Membubarkan Dialog Adalah Dosa

http://m.merdeka.com/peristiwa/fpi-bubarkan-dialog-islam-kristen-di-surabaya.html

Artikel diatas membuat saya berang. Kenapa masih saja terdapat kelakuan kampungan di hari ini? Di 2013 ini?

Tak cukup sadarkah jika mereka sudah terlalu banyak membuang energi dan pikiran ke dalam kubangan neo-nazisme? Sementara musuh sebenarnya tertawa terbahak membusungkan dada?

Saya bukan seorang liberalis ala JIL asuhan Ulil Abdar. Saya juga bukan seorang islamis ala Habieb Rizieq yang “berjihad” mengepalkan tangan melawan “kejumudan” versi dia dan koloninya. Saya hanyalah warga biasa yang merasa bodoh jika tak berpendapat tentang hal ini.

Bagaimanapun juga membubarkan dialog (tentang apapun) adalah upaya maksimal menghancurkan peradaban. Dan itu jelas bukan hal yang bagus untuk diteladani. Apakah Nabi Muhammad melakukan hal yang sama ketika bersyiar mengembangkan agama Islam? Apakah Nabi Muhammad menggunakan senjata ketika berdakwah? Sebengis itu kah seorang Nabi? Saya tidak percaya, demi Semesta Alam, saya tidak percaya Nabi melakukan itu. Karena seorang cerdas dan jenius tidak sampai hati berbuat demikian.

Dialog adalah komunikasi yang mendalam, memiliki tingkat dan kualitas yang tinggi sekaligus mencakup kemampuan untuk mendengarkan serta saling berbagi pandangan. Ini menurut kemampuan untuk secara bebas dan kreatif memahami isu-isu yang peka, disamping kemampuan untuk saling menyimak secara seksama pendapat pihak lain yang berbeda, serta menunda pendapat kita sendiri.

Tidakkah pembubaran paksa suatu dialog itu perbuatan inferior, jika tidak mau disebut; fasis. Mengapa pula untuk berdialog saja perlu izin? Hanya beralasan tidak ada izinkah sebuah dialog harus dibubarkan? Apakah saya harus izin dulu pada pemda jika ingin berdialog dengan kawan-kawan saya? Alasan yang tidak masuk akal sebetulnya. Dangkal.

Sebelum berdirinya Negara ini, tempat ini (Indonesia) tidak dibentuk oleh suatu golongan agama tertentu, ras tertentu, klas tertentu. Sangat plural. Siapapun boleh menetap di wilayah Nusantara (peraturan perizinan pastilah disesuaikan dari era ke era). Seperti yang kalian tahu betapa beragamnya suku disini. Bohong jika dulu tidak terjadi konflik mengenai kasus diatas, hanya saja ini sudah 2013, emangnya ogah move on apa? Haruskah mengalami konflik yang sama (metapora apa lagi yang harus saya pakai mengenai kasus ini)? Seribu kali lebih baik melawan Imperialisme ketimbang melawan tetanggamu sendiri.

Maka karenanya dengan beragamnya suku dapat lah disimpulkan, agama-agama yang ada beragam pula. Negara memang cuma melegalkan 4 agama besar. Namun dibalik itu sesungguhnya masih terdapat lapisan-lapisan kepercayaan yang menyertainya. Sebagai warga yang katanya baik budi wajiblah buat menghormati kepercayaan orang-orang itu. Apalagi dibuat dialog mengenainya? Bukankah salah satu tujuan dialog itu agar sama-sama dapat merasai pikiran masing-masing pihak? Dosakah jika saya mendengar curahan hati kawan saya sendiri?

Bukankah satu pembuktian bila yang demikian terjadi, World Statesman Award dari Appeal of Conscience Foundation (ACF) yang didapat SBY kemarin tidak lah sia-sia, bukan cuma omong kosong berak muncrat kemana-mana? Persis ketika media arus utama sibuk mengabarkan pertumbuhan ekonomi meningkat dan tak punya pengaruh apa-apa bagi warga Negara. Kecuali sebarisan umpatan kawanan terminal Bekasi Timur. So, know your enemy!

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s