Kyshera?

Cukup lama aku tak menyimak sound musik yang bernafaskan grunge, kecuali mungkin Navicula, itu pun masih sesekali. Dan belakangan adalah Nickleback, itu pun karena diingatkan lagi oleh seorang teman baik yang sebelumnya nyaris lupa bahwa band itu eksis. Pasca bermain ping-pong barusan, aku iseng membuka twitter, dan dideretan Follower terdapat nama yang sama sekali asing ditelingaku; Kyshera, yang ternyata komplotan grunge asal Cardiff, Wales, UK.

Masih teringat dengan baik sekitar awal 2000’an (waktu itu masih SMP) aku dan kawan-kawanku termasuk getol mengakrabi Nirvana, setidaknya Nirvana dianggap sebagai Mahadewa grunge saat itu. Sosok Kurt Cobain sudah seperti pahlawan di kalangan ababil seperti kami, remaja, hingga dewasa. Barangkali ada kemiripin antara Cobain dan Sid Vicious, yakni; brutal diatas pentas, dan sama-sama mati secara mengenaskan. Sebagaimana sesuatu yang ‘brutal’ memang dianggap keren oleh muda-mudi saat itu. Dengan begitu sedikit banyak mereka memberi pengaruh terhadap konsumsi pendengaranku di hari-hari berikutnya.

Kembali ke Kyshera. Ada yang menarik di biografi akun twitter-nya yaitu; Band. Konic. Real. This is a movement. Join the Resistance. Aku mencium bau-bau ultra-politis disini. Di lini masa-nya terpampang lagu yang ber-tittle: Know Your Enemy. Sekilas seperti judul propaganda berbahaya milik Rage Againts The Machine. Segeralah aku mendengar lagunya via you tube: klik. Benar saja ini lagu memang berbahaya seperti sengaja dibuat untuk menggerakan sesuatu. Meski memang kini aku kurang begitu suka dengan musik-musik macam begitu.

Namun rasa penasaran masih terngiang dikepala, aku pun langsung mengecek website-nya: This. Kemudian, masuk ke kolom about band yang cukup menarik perhatianku; Defining some bands is hard. Defining Kyshera is impossible. “Yet for once, a band who’s declaration that they’re revolutionary innovators might just be right!”, agree’s Classic Rock Magazine. Instead of trying to squeeze into an existing musical scene, Kyshera simply invented their own. A scene with no limits and no rules. So they invented the term ‘Konic’ to mean ‘Anything which is otherwise indefinable and defies categorisation’ and that is how you define this band. Freedom nampaknya ingin ditegaskan oleh mereka. Pendengar dapat secara bebas mendefinisikan tentang mereka kayak apa.

Wah. Belum lima paragraf nih…. 🙂 Aku butuh satu paragraf lagi untuk menyelesaikan catatan ini. Oke. Begini saja, aku sering mendengar orang berkata musik itu jangan dikaitkan sama politik lah, musik ya musik, politik ya politik. Terdengar sejenis dengan adagium J.F Kennedy; Jika politik kotor puisi membersihkannya. Benarkah, lebih tepatnya, senaif itu kah? Sampai-sampai menafikkan kenyataan bahwa musik dan politik itu tidak berkorelasi. Seandainya tidak, mana mungkin Koes Plus ditangkap rezim Orde Lama cuma dengan alasan; Ngak…. Ngik…. Ngok….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s