Engkau Mengicau

Aku mencintai kota ini sejak aku mengenalnya. Pemandangan langit pagi di kota ini nampak berbeda. Gemintangnya seperti enggan pergi. Kadang-kadang padi menguning itu merahimkan puisi. Kokok ayam lebat pohon menghadiri tangis tawa angin. Pengingat terbaik sahur ketimbang alarm handphone. Tapi aku tidak tahu apakah kota ini mencintaiku. Seperti ketidaktahuanku tentangmu malam tadi. Yang tak semenarik pagi dan ritmis gerimis. Tak seperti biasanya. Apakah aku akan merasa kecewa jika kota ini pada saatnya nanti menghadirkan luka-luka baru? Serupa luka lama yang tak sanggup disembuhkan waktu. Aku tak pernah tahu. Tak pernah tahu. Tak mau tahu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s