Month: August 2013

Afirmasi Diri

Seringkali aku bertanya-tanya pada diriku sendiri. Apakah keputusan yang telah aku ambil ini keliru? Menolak menjadi orang kantoran dan memilih hidup untuk menjadi seorang pendidik yang besok hari aku akan sekolah lagi di fakultas pendidikan. Omongan diluar sana memang cukup mengusiku di kala aku sedang bercengkrama dengan kesendirian yang mestinya sublim. Semuanya cuma melihat dari perspektif ekonomi. Dimana seorang pendidik seolah dijauhkan dari harta yang berlimpah ruah. Miskin di masa depan. Jauh dengan pendapatan orang-orang kantoran yang diasumsikan mempunyai pendapatan yang lebih baik. -Tak dapat dipungkiri di Indonesia sendiri profesi pendidik memang kurang begitu mendapat apresiasi yang layak, sekalipun demikian dan setelah kurenungkan baik-baik tetap saja diri ini menegasi pandangan inferior itu. Jika dalam konteks “ekonomi survival”, kuakui aku mengamini inferioritas itu. Selebihnya tidak. Aku memang telah memikirkan banyak aspek dan konsekuensi yang akan aku terima di kemudian hari dengan keputusanku ini. Aku percaya akan selalu ada cara untuk mengakali hal-hal seperti itu. Aku hanya membutuhkan sedikit kreativitas.

Bagiku menjadi pendidik itu bukan cuma soal banyaknya waktu yang dapat aku kelola sesuai mauku melainkan lebih mengarah pada panggilan hidup, aku lebih senang menyebutnya passion. Lagi pula telah setahun lebih aku berada disini, waktu yang cukup untuk mengafirmasi diriku sendiri agar jauh dari kesan-kesan labilis oportunis. Bagusnya yang kuajari merasa senang karena caraku mengajar memang menawarkan demikian namun itu tidaklah cukup sebagai raison d’etre kenapa aku masih bertahan mengajari mereka yang kucintai sepenuh energi meskipun sebelumnya tak ada pendidikan yang menjadi latar belakangku.

Aku tidak akan mengatakan bahwa ini adalah penemuan final dari passion-ku terhadap hidup dan kehidupan. Karena hal itu hanya akan membatasiku untuk tidak berkarya lagi. Sesuatu yang secara serius kujauhi dalam hidup ini.

Disaat yang sama -masih dengan kesendirian, kadang aku heran terhadap orang-orang yang menganggap seseorang yang punya prinsip berbeda dengan dirinya seolah dapat mengetahui masa depan dengan jelas dan malah cenderung merasa benar dengan segala bualannya, padahal itu cumalah sikap pragmatis belaka. Suatu ketidakberdayaan menghadapi situasi hari ini.

Manusia manakah yang dapat mengetahui dengan jelas esok kan seperti apa? Masa depan hampir mustahil diprediksi, nyaris tidak mungkin seseorang mendapat informasi secara menyeluruh atas masa kini. Masa depan tentulah bersinggungan dengan aktivitas budaya, ekonomi, politik masa lalu juga masa kini. Sehingga masa depan akan tetap berada di wilayah kemungkinan satu dan kemungkinan lainnya. Orang-orang pragmatis memang telah terbentuk oleh suatu kondisi dimana kepribadiannya yang utuh terpecah belah atau malah kehilangan dirinya sama sekali. Dalam bahasa Paulo Freire, telah kehilangan fitrah ontologisnya sebagai manusia. Mereka cuma pengguna realitas yang diproyeksikan oleh budaya, ekonomi, dan politik secara tampak atau pun niskala. Tapi semua itu menjadi sesuatu yang wajar mengingat ini adalah era spektakel yang mungkin era ini akan bertahan lama. Spektakular menjadi wajar karena orang-orang telah menganggapnya demikian. Orang lebih senang diberi dari pada memberi. Dicipta dari pada mencipta. Dan mengolah semua itu agar menjadi energi positif bagiku, kukira bukanlah ide yang buruk.

“Perjalanan panjang semakin lapang hanya dahan kering yang terpanggang.” -Pure Saturday