Month: July 2013

Lacuna

Seekor serigala meraung kesakitan ditimpa berlaksa-laksa kesepian. Tak seperti biasanya ia meraung seperti itu, pasalnya ia telah akrab dengannya namun kali ini kesepian itu seolah berubah jadi jarum. Menusuk hingga ke ulu jantung.

Seekor serigala kini kehilangan kekasih yang dicintainya. Kehilangan rumah yang didiaminya. Kehilangan api yang menghangatkannya. Kehilangan berjuta cahaya purnama yang memantul dari langit bila malam penuh.

Seekor serigala kini hanya terus berjalan, berjalan, dan berjalan. Ia tahu tak mudah melewati hari-hari ngilu seperti itu. Tapi ia sadar mengaum adalah satu-satunya cara agar eksistensinya tetap menyala betapapun jarum itu semakin meraksuk dan meraksak.

Ia melewati malam itu yang tampak bagai lautan penuh riak tanpa air. Matanya menangkap satu bintang menggelantung di ujung langit itu namun nyalanya muram. Semuram malam digelayuti awan. Sebuah bintang kecemasan telah terbit di malam yang tepat.

Serigala masih terus berjalan, mengaum, berjalan, mengaum, dan berjalan. Menyusuri hutan, menerabas malam, mengangkangi belantara bahaya, dihujam berlaksa-laksa jarum kesepian. Serigala belum mau mati karenanya. Ia masih ingin mengaum, terus mengaum.

Mimpi Serigala

Elora

kau ada di sana dengan senyum dan sederhanamu yang khas/ kau sedang duduk, menatap, lalu menyabit senyum/ manis memang/ lama kita tak ketemu/ ah, waktu kadang doyan menipu/ gengsi saja yang kita urusi

aku pura-pura tak lihat dan lewat/ berdebar kaki-kakiku gemetar/ aku tidak tahu apa kau begitu

tak peduli kau suka radiohead atau tidak/ tak peduli kau mampu nyanyikan wonderwall atau tidak/ tak peduli kau hapal tender atau tidak/ tak peduli kau kenal pure saturday atau tidak/ tak

di hari petang kita janjikan/ aku hanya rindu masakanmu/ masakan yang berkunjung dalam gelap dan kesepian/ aku kalah/ aku telah kalah sebagai serigala

Jernih

Pada saat aku menyalahkan sesuatu pada semua orang atas rasa sakit dan penderitaan yang kualami beserta kaumku. Aku salahkan semua orang terutama kulit putih. Menyalahkan masyarakat. Menyalahkan Tuhan. Aku tidak mendapat jawaban sebab aku menanyakan pertanyaan yang salah. Kau harus punya pertanyaan yang tepat.”

“Misalnya?”

“Apa sesuatu yang kau lakukan telah membuat hidupmu lebih baik?”

~Robert Sweeney, American History X (1998)

Based on a True Story: Biografi Pure Saturday Setelah 19 Tahun

Gambar

Penulis: Idhar Resmadi
Cetakan Pertama, 2013
Diterbitkan oleh Unkl347
Dimensi: 11,1 x 18,1 cm. b/w
230 hlm
ISBN: 978-602-17941-0-4
Harga: Rp.55.000

Budaya mendokumentasikan perjalanan sebuah band minim terjadi di musik Indonesia. Namun tak menutup kemungkinan hal itu dapat terjadi dengan beberapa pengecualian. Pertama, musik yang dihasilkan dari band itu tumbuh dan berkembang bersama kita. Kedua, musik yang kita dengarkan sejak remaja hingga dewasa adalah musik yang memberi definisi berarti pada hidup kita. Sehingga, mentransformasi sebuah musik menjadi pengalaman hidup yang esensial. Ketiga, musik yang dihasilkan dari band itu mampu menembus berbagai generasi, dengan kata lain, musik yang dihasilkan tak terdengar membosankan jika diputar berulang kali ditambah dengan lirik yang relevan sejak dahulu, hari ini, dan esok hari. Dan Pure Saturday adalah salah satu contohnya. Pionir skena indie-pop Indonesia yang perjalanannya, tak berlebihan rasanya, jika didokumentasikan dalam wujud buku.

Grup musik asal Bandung yang lahir di awal 90’an ini telah dianggap menjadi anomali di zamannya. Ketika skena musik independen diriuhkan oleh scene metal, punk, grindcore, dan musik-musik keras lainnya. Pure Saturday tampil dengan wajahnya yang lain. Berikut corak musik dan pola distribusi yang penuh semangat kemandirian (itu lah kenapa dianggap anomali). Tak terkecuali bagaimana mengakali pola bisnis tricky-nya major label. Semangat kemandirian itu menular kepada band-band generasi setelahnya. Pure Saturday lahir pada saat euforia budaya barat dan konsumsi budaya massa di Indonesia melanda, sehingga melahirkan banyak ekspresi anak muda berbau “barat”. Pengaruh “barat” tak hanya menjadi dasar kreativitas mereka, akan tetapi menjadi potret gegar budaya yang mencerminkan pengaruh besar musik asal Tanah Inggris. Seperti The Cure, Ride, Radiohead, Oasis, The Beatles, The Smitht’s, dan masih banyak lagi.

Based on a True Story ini ditulis dengan narasi yang ekspositorik dari sudut pandang orang ketiga. Buku setebal 230 halaman ini memadukan studi pustaka sejumlah referensi tertulis yang kebanyakan dimuat di media massa dan buku, wawancara personil band dan pihak yang selama ini berada di balik layar, kesaksian para sahabat, dan sesama musisi, tak jarang pembaca dibawa ke dalam alam pikiran dan perenungan tokoh-tokohnya. Dapat jadi jika membicarakan Pure Saturday orang juga mesti membicarakan tentang relasi pertemanan dan persahabatan di dalamnya, terutama di komunitas seni yang ada di Bandung. Ini lah yang membuat kota Bandung selalu ‘hidup’, salah satu penyebabnya adalah aktivitas para seniman mudanya.

Persahabatan adalah kata kunci pembuka gerbang Pure Saturday meniti karir bermusiknya dari belum pernah terdengar sama sekali hingga terdengar dimana-mana seperti sekarang.

Rentang waktu 19 tahun bukanlah waktu yang singkat dalam perjalanan sebuah band. Hal itu hanya dapat terjadi jika mempunyai tekad dan komitmen yang baja. Patut dicatat diawal kemunculannya Pure Saturday adalah semantik ‘perlawanan’ terhadap industri musik arus utama, tak lepas dari peran wacana yang beredar di berbagai media massa saat itu. Hai, Kompas, Suara Pembaruan, dan wawancara radio Prambors dengan rapih menjadi klipping pendukung buku ini. Denny MR, Bre Redana, David Tarigan, Harlan Bin, Arian 13 jadi narasumber kompeten yang dikutip dengan jitu dan terang menggambarkan bagaimana konteks yang tengah berlaku saat itu. Termasuk suasana sosial dan politik yang terjadi. Karenanya lagu Kaca menjadi potret muram suasana politik ketika itu.

Idhar Resmadi menulis buku ini dengan sangat apik nan padat. Buku ini terdiri dari 8 bab. Setidaknya ada 3 tokoh dalam narasi yang ditulis Idhar yang paling menonjol ketika menghadapi rintangan. Terlebih rintangan yang sifatnya personal. Tokoh pertama adalah Muhamad Suar Nasution (Ex-vocalis), saat itu dirinya bingung antara harus memilih melanjutkan nge-band di saat band-nya sedang naik daun atau kerja di luar negeri (Yaman), namun, pada akhirnya ia memilih bekerja di luar negeri tetapi tetap berkomitmen akan membantu Pure Saturday dengan waktu dan tenaganya selama libur kerja dan balik ke Indonesia.

Kemudian, Ade Muir (Bass) yang memutuskan untuk berhenti kuliah dan bertekad kuat bahwa ia bakal mampu hidup dari musik seperti pamannya seorang musisi cafe yang mampu hidup dari musik. Namun ternyata tak semudah yang dibayangkannya, pada saat band berjalan terjadi konflik internal dalam tubuh dan manajemen band yang merambat ke personal, hingga suatu hari Ade pun harus merantau ke Selandia Baru dan bekerja di sana beberapa tahun.

Di balik pembuatan lirik Pure Saturday yang membius Ade lah yang bertanggung jawab atasnya, terutama di era album pertama (Pure Saturday) dan kedua (Utopia). Meski Suar pun ikut andil namun tak seintens Ade. Yang menarik dalam proses pembuatan lirik, Ade biasanya memenggal prosa yang sebelumnya dia tulis lalu menjadikannya lirik yang utuh dan penuh. Bahkan seniman orkes keroncong asal Bandung, Kartawijaya, mengatakan Pure Saturday kerap memainkan peran yang kuat sebagai “pengamat kesunyian” (the observer of solitude). Hal itu termanifestasi dalam lirik-liriknya.

Lalu, tokoh ketiga, Satria ‘Iyo’ Nurbambang (vocalis), Iyo adalah kawan dekat Aditya ‘Adhi’ Ardinugraha (Gitar) di ITB di fakultas seni rupa. Iyo pula lah yang seringkali menyemangati dengan menggebu kawan-kawannya di Pure Saturday untuk kembali berkarya setelah sekian tahun vakum karena terjadi gesekan internal diantara para personilnya. Hingga ia memberani-nekadkan diri menjadi seorang manajer band yang saat itu sedang kosong, sampai harus menggantikan posisi Suar sebagai vokalis. Permasalahan baru pun muncul, Iyo harus rela kena cibiran fans karena acapkali dibanding-bandingkan dengan Suar. Karisma Suar begitu kuat di kalangan fans Pure saturday. Mereka mengganggap sosok Suar tak tergantikan. Tekanan mental seperti itu yang harus dihadapinya. Dia harus mendobrak dan melawan itu semua (Hal 141). Meski di tengah berbagai cibiran Iyo tetap konsisten menjadi dirinya sendiri. Tekad dan semangat untuk menjadi diri sendiri tertanam dalam benaknya. Dia merasa bahwa dirinya bukan “Suar”, dia adalah “Iyo”. Iyo yang kini adalah vokalis Pure Saturday (Hal 142).

Namun bukan berarti dua tokoh lainnya yaitu si kembar Adhitya “Adhi” Nugraha (Gitar) dan Yudhistira “Udhi” Nugraha (Drum) tak dirundung masalah saat memotori Pure Saturday. Hanya saja dalam hemat saya Idhar tak terlalu menonjolkan rintangan yang  dihadapi kedua aktor tersebut dalam bukunya. Kecuali harus mengejar nilai kuliah yang jauh tertinggal. Begitu juga dengan tokoh Arif Hamdani (Gitar) yang harus mengakali waktu antara bekerja dan maen band.

Saya merasa tak menemukan kekurangan suatu apa dalam buku ini. Cover-nya simple dan terasa pas. Semacam mendeskripsikan Pure Saturday itu sendiri yang sebetulnya memang simple saja. Bermusik sesuai hasrat. Idhar juga nampaknya berupaya keras untuk memadatkan Perjalanan Pure Saturday Setelah 19 Tahun ini. Jika pun ada kekurangan dalam buku ini ia terletak pada foto yang terlalu banyak di dalamnya, terkesan komikal. Walaupun itu cukup membantu mendeskripsikan konteks “waktu” saat itu, namun tetap saja jadinya harus memangkas paragraf yang seharusnya lebih banyak lagi. Meski demikian buat saya bukan masalah yang terlalu besar.

Akhirulkalam, sudah sepatutnya Pure Saturday mendapat tempat yang layak di skena musik Tanah Air bahwa mereka telah membuktikan satu hal -yang walaupun terdengar klasik, keberhasilan sebuah band (bahkan apapun) hanya dapat terjadi jika terus diperjuangkan dan meyakini apa yang telah dilakukan. Sebagaimana penggalan lirik yang terdapat di lagu Buka, Hai kawan masihkah kita ada/ di jalan yang sama/ setelah sekian lama/ seperti dulu kita bersama/ menempuh banyak jalan dan rintangan/ kita tak sendiri….

Beberapa Lagu yang Bikin Semangat Menulis

Gambar

This is my playlist 1 and a half months while i’m writing to fight days with love, banality, resentment, and thankful, of course.
 
1. Godspeed You! Black Emperror
Moya, Blaisey Bailey Finnegan III, Rocket Fall On Rocket Falls, Mother Fucker=Redeemer, Storm, Antennas To Heaven, Terribble Canyon Of Static
 
2. Radiohead
Jigsaw Falling Into Place, Reckoner, 2+2=5
 
3. Pure Saturday
Coklat, Utopian Dream, Di Bangku Taman, Spoken, Labyrinth, Lighthouse, Albatross
 
4. Mono
Are You There?, Dream Oddysey, Silent Flight Sleeping Down, Everlasting Light, Unseen Harbor
 
5. Sigur Ros
Varaeldur, Fjogur Piano
 
6. The Stone Roses
I am The Resurrection
 
7. Mukti-Mukti Mimessis Soul
Matahari, Surat Kepada D, Revolution Is Atau Menitip Mati
 
#Np Terribble Canyon Of Static

Rumah

homesixxx

Rumah adalah tempat dimana seseorang bisa menumpahkan keluh kesah, gelisah, serta merebah resah. Sebuah rumah adalah tempat di mana seseorang dapat bercerita bebas gembira, ceria, juga tertawa. Rumah ialah tempat dimana seseorang dapat membenamkan dan menerbitkan jiwanya sesuka hati. Rumah juga yang mampu menerima dan menolak segala apa untuk masuk dan keluar didalamnya. Rumah pula yang pertama kali mendidik seseorang agar mampu menghadapi dunia luar yang jumud.

Menyenangkan rasanya melihat seorang sahabat kini tengah membangun rumah di sebuah kota kecil sana. Sebuah kota kecil bernama Kuningan, Jabar. Kini rumahnya dalam tahap finishing. Beberapa hari lalu aku menyempatkan diri berkunjung kesana dalam rangka liburan saja. Tak ada yang banyak berubah disana. Kecuali, ambisi saling mendominasi “orang-orang” yang sibuk berpromosi untuk menjadi Bupati. Spanduk ukuran ultra-besar iklan politik pencitraan klasik lagi-lagi merusak pemandangan langit biru.

Kota kecil itu kini memang sedang diincar oleh korporasi bajingan yang terkenal karena telah menaburkan bibit-bibit petaka sosial di daerah-daerah lain di Indonesia, bahkan dunia. Kaki gunung ciremai kini tengah dibidiknya dengan sangat hati-hati. What the fuxxx! -di sebuah kota kecil dimana aku dapat memulung kembali kisah usang yang kadang menghadirkan lelucon diwaktu kosong

Terlepas dari strategi bigot dan despot untuk “mengeksploitasi” kekayaan alam disana, rasa senangku akan keberhasilan sahabatku membangun rumahnya tak akan luntur karenanya. Mengingat aku tahu betul bagaimana cara kerja sahabatku agar mampu membangun rumahnya yang mesti mengeluarkan darah, keringat, air mata, dan juga suka atau tidak harus berhadapan dengan “tragedi.”

Bagaimana ia harus melewati hari-hari memuakkan, dan melawannya, untuk kemudian mampu berdamai dengan dirinya sendiri. Ia pulalah yang mencontohkan padaku bagaimana agar menjadi diri sendiri, dan betapa pentingnya agar seseorang mampu berdiri diatas kakinya sendiri. Selamat kawan. Terima kasih.

Sebelum Kukayuh Jauh

Ada saatnya dimana kemarahan menjadi sesuatu yang niscaya dan malah cenderung anugerah. Ada saatnya marah itu hal yang tidak berguna dan dapat jadi seseorang nampak bodoh karenanya.

Namun perlukah marah itu? Jelas perlu selama ia berada dalam konteks tertentu.

Apakah seseorang akan diam saja melihat penganiyaan publik oleh segelintir elit politik dengan mengabarkan kebohongan di media-media, sedang orang itu tahu kabar sesungguhnya serupa apa? Namun toh jika diberi tahu kebanyakan orang berapatis ria. Mengkonsumsi televisi telah kadung semacam ritual makan dan minum. Lalu yang memberitahu pun menjadi bosan.

Ketika politik tak lebih dari billboard berjalan dan politik pencitraan tak ubahnya pertunjukkan badut-badut moron. Setidaknya saling mengingatkan adalah jalan yang baik meski dengan kemarahan bahwa mereka tak pernah berniat memperbaiki apa yang seharusnya diperbaiki. Atau ketika seseorang yang engkau sayangi berbuat kacau yang seakan ia sedang membunuh dirinya secara perlahan, apakah masih sanggup untuk diam saja? Buat apa guna berkawan, buat apa eksis seorang sahabat? Buat apa mencintai dan dicintai kekasih? Lebih jauh, buat apa kita ada bersama-sama disini? Atau semua pertanyaan itu buang saja ke tempat sampah karena, Buat Apa?

Lalu pantaskah kiranya sekarang jika aku harus marah padamu? Tidak. Sama sekali tidak. Buat Apa? Siapa aku bagimu? Siapa juga kamu buatku? Meski perihal mencintai dan dicintai akan selalu terbuka. Bagaimanapun hidupmu adalah milikmu. Begitupun aku. Aku hargai segala keputusanmu. Semoga kamu dalam keadaan telah memahami apa yang kamu perbuat. With No Plan But Passion!

Engkau Mengicau

Aku mencintai kota ini sejak aku mengenalnya. Pemandangan langit pagi di kota ini nampak berbeda. Gemintangnya seperti enggan pergi. Kadang-kadang padi menguning itu merahimkan puisi. Kokok ayam lebat pohon menghadiri tangis tawa angin. Pengingat terbaik sahur ketimbang alarm handphone. Tapi aku tidak tahu apakah kota ini mencintaiku. Seperti ketidaktahuanku tentangmu malam tadi. Yang tak semenarik pagi dan ritmis gerimis. Tak seperti biasanya. Apakah aku akan merasa kecewa jika kota ini pada saatnya nanti menghadirkan luka-luka baru? Serupa luka lama yang tak sanggup disembuhkan waktu. Aku tak pernah tahu. Tak pernah tahu. Tak mau tahu.

Mancing, Batu Karang, dan Tepian yang Penuh Sampah

Bagiku memancing ikan bukanlah perkara dapat atau tidak mendapat. Memancing ikan  semacam trip yang dapat membuat pikiran dan energi segar kembali. Terlebih di laut yang  terbentang lapang dibawahkan langit yang terbuka luas.

Selain karena Trip udunan. Trip yang tidak terduga pun memang selalu menyenangkan.  Sudah jadi kebiasaan bagiku dan kawan-kawan menempuh rute tak terduga apabila  memancing ikan. Pulau Pari dan Onrust sebagaimana rencana awal ternyata tidak sesuai dalam praktek. Kesempurnaan memang hanya rencana, selebihnya adalah situasi kondisi. Dan kami pun terdampar di pulau Damar. Yang sebelumnya tak pernah kami dengar sama  sekali.

Aku tidak tahu kenapa pulau ini dinamai Damar. Mungkin seseorang yang namanya Damar  pada zaman dahulu menemukan pulau ini, sehingga pulau ini dinamai Pulau Damar, semacam Colombus yang diklaim menemukan Amerika, bedanya, pulau itu tak dinamai Christoper Colombus Island, pikirku saat sampai di sana.

Sesampainya di dermaga pulau, aku tak lekas mengangkat jorang. Pertama-tama yang kulakukan adalah tentu saja menatapnya dan meresapi inchi keindahan di dalamnya. Pepohonan berbaris rapi yang tumbuh meliar. Pasir yang menyisir tepian membelai kaki-kaki kayu dermaga ditingkahi kepiting kecil yang seolah sengaja ditransitkan ombak di atas batu karang cukup besar. Entah burung apa namanya terlihat mengawang membelah angin barat laut menuju utara. Betapa indahnya ombak yang saling berkejaran hanya untuk sampai di tepian. Kemudian mengulanginya lagi. Repetisi natural yang menakjubkan. Airnya pun bening, sebening pagi berkomposisi gerimis.

Namun sayang sekali karang-karang di bawahnya tak sedikit yang telah hancur, mungkin sering tertabrak perahu nelayan yang datang ke sana apabila mengantarkan penumpang yang ingin memancing di pulau itu. Di antara keindahan itu pun tersisip rasa sebal di hati kami. Perihal sampah yang bertebaran sepanjang tepi pulau. Itu sangat merusak pemandangan dan meminuskan keindahan. Serupa baliho kader partai yang berdiri nyaris sepanjang jalan Bekasi-Cikarang-Subang-Lembang-Bandung saat perjalananku ke Bandung tempo hari. Me-mu-ak-kan. 

Ada dua kemungkinan kenapa banyak sampah di tepi pulau. Pertama traveler membuang sampah sembarangan. Namun bukan tanpa alasan traveler membuang sampah di sana, karena juga aku tak melihat tempat sampah terdapat di sana. Kedua, penumpang perahu yang melintasi pulau itu membuang sampah ke laut sehingga sampah itu terbawa ombak dan sampai lah dipulau Damar.