Kepulangan Kelima: Kerinduan Itu Menyergap

Sebuah album musikalisasi puisi yang cukup menarik. Karya Irwan Bajang yang juga seorang pemilik Indie Book Publishing Yogyakarta dengan label; Indie Book Corner. Irwan juga dikenal sebagai penggiat sastra. Ini adalah proyek kolaborasi yang tergolong unik. Tak banyak penyair berani memproduksi album musik puisi sendiri seperti yang Irwan lakukan hari ini. Ari KPIN penggiat musik puisi asal Bandung dan Illustrator Oktora Guna Nugraha menjadi kawan kolaborasi Irwan. Sekilas melihat cover album ini tadinya aku mengira ini cuma musikalisasi puisi saja, ternyata tidak, ia lebih dari itu; bisa dibaca, didengar, dan dilihat.

Seketika pun gaungan komposisinya mengingatkanku pada Iwan Fals era 90’an yang dimix dengan Mukti-Mukti Mimesis Soul. Juga tak luput sentuhan maut Jeff Buckley menyadur Led Zepelin dalam melodi dan petikan gitar yang minimalis. Sendu-liris-merindu. Dibalut dengan balada rawkustik yang menghadirkan senyawa sunyi-sepi yang maksimal. Suara Ari KPIN yang khas terasa pas dilatari deklamasi puisi Irwan. Seketika juga menyeret isi kepalaku pada sebuah romantisme akan kampung halaman dibawah kaki ciremai sana. Aku hanya mampu merasai apa yang diperdengarkan dari track ke track yang terdapat di album ini. Bukan menafsirkan puisi-puisi didalamnya.

And this is the effect…

Romantisme Sawahwaru

Bagi kami -anggota Karang Taruna- merayakan hari kemerdekaan adalah sesuatu yang niscaya. Setiap menjelang kemerdekaan, ketua RT, pak RT, hingga warga beramai-ramai mempersiapkan hari itu. Meski sejarah dalam buku-buku sekolah sesungguhnya mengabarkan apa yang tidak kami kira. Menyewa panggung pun sebuah keniscayaan. Hasil dari udunan warga. Prinsip ekonomi yang seharusnya tidak tergerus teori akumulasi modal yang merusak elemen individu dan masyarakat hari ini.

Waktu itu warga pun wajib untuk menampilkan kemampuannya diatas pentas kelak, entah itu nge-band, berpuisi, bernyanyi, menari, dan yang lain-lain. Sebelum pentas digelar, hampir setiap malam kami -lelaki perempuan, berkumpul disebuah ruangan milik warga membahas persiapan untuk hari esok, tak jarang kami bernyanyi bersama-sama disana. Sesekali sambil memperdengarkan puisi ekspresif yang muncul begitu saja dari mulut. Menghadirkan tawa yang memorable, tentu saja.

Kawan-kawan dilingkup RT adalah fanboys Iwan Fals akut, dengan begitu menyanyikan lagu-lagu milik Iwan Fals dari Bongkar, Ibu, Bento, Mata Indah Bola Ping-Pong, sampai Yang Terlupakan adalah tidak bisa tidak. Bergelas kopi, berbungkus rokok, kue, dan sudah pasti gegorengan dan sebangsanya tersedia. Masa-masa itu pun seakan dibetot kembali dalam sentuhan liris sebagaimana penggalan puisi Bangun Tengah Malam yang ditaburi melodi khas bernafas balada, persis menjelang lagu menemu akhir; Ohh…Seperti aku merindukan malam masa-masa kecilku yang penuh dongeng….

Belum cukup sampai disitu kerinduan ngungun itu direngkuh lagi dalam puisi Pagi Insomnia dan Seorang Pemuda yang Kehilangan Separuh Hidupnya; disini, aku menunggu separuh kenangan/ tentang malam khusyuk di balai-balai sawah dekat sungai/ dan kuburan kampung tanah kelahiran/ kucari separuh kenangan yang hilang, saat aku mengajak pohon-pohon kelapa rukuk sujud beserta semesta….

Puisi lainnya pun berpotensi menyesatkan pada kerinduan yang tidak mungkin untuk diraih lagi. Ah, sesungguhnya nostalgia itu memang mengandung racun, meminjam adagium Milan Kundera; “The more vast the amount of time we’ve left behind us, the more irresistible is the voice calling us to return to it.” Perkawinan kata dan musik dapat jadi merupakan mesin waktu yang nyata namun fiksi. Sehingga cukupi saja catatan ini dan rasakan saja puisi-puisinya. 🙂

Gambar

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s