Democrash(y)

#Np We Drift Like Worried Fire ~Godspeed You! Black Emperror

Membosankan rasanya jika harus terus-terusan mengikuti isu siapa yang bakal menjadi calon presiden di 2014 nanti? Toh, perubahan signifikan memang sejatinya dimulai dari diri sendiri. Walau pada kenyataannya selangkahpun warga kota sepertiku tak dapat menghindar dari yang namanya politik (entah ‘p’ kecil maupun ‘P’ besar). Lebih-lebih, pekerjaanku sangat berhubungan erat dengan super-struktur pemerintah. Aku sadar akan hal itu. Dan sudah memakluminya.

Mengikuti siapa bakal capres memang satu hal namun tidak memilih diantaranya adalah hal lain. Mereka yang (telah genap berniat) menentukan sikap untuk tidak memilih adalah mereka yang memelihara kewarasannya.

Seperti yang sudah-sudah, demokrasi kotak suara hanyalah ajang merayakan kekonyolan, dimana orang-orang memilih seseorang menjadi tampuk pimpinan hanya karena orang itu telah memberinya upeti? Jelas lah tidak cocok dengan pidato Gettysburg-nya Lincoln yang mendefinisikan demokrasi sebagai pemerintahan rakyat, oleh, untuk, dan dari rakyat.

Setelah terpilih, lalu apa? Tepatnya, apa bagusnya buat kami. Bahkan lebih jauh lagi, Abdul Qadim Zallum dalam mini book-nya menyebut demokrasi adalah sistem kufur, bertentangan dengan hukum-hukum islam. Baik secara global maupun partikular.

Sebagai misal kecil, kata Zallum salah satu dampak dari demokrasi; institusi keluarga telah benar-benar hancur berantakan; tidak ada lagi kasih sayang diantara bapak, ibu, saudara lelaki, dan perempuan. Sejauh itu kah Zallum memaknai demokrasi? Anti-thesis dari apa yang selama ini sering aku baca mengenai demokrasi yang menjunjung tinggi ‘kebebasan’, ‘keadilan’, dan ‘keseteraan’ antar sesama. Terdengar utopis memang.

Aku memang tak sepenuhnya setuju dengan buku itu, karena bagaimanapun juga hukum-hukum islam versi Arab sana tak bisa diadopsi bulat mentah dengan hukum-hukum islam menurut masyarakat yang ada disini. Nahdhatul Ulama tidak mungkin survive hingga saat ini jika tak fleksibel. Toh, bukannya islam itu fleksibel? Mengingat Nusantara tidak ditemukan oleh bangsa Arab.

Tapi dari membaca buku itu timbullah sebuah pertanyaan? Apakah liberalisme politik dan ekonomi akibat dari ‘demokrasi’?

Karena ‘demokrasi’ juga lah orang-orang berduit membangun villa-villa berbeton di puncak Bogor sana yang memuntahkan banjir ke Jakarta dan sekitarnya bila musim hujan tiba? Karena ‘demokrasi’ juga lah seseorang atau institusi dapat mengakumulasi modal setinggi angkasa? Membangun mall disembarang tempat, membuang limbah disembarang tempat, dan masih banyak lagi. Itukah esensi demokrasi? Sebebas membunyikan kentut dimana-mana. Entahlah. Cuma pemikiran dangkal yang lalu lalang serupa nyamuk dalam kamar.

Namun, yang jelas dengan mengetahui siapa bakal capres nanti, minimal aku akan segera tahu apa korelasinya dengan pekerjaanku. Kehidupanku di hari-hari berikutnya.

*anjrit jengkol ayeuna Rp.60.000 sakilo*

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s