Month: September 2013

Ikut Yuk…ke Pesta Literasi Jakarta 2013

pestaliterasijakarta

Kamu kenal dengan puisi ini?

aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan

kepada hujan yang menjadikannya tiada

Yup betul itu adalah sajak yang berjudul ‘aku ingin’ karya Sapardi Djoko Damono, dan Pak Sapardi akan hadir dan sharing kepada kita semua di acara Pesta Literasi Jakarta 2013.

saparji-djokodamono

Selain itu ada juga Kang Gol A Gong, kenal dong sama dia? Pendiri Komunitas Rumah Dunia di Serang Bogor yang terkenal dengan serial Balada Si Roy-nya ini juga akan datang dan berbagi tentang buku terbarunya di Pesta Literasi Jakarta 2013 yang insyaAlloh akan dilaksanakan pada tanggal 3 November 2013 di Aula Perpustakaan Daerah DKI Jakarta. Jl. Nyi Ageng Serang, Kuningan Lantai 7, Jakarta Selatan.

Gola_Gong

balada si roy

Tak cukup sampai di situ, kalian juga akan ketemu dengan Jonru,  trainer dan blogger yang juga penulis…

View original post 860 more words

Advertisements

Bayangan

Aku mengangkat bayangan kaki-kakiku yang merah kebiru-biruan menuju selatan. Mengejar bayangan kaki-kakimu yang berwarna ungu membosankan. Ditepian jalan aku bertemu dengan bayangan kaki-kaki lain berwarna coklat masam ia lebih kekar ketimbang kaki-kakiku, kaki-kaki lain itu sama-sama mengejar bayangan ungu yang membosankan itu. Namun kaki-kaki lain itu patah dan terburai lalu menyusup ke dalam tanah saat melewati jalan yang dipenuhi duri berlandai-landai. Tidak halnya dengan kaki-kakiku. Meski kecil namun ia kokoh juga tangguh. Kukira kaki-kaki kekar itu tak punya prinsip. Sehingga mudah patah dan goyah. Aku bangga dengan kaki-kakiku. Sebab kaki-kakiku punya prinsip yang tak mungkin lagi digoyang angin, dibekukan dingin, ataupun ditusuk duri. Mereka kini takut jika berhadapan dengan bayangan kaki-kakiku. Kini bayangan kaki-kakiku telah menemu bayangan kaki-kakimu persis tersoroti bulan yang penuh menggantung diatas awan, kala itu juga bayangan kaki-kakiku merasakan getar yang hebat. Kadang pecah dan belah. Barangkali kaki-kakimu mengandung unsur yang membuat kaki-kakiku berpecah belah tak tentu arah, namun tak terburai dan menyusup ke dalam tanah. Kaki-kakimu menyirat syarat yang membuat kaki-kakiku gemetar. Kadang menggeletar keheranan. Beginikah kaki-kakiku saat berderetan dengan kaki-kakimu?

Sebagai September

Barangkali angin akan mengusir cemasmu yang digelayuti muram menggugu. Berpikir akan ada hal ajaib diantara warna pelangi yang tampak kelabu. Musim yang terus bergerak tanpa ampun. Membuat kita lupa bahwa setiap keinginan meminta agar dilunasi. Serupa janji Sangkuriang kepada Dayang Sumbi; yang dalam kegagalannya tetap mengalir darah dengan utuh gairah. Memang rasa bosan merupakan awan gelap sebelum pelangi tiba. Mestinya kita punya cara untuk mengenyahkannya. Meski dalam diam bersaksikan buku-buku yang selalu mampu membunuh waktu di awal pekan. Kau tahu, hujan selalu punya cara menerbitkan sebaris getir dan hasrat mengalun di tiap jatuhnya. Memunculkan kembali masa yang tak ingin kita lupakan. Tak maukah kau mati sebagai hujan?

Suara Malam Memanggilmu

Kita terenyuh pada sebuah gagap yang seringkali datang saat sepi menyublim. Berkaca pada hari demi hari yang dilewati bersama mereka yang kita cintai dengan mata dan muka polos. Dengan harap yang menyergap digemasi lautan cemas. Mungkin kesepian merupakan jalan untuk menujumu dalam diam. Seperti batu-batu sungai yang cuma bertengger di antara hijau pepohonan yang tak pernah dahaga. Ah, kau kira hidup cuma untuk memaknai sesuatu. Kebermaknaan hanya akan bermakna jika hanya ada satu makna yang kau yakini dan perjuangkan dalam gontai dan gemeretak sepatu kerjamu. Burung tak pernah belajar soal makna tapi ia mengajarkan langsung tentang kebahagiaan menjadi bebas di angkasa. Mengepakkan sayap tanpa rasa was-was. Landas. Apakah kita mampu mengangkat kaki-kaki kita tanpa rasa cemas?

Kepada Pagi #1

Aku menggumuli pagi yang dipenuhi sinar mentari. Kulihat sinar itu menembus daun-daun jatuh kering terpanggang. Serupa telur yang gosong diatas koali berapi. Aku berjalan di antara rentetan tanda dan tanya? Adakah cinta yang tak mewaktu? Serupa sinar pagi hari yang tak pernah peduli dengan apa yang disinarinya. Namun ia menghidupi.