In Rainbow #1

Aku tak biasa berpergian kemana-mana tanpa mendengar musik terlebih dahulu. Tak terkecuali dalam perjalanan. Aku merasa kesulitan untuk ‘mencipta’ sesuatu tanpa mendengar musik sebelumnya. Entah secara intens atau seketika saja. Musik sudah menjadi bagian ‘kegilaanku’ mengakrabi hari dengan rasa apapun. Dan memang hidup terlalu tidak berguna untuk dihabiskan mendengar musik-musik sembarangan.

Entah di bulan apa aku mendapat handphone Samsung Android Galaxy Young, tepatnya ditukarkan dengan handphone sebelumnya. Kemungkinan diawal tahun. Ah, aku tak dapat mengingatnya dengan baik. Karena memang untuk apa pula diingat-ingat yang begituan. Namun yang jelas ketika aku mendapatkannya, telah aku jejalkan didalamnya album-album musik yang menurut telingaku layak dengar dan menawarkan sensasi artistik yang terlalu sompral bila dikatakan butut. Diantaranya adalah Album In Rainbow Radiohead CD 1 yang diproduksi 6 tahun lalu. Aku memang mengenal album ini di 2010 lalu, better late than no, anyway. Huaha…

Namun, bodohnya, waktu pertama kali mengetahui aku tak menganggap ini adalah album penting transisi Radiohead dari image ‘digital minded’ ke konvensional, begitulah majalah Pitchfork menyebutnya. Mengingat tak sebanding dengan si kembar siam Kid A dan Amnesiac yang totally digital, apalagi bila disandingkan dengan Ok Computer yang cukup berbahaya dengan Paranoid Android-nya. Atau mellowis ‘provokatif’ ala No Surprises-nya. Jauh di konsep jauh di rasa.

Kala itu aku hanya lalu lewat begitu saja ketika mendengar setiap track di album ini. Kebodohan memang nyaris selalu menyebalkan. Tapi ya sudahlah, musik harus tetap diputar walau menemu jeda, layaknya hidup yang harus tetap berlanjut yang juga menemu jeda, namun sedikit meminta dituliskan.

Ini memang bukan review. Namun sebuah upaya untuk mengenalnya lebih jauh. Merasai sensasi disetiap tracknya memang semacam mendengar Novel fiksi mini klasik, syarat dinamik, yang kadang memunculkan ‘endemik’ seperti yang terdapat di track videotape. Selain itu telah terjadi ‘keanehan’ setiap aku ingin menghapusnya dari palylist handphone. Sesuatu yang jarang aku lakukan. Tiap kali ingin menghapus dan menggantinya dengan yang lain pikiranku selalu menegasi dengan hardcore. Mengingat aku ini termasuk orang yang mudah bosan.

Seprogresif apapun Refused di album The Shape of Punk To Come ia pernah aku hapus dan diganti dengan yang lain meski ku masukkan lagi. Sekontemplatif apapun Pure Saturday ia pernah ku hapus. Dan se-anti-imperialis apapun Homicide ia pernah ku hapus juga walau ku masukkan kembali. Sedang In Rainbow ia masih tetap eksis menemaniku kemanapun aku pergi dari semenjak aku punya Galaxy Young.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s