Bayangan

Aku mengangkat bayangan kaki-kakiku yang merah kebiru-biruan menuju selatan. Mengejar bayangan kaki-kakimu yang berwarna ungu membosankan. Ditepian jalan aku bertemu dengan bayangan kaki-kaki lain berwarna coklat masam ia lebih kekar ketimbang kaki-kakiku, kaki-kaki lain itu sama-sama mengejar bayangan ungu yang membosankan itu. Namun kaki-kaki lain itu patah dan terburai lalu menyusup ke dalam tanah saat melewati jalan yang dipenuhi duri berlandai-landai. Tidak halnya dengan kaki-kakiku. Meski kecil namun ia kokoh juga tangguh. Kukira kaki-kaki kekar itu tak punya prinsip. Sehingga mudah patah dan goyah. Aku bangga dengan kaki-kakiku. Sebab kaki-kakiku punya prinsip yang tak mungkin lagi digoyang angin, dibekukan dingin, ataupun ditusuk duri. Mereka kini takut jika berhadapan dengan bayangan kaki-kakiku. Kini bayangan kaki-kakiku telah menemu bayangan kaki-kakimu persis tersoroti bulan yang penuh menggantung diatas awan, kala itu juga bayangan kaki-kakiku merasakan getar yang hebat. Kadang pecah dan belah. Barangkali kaki-kakimu mengandung unsur yang membuat kaki-kakiku berpecah belah tak tentu arah, namun tak terburai dan menyusup ke dalam tanah. Kaki-kakimu menyirat syarat yang membuat kaki-kakiku gemetar. Kadang menggeletar keheranan. Beginikah kaki-kakiku saat berderetan dengan kaki-kakimu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s