Mancing, Batu Karang, dan Tepian yang Penuh Sampah

Bagiku memancing ikan bukanlah perkara dapat atau tidak mendapat. Memancing ikan  semacam trip yang dapat membuat pikiran dan energi segar kembali. Terlebih di laut yang  terbentang lapang dibawahkan langit yang terbuka luas.

Selain karena Trip udunan. Trip yang tidak terduga pun memang selalu menyenangkan.  Sudah jadi kebiasaan bagiku dan kawan-kawan menempuh rute tak terduga apabila  memancing ikan. Pulau Pari dan Onrust sebagaimana rencana awal ternyata tidak sesuai dalam praktek. Kesempurnaan memang hanya rencana, selebihnya adalah situasi kondisi. Dan kami pun terdampar di pulau Damar. Yang sebelumnya tak pernah kami dengar sama  sekali.

Aku tidak tahu kenapa pulau ini dinamai Damar. Mungkin seseorang yang namanya Damar  pada zaman dahulu menemukan pulau ini, sehingga pulau ini dinamai Pulau Damar, semacam Colombus yang diklaim menemukan Amerika, bedanya, pulau itu tak dinamai Christoper Colombus Island, pikirku saat sampai di sana.

Sesampainya di dermaga pulau, aku tak lekas mengangkat jorang. Pertama-tama yang kulakukan adalah tentu saja menatapnya dan meresapi inchi keindahan di dalamnya. Pepohonan berbaris rapi yang tumbuh meliar. Pasir yang menyisir tepian membelai kaki-kaki kayu dermaga ditingkahi kepiting kecil yang seolah sengaja ditransitkan ombak di atas batu karang cukup besar. Entah burung apa namanya terlihat mengawang membelah angin barat laut menuju utara. Betapa indahnya ombak yang saling berkejaran hanya untuk sampai di tepian. Kemudian mengulanginya lagi. Repetisi natural yang menakjubkan. Airnya pun bening, sebening pagi berkomposisi gerimis.

Namun sayang sekali karang-karang di bawahnya tak sedikit yang telah hancur, mungkin sering tertabrak perahu nelayan yang datang ke sana apabila mengantarkan penumpang yang ingin memancing di pulau itu. Di antara keindahan itu pun tersisip rasa sebal di hati kami. Perihal sampah yang bertebaran sepanjang tepi pulau. Itu sangat merusak pemandangan dan meminuskan keindahan. Serupa baliho kader partai yang berdiri nyaris sepanjang jalan Bekasi-Cikarang-Subang-Lembang-Bandung saat perjalananku ke Bandung tempo hari. Me-mu-ak-kan. 

Ada dua kemungkinan kenapa banyak sampah di tepi pulau. Pertama traveler membuang sampah sembarangan. Namun bukan tanpa alasan traveler membuang sampah di sana, karena juga aku tak melihat tempat sampah terdapat di sana. Kedua, penumpang perahu yang melintasi pulau itu membuang sampah ke laut sehingga sampah itu terbawa ombak dan sampai lah dipulau Damar.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s