Pinggiran Kota

Membincangkan masa depan terang, bagi kami memang serupa membincangkan mitos. Dan mitos tak pernah peduli dengan tingginya pendidikan seseorang. Pendidikan tinggi hanyalah upaya mendapatinya, bukanlah kausalitas. Betapapun para motivator itu berpidato tentang masa depan terang yang retoris ala politikus penuh bual. Namun kami percaya pendidikan adalah cara terbaik mendapat penerangan.

Kami tahu kami memang tipikal orang yang tak pernah puas ketika mendapatkan sesuatu. Kami juga mengerti sebab darinya adalah konsumtivisme.

Media-media semacam iklan televisi memberi andil besar pada setiap keingingan kami, etalase publik bersorak sorai mencuci mata, pun ikon-ikon menyebalkan sejenis yang terpajang dipinggir jalan raya sana. Karenanya kami selalu haus dan menginginkan yang lebih dan lebih. Dari apapun. Kami selalu ingin. Ini dan itu.

Kami masih ingat sewaktu kami kecil bagaimana iklan es krim di tifi membuat kami merengek meminta jajan kepada bapak ibu kami agar dibelikan es krim. Kemudian, mereka pun membelikan es krim yang kami mau, tak jarang uang itu hasil dari pinjaman ke tetangga. Kami tak mau ambil pusing ibu bapak dapat uang itu dari mana. Yang kami tahu cuma satu hal: kami senang makan es krim.

Setelah mendapatkannya kami pun ingin lagi. Lagi dan lagi. Menjadi candu. Begitu seterusnya. Hingga kami dewasa. Selalu ingin membeli dan membeli. Pada akhirnya kami pun sadar semua telah terpola dengan sangat baik. Apik. Melulabi.

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s