Based on a True Story: Biografi Pure Saturday Setelah 19 Tahun

Gambar

Penulis: Idhar Resmadi
Cetakan Pertama, 2013
Diterbitkan oleh Unkl347
Dimensi: 11,1 x 18,1 cm. b/w
230 hlm
ISBN: 978-602-17941-0-4
Harga: Rp.55.000

Budaya mendokumentasikan perjalanan sebuah band minim terjadi di musik Indonesia. Namun tak menutup kemungkinan hal itu dapat terjadi dengan beberapa pengecualian. Pertama, musik yang dihasilkan dari band itu tumbuh dan berkembang bersama kita. Kedua, musik yang kita dengarkan sejak remaja hingga dewasa adalah musik yang memberi definisi berarti pada hidup kita. Sehingga, mentransformasi sebuah musik menjadi pengalaman hidup yang esensial. Ketiga, musik yang dihasilkan dari band itu mampu menembus berbagai generasi, dengan kata lain, musik yang dihasilkan tak terdengar membosankan jika diputar berulang kali ditambah dengan lirik yang relevan sejak dahulu, hari ini, dan esok hari. Dan Pure Saturday adalah salah satu contohnya. Pionir skena indie-pop Indonesia yang perjalanannya, tak berlebihan rasanya, jika didokumentasikan dalam wujud buku.

Grup musik asal Bandung yang lahir di awal 90’an ini telah dianggap menjadi anomali di zamannya. Ketika skena musik independen diriuhkan oleh scene metal, punk, grindcore, dan musik-musik keras lainnya. Pure Saturday tampil dengan wajahnya yang lain. Berikut corak musik dan pola distribusi yang penuh semangat kemandirian (itu lah kenapa dianggap anomali). Tak terkecuali bagaimana mengakali pola bisnis tricky-nya major label. Semangat kemandirian itu menular kepada band-band generasi setelahnya. Pure Saturday lahir pada saat euforia budaya barat dan konsumsi budaya massa di Indonesia melanda, sehingga melahirkan banyak ekspresi anak muda berbau “barat”. Pengaruh “barat” tak hanya menjadi dasar kreativitas mereka, akan tetapi menjadi potret gegar budaya yang mencerminkan pengaruh besar musik asal Tanah Inggris. Seperti The Cure, Ride, Radiohead, Oasis, The Beatles, The Smitht’s, dan masih banyak lagi.

Based on a True Story ini ditulis dengan narasi yang ekspositorik dari sudut pandang orang ketiga. Buku setebal 230 halaman ini memadukan studi pustaka sejumlah referensi tertulis yang kebanyakan dimuat di media massa dan buku, wawancara personil band dan pihak yang selama ini berada di balik layar, kesaksian para sahabat, dan sesama musisi, tak jarang pembaca dibawa ke dalam alam pikiran dan perenungan tokoh-tokohnya. Dapat jadi jika membicarakan Pure Saturday orang juga mesti membicarakan tentang relasi pertemanan dan persahabatan di dalamnya, terutama di komunitas seni yang ada di Bandung. Ini lah yang membuat kota Bandung selalu ‘hidup’, salah satu penyebabnya adalah aktivitas para seniman mudanya.

Persahabatan adalah kata kunci pembuka gerbang Pure Saturday meniti karir bermusiknya dari belum pernah terdengar sama sekali hingga terdengar dimana-mana seperti sekarang.

Rentang waktu 19 tahun bukanlah waktu yang singkat dalam perjalanan sebuah band. Hal itu hanya dapat terjadi jika mempunyai tekad dan komitmen yang baja. Patut dicatat diawal kemunculannya Pure Saturday adalah semantik ‘perlawanan’ terhadap industri musik arus utama, tak lepas dari peran wacana yang beredar di berbagai media massa saat itu. Hai, Kompas, Suara Pembaruan, dan wawancara radio Prambors dengan rapih menjadi klipping pendukung buku ini. Denny MR, Bre Redana, David Tarigan, Harlan Bin, Arian 13 jadi narasumber kompeten yang dikutip dengan jitu dan terang menggambarkan bagaimana konteks yang tengah berlaku saat itu. Termasuk suasana sosial dan politik yang terjadi. Karenanya lagu Kaca menjadi potret muram suasana politik ketika itu.

Idhar Resmadi menulis buku ini dengan sangat apik nan padat. Buku ini terdiri dari 8 bab. Setidaknya ada 3 tokoh dalam narasi yang ditulis Idhar yang paling menonjol ketika menghadapi rintangan. Terlebih rintangan yang sifatnya personal. Tokoh pertama adalah Muhamad Suar Nasution (Ex-vocalis), saat itu dirinya bingung antara harus memilih melanjutkan nge-band di saat band-nya sedang naik daun atau kerja di luar negeri (Yaman), namun, pada akhirnya ia memilih bekerja di luar negeri tetapi tetap berkomitmen akan membantu Pure Saturday dengan waktu dan tenaganya selama libur kerja dan balik ke Indonesia.

Kemudian, Ade Muir (Bass) yang memutuskan untuk berhenti kuliah dan bertekad kuat bahwa ia bakal mampu hidup dari musik seperti pamannya seorang musisi cafe yang mampu hidup dari musik. Namun ternyata tak semudah yang dibayangkannya, pada saat band berjalan terjadi konflik internal dalam tubuh dan manajemen band yang merambat ke personal, hingga suatu hari Ade pun harus merantau ke Selandia Baru dan bekerja di sana beberapa tahun.

Di balik pembuatan lirik Pure Saturday yang membius Ade lah yang bertanggung jawab atasnya, terutama di era album pertama (Pure Saturday) dan kedua (Utopia). Meski Suar pun ikut andil namun tak seintens Ade. Yang menarik dalam proses pembuatan lirik, Ade biasanya memenggal prosa yang sebelumnya dia tulis lalu menjadikannya lirik yang utuh dan penuh. Bahkan seniman orkes keroncong asal Bandung, Kartawijaya, mengatakan Pure Saturday kerap memainkan peran yang kuat sebagai “pengamat kesunyian” (the observer of solitude). Hal itu termanifestasi dalam lirik-liriknya.

Lalu, tokoh ketiga, Satria ‘Iyo’ Nurbambang (vocalis), Iyo adalah kawan dekat Aditya ‘Adhi’ Ardinugraha (Gitar) di ITB di fakultas seni rupa. Iyo pula lah yang seringkali menyemangati dengan menggebu kawan-kawannya di Pure Saturday untuk kembali berkarya setelah sekian tahun vakum karena terjadi gesekan internal diantara para personilnya. Hingga ia memberani-nekadkan diri menjadi seorang manajer band yang saat itu sedang kosong, sampai harus menggantikan posisi Suar sebagai vokalis. Permasalahan baru pun muncul, Iyo harus rela kena cibiran fans karena acapkali dibanding-bandingkan dengan Suar. Karisma Suar begitu kuat di kalangan fans Pure saturday. Mereka mengganggap sosok Suar tak tergantikan. Tekanan mental seperti itu yang harus dihadapinya. Dia harus mendobrak dan melawan itu semua (Hal 141). Meski di tengah berbagai cibiran Iyo tetap konsisten menjadi dirinya sendiri. Tekad dan semangat untuk menjadi diri sendiri tertanam dalam benaknya. Dia merasa bahwa dirinya bukan “Suar”, dia adalah “Iyo”. Iyo yang kini adalah vokalis Pure Saturday (Hal 142).

Namun bukan berarti dua tokoh lainnya yaitu si kembar Adhitya “Adhi” Nugraha (Gitar) dan Yudhistira “Udhi” Nugraha (Drum) tak dirundung masalah saat memotori Pure Saturday. Hanya saja dalam hemat saya Idhar tak terlalu menonjolkan rintangan yang  dihadapi kedua aktor tersebut dalam bukunya. Kecuali harus mengejar nilai kuliah yang jauh tertinggal. Begitu juga dengan tokoh Arif Hamdani (Gitar) yang harus mengakali waktu antara bekerja dan maen band.

Saya merasa tak menemukan kekurangan suatu apa dalam buku ini. Cover-nya simple dan terasa pas. Semacam mendeskripsikan Pure Saturday itu sendiri yang sebetulnya memang simple saja. Bermusik sesuai hasrat. Idhar juga nampaknya berupaya keras untuk memadatkan Perjalanan Pure Saturday Setelah 19 Tahun ini. Jika pun ada kekurangan dalam buku ini ia terletak pada foto yang terlalu banyak di dalamnya, terkesan komikal. Walaupun itu cukup membantu mendeskripsikan konteks “waktu” saat itu, namun tetap saja jadinya harus memangkas paragraf yang seharusnya lebih banyak lagi. Meski demikian buat saya bukan masalah yang terlalu besar.

Akhirulkalam, sudah sepatutnya Pure Saturday mendapat tempat yang layak di skena musik Tanah Air bahwa mereka telah membuktikan satu hal -yang walaupun terdengar klasik, keberhasilan sebuah band (bahkan apapun) hanya dapat terjadi jika terus diperjuangkan dan meyakini apa yang telah dilakukan. Sebagaimana penggalan lirik yang terdapat di lagu Buka, Hai kawan masihkah kita ada/ di jalan yang sama/ setelah sekian lama/ seperti dulu kita bersama/ menempuh banyak jalan dan rintangan/ kita tak sendiri….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s