnya film Inception yang diperankan Leonardo Dicaprio, sepertinya mengundang banyak kalangan yang penasaran, apakah benar adanya bahwa kita dapat menset mimpi kita, membangun tempat dalam mimpi, dan bermimpi dalam mimpi. Lebih-lebih, insepsi atau lucid dream dapat dilakukan lewat dorongan frekuensi musik. Sesuatu yang berseberangan dengan suatu kepercayaan, jika dari mimpi orang bisa mendapat petunjuk? Memasang nomor togel, misalnya.

Barangkali aku kurang begitu banyak bergaul dengan psikiater sehingga tak begitu ngeuh sama isu-isu diatas. Akan tetapi yang jelas bagiku ini adalah sesuatu yang sama sekali baru. Amat baru. Dan aku menyukai hal-hal yang baru. Karena dari sana aku dapat lebih mengenal dan mencintai. Hidup.

Berbagai upaya metode meditasi terus-terusan diperbaharui dan dikembangkan yang disesuaikan dari zaman ke zaman supaya orang dapat menjalani hidup dengan tenang. Dari mulai yoga, tapa, semadi, dan yang terbaru fisio-therapy, hypno-therapy, dll. Sebentar, menjalani hidup dengan tenang? What??? Are you joke? We are still young, anyway? We need something thrilling. Sip. Lanjut…

Tak terkecuali mengembangkan metode meditasi via audio. Seperti yang saat ini sedang aku dengar, frekuensi meditasi audio pemberian seorang teman, berdurasi 11 menit lebih 11 detik. Lumayan bikin ngantuk. Hoammm…..

Aku tidak akan berpanjang-panjang ria tentang insepsi atau lucid dream atau sebangsa dan senegaranya. Aslina, poweeeek! haha Aku hanya hendak mencoba merasai musiknya. Frequency Assisted Meditations. Mendengarkan musik-musik ‘baru’ seperti ini adalah upayaku untuk mencoba mengenal dan merasaimu? 🙂

Pembukaan. Long syintez efek, bergandengan dengan suara efek Wah memanjang bergaung memadati struktur irama musik, bersamaan syntez bas yang melebar, menjadikannya seolah angin sepoi saat kita bertegak di atas air terjun berpemandangan surga. Komposisi ini terus direpetisi, indah dan melelahkan, keindahan yang melelahkan. Sebuah repetisi memang acapkali impresif, melekat, dan membekas, cukup sukses meng-impact telingaku. Sampai pada pertengahan menjelang akhir, white noise menyergap pola-pola otak, ada perjalanan pikiran di sana yang memasukki empty space, entahlah ini begitu mistis namun terasa jauh untuk dikatakan puitis. Kemudian, pada saat frekuensi menemu ending, ia mengeluarkan bebunyian yang seakan pintu terbuka. Selamat datang di alam mimpi. Begitukah?

Dari segi racikkan instrumental, bagi telingaku ini terdengar miskin komposisi. Mengingat ada musik sejenis yang bukan kebetulan menawarkan hal yang sama hanya lebih kaya nada dan melodi, dan jenis musik itu ber-stempel post-rock. Hmm. Sepertinya frekuensi semacam ini sengaja diciptakan untuk sesuatu yang lain. Sesuatu yang belum ku ketahui. Musiknya memang terstruktur dengan apik hanya saja terasa hampa nada dan melodi. Layakkah disebut komposisi?

*aku jadi berpikir kembali itu air galon udah panas, kapan bikin kopinya?*

image

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s