Perjalanan Pendek

Semalaman bulan dan bintang menyala berbarengan serupa harapan agar hari esok lebih indah dari hari ini. Alam semesta masih mau berbaik-baik dengan memberi secuil keindahan di tengah ketidakadilan dunia pada wajah-wajah tak berdosa di pesisir pantai selatan Jawa sana.

Aku hanya dapat menyisipkan seberkas doa dalam sanubari yang entah terkabul atau tidak, semoga perjuangan petani Kulon Progo membuahkan hasil yang diharapkan. Dapatkah warga Kulon Progo merasai keindahan alam meski satu malam saja, seperti keindahan yang dapat kurasai malam itu?

Kadang-kadang aku juga merasa gemintang dan rembulan gemerlapan itu serupa juga harapan lelaki pada seorang perempuan. Atau juga harapan perempuan pada seorang lelaki. *WEWW!!!*

***

Kota ini memang tidak pernah benar-benar ramah. Namun pagi ini nampak cerah, matahari terlihat gagah saat menyembulkan sinar yang tak berkesudahan dari jarak jutaan kilometer jauhnya dari tempat di mana kami bernafas dan berjuang melawan hari-hari menyebalkan.

Kota kembang menanti untuk disinggahi. Pure Saturday sudah pres konfrens perihal konser pasca 19 tahun eksistensinya, sebuah pencapaian yang tidak mudah dilalui bagi siapapun mereka yang menasbihkan diri di jalur indie. Konser akan diselenggarakan di teater tertutup Dago Tea House minggu besok. Untuk banyak alasan kukemudikan motor batmanku menuju ke kota itu yang sesungguhnya mendapat tempat istimewa bagi kalangan muda-mudi tanah air. Kota yang sempat mendapat predikat pusat intelektual dunia di era kolonial. Sebelum semuanya nampak berubah dan menyesakkan.

Perjalanan nampak seperti biasa. Macet dan hal-hal sebangsanya. Ditambah dengan visualisasi ga penting yang berdiri hampir sepanjang jalan merusak pemandangan mata. Para kader partai terpampang dengan sloganeering yang tidak bisa dipercaya. Tak berbeda jauh dengan program televisi. Aku mengambil jalur Cikarang-Karawang-Subang-Lembang dan singgah sebentar di rumah saudaraku yang ada di Subang.

Subang memang telah lama punah keindahannya. Tak ada kesan-kesan ramah didalamnya. Seperti kebanyakan masyarakat industri yang berjuang mempertahankan hidup pada batas kata “work hard, play hard” saja, di mana individualisme beradagium isi perut menjadi dasar-dasar sosial-ekonomi yang seolah-olah masuk akal dan dapat diterima begitu saja. Sambil berisitirahat di tempat saudaraku, lekaslah aku membuka email karena ada yang ditunggu, namun ternyata email yang kutunggu itu belum juga datang. Lanjutlah aku membuka twitter, dan tercengang bukan kepalang.

Time line dipenuhi umpatan pada seorang panglima ormas ga penting yang menyiram muka seorang sosiolog saat sedang beradu argumen, si panglima nihilis itu tak mau mendengar argumen sang sosiolog. klik video ini agar lebih jelasnya. What the hell, dude! C’mon… Tapi jika mengingat sejarah kemunculan ormas tersebut memang hal semacam itu dapat jadi sesuatu yang wajar-wajar saja. Tidak aneh lagi. Seharusnya aku pun tidak usah kaget juga. Namun aku hanya cemas pada generasi setelah kami jika melihat tragicomedy macam begini. What’s the point? Do you think social revolution from ormas will began because water spray… Ah, lagi pula perlukah aku cemas begitu? #prettt

***

Matahari perlahan mulai turun, pertanda waktu siang akan bertukar sore. Sekitar setengah tiga aku berpamitan pada saudaraku dan lekas melanjutkan perjalanan. Dari Subang aku melewati arah Lembang. Hawa di Subang tak berbeda jauh dengan Bekasi, panas menyengat. Seperti biasa menjelang weekend mobil berplat B memadati jalur menuju Bandung. Saat memasuki Ciater langit sudah tak tahan menumpahkan air. Hujan deras pun tiba. Aku sudah mengantisipasinya dengan membawa jas hujan. Sehingga hujan bukan masalah yang serius bagi perjalananku. Masalah bagiku saat perjalanan adalah baliho dari partai-partai ga penting yang merusak pemandangan daratan alam yang seharusnya lebih indah tanpanya. Itu saja.

Memasuki Ciater udara terasa lebih segar. Asupan oksigen dari pepohonan amat terasa oleh tubuhku. Melegakan memang. Sesuatu yang tidak mungkin didapatkan di kota industri manapun. Ini lah sesungguhnya kebutuhan esensial seluruh makhluk hidup selain makan dan minum, mendapat asupan oksigen dan mengeluarkan karbondioksida secara adil dan sirkular. Di mana manusia, hewan, dan tumbuhan saling memberi dan menerima. Sesederhana itu memang keadilan dan keindahan itu. Take and give. Namun keserakahan segelintir minoritas menjadi baja keangkuhan atasnya.

Dan hujan sama sekali berhenti saat aku sampai di Lembang. Baguslah, pikirku.

Saat perjalanan aku cuma memutar musik dari dua grup yang kerennya kelewatan, Pure Saturday dan Radiohead. Ketika perjalanan dari Bekasi ke Subang Pure Saturday terus menemani. Dari album pertama mereka hingga Time for a Change Time to Move On. Sedang dari Subang sampai menuju Bandung album In Rainbow Radiohead terus terngiang di telingaku. Haih… Ga bosen-bosen sama Jigsaw Falling Into Place

before you run away from me/ before you lost between the notes/ the beat goes round and round/ the beat goes round and round/ I never really got there/ I just pretended that I had/ what’s the point of instruments/ words are a sawed off shotgun….

Gambar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s