Month: October 2013

Jakarta, Saat Matahari Di Atas Kepala

Dalam sebuah zine yang bernama Seperak terdapat artikel yang cukup membuatku terkejut. Menyoal penyakit Gridlock yang menjangkiti kota Jakarta. Gridlock dapat berarti tak berawal, tak berakhir, tak berpangkal, tak berujung, atau dengan kata lain kondisi di kota itu akan sampai pada klimaks Kelumpuhan Total. Tak ada ruang gerak untuk kendaraan. Stuck. Melabirin. Sebut sajalah nekropolis yang dibangun para nekrofilis.

Seharusnya aku tak usah terkejut dengan isi artikel itu. Konon dari era Batavia hingga Jakarta, kota itu selalu dihinggapi horor bagi warganya. Jauh dari rasa aman dan nyaman untuk membangun hidup yang lebih baik. Bahkan dalam naskah sunda kuno Jakarta dipersonifikasikan sebagai “leuweung gong-gong, sima gong-gong,” sebuah hutan yang mega horor. Jakarta hanya “dianggap” baik dalam soalan uang. Kukira nyaris populasi seasia telah mengetahui jika kota Jakarta memang suck karena tata kelola yang banal nan chaos bagi mayoritas. Namun lautan berlian bagi para pebisnis bermodal gunung emas a.k.a minoritas: artikel investigatif ini barangkali sedikit menjelaskan soalan Jakarta.

Hanya saja yang membuatku kaget dalam artikel di zine itu adalah sketsa Gridlock-nya. Benar-benar mengerikan. Kukira kota yang dideskripsikan dalam film The City Of God saja kalah dengan kengerian kota Jakarta ini. Yang padahal mayoritas penghuninya adalah para kriminal yang punya kesadisan a la psikopat level III, bandar drugs level kelurahan, junkie tingkat kahyangan, bar-bar ala serigala Alpha di film The Grey, chaos of chaotic, uneducated, dan sebangsanya. Sebuah kota yang dimiskinkan dan dibodohkan.

Apakah hal yang sama dirancang untuk kota Jakarta? Jika City Of God kota yang sangat terbelakang maka Jakarta kebalikannya, Ibu kota Negara. Sebagaimana ibu kota ia mestilah berperawakan modern nan spektakel, sayangnya yang modern itu pada akhirnya cuma soal visual imaging saja. Kesadaran mayoritas masih berada dalam kawasan tradisional. Ironisnya, kesadaran itu beriringan dengan laju kapitalisme-modern yang hampir menguasai segala aspek dan akses. Mayoritas dininabobokan, terbuai dengan pundi dan janji, atau entahlah mungkin keinginan mereka begitu. Atau keinginan-keinginan kita telah dirancang jauh-jauh hari agar menjadi komsumtif. Yang jelas penyimpangan segala-gala mendewai.

Seperti yang kubilang tadi sketsa Gridlock yang ada pada Seperak zine amatlah ngeri, kota Jakarta divisualkan secara rinci, amat sesak, padat, pengap, krisis ditiap lini, nihil nyaman dan aman, dan kata sejenis yang tak bikin enak hati. Labirin Gridlock. Tak adakah solusi bagi kota itu agar membuat warganya, atau pengunjungnya merasa aman dan tenteram? Mengutip Oscar Lange dalam bukunya Teori Ekonomi Sosialisme, kalau tidak salah, bahwa pembangunan ekonomi secara kapitalisme harus dihancurkan total dan dibangun ulang dengan sendi-sendi ekonomi sosialisme.

So, mungkinkah kota Jakarta bakal lebih baik suatu saat nanti? Ah, kota Jakarta untuk dapat dibilang “baik” saja terdengar utopis.

Hal-hal

#Np Silent Flight, Sleeping Down -Mono

Pernahkah engkau merindui sesuatu? Sesuatu yang pernah engkau lakukan dan amat kau sukai sehingga terkadang engkau lupa waktu karenanya atau mungkin lupa makan atau mungkin membantu melupakan patah hatimu yang tidak penting itu. Menukar muram sedihmu dengan sebaris tawa renyah tersumbar. Sesibuk apapun engkau, engkau akan tetap melakukannya karena engkau menyukainya. Karena itu merupakan kebutuhan psikologismu. Karena itu merupakan media ekspresimu. Karena itu merupakan kejujuranmu. Karena itu merupakan kegembiraanmu. Karena itu merupakan bagian dari dirimu. Karena itu adalah dirimu sepenuhnya. Dan kadang aku berpikir setiap hal yang kusukai tak mesti selalu ada alasan dibelakangnya. Seperti anak-anak kecil yang entah kenapa mereka begitu suka bermain bola, memainkan gundu, atau kelayapan hingga petang hari, selain karena frase “aku menyukainya.” Barangkali ini waktu yang tepat bagiku untuk menengok apa yang telah hilang belakangan ini. Hal-hal yang kusukai yang biasa aku lakukan setiap hari.

Sekolah Malala Sekolah

:kami hanya ingin sekolah apa itu salah?

kami tumbuh diantara gegap gempita pucuk senjata. kami tumbuh bersama pepohonan yang tumbang, kran air yang patah, rumah-rumah rusak, tembok-tembok berkeping. dan kami berkembang remaja kala para tentara dan militan memekikkan letupan-letupan diudara. entah mengapa? kami tak tahu. kami tak pernah mengerti.

setiap hari kami dengar tangisan adik-adik kami. meratapi betapa tidak adilnya dunia  yang kami hadapi. setiap hari kami memandangi api membakar ladang kebun-kebun kami, tanaman-tanaman kami yang biasa kami masak saat sarapan pagi sebelum berangkat sekolah.

di lembah swat kami yang dahulu rimbun. dimana alir sungainya  menyeka lelah  saat  pulang sekolah, dimana gradasi laut menaburi sayap-sayap mentari dikicaui burung-burung ababil. pada hari ini tak terdengar sama sekali merdunya. pada hari ini hal yang kami kangeni  telah bertukar api yang berkobar memberangus mimpi dan cita-cita kami.

di lembah yang kami hidupi kini kebodohan makin melekat. kami tak boleh pergi sekolah, kaum kami dilarang pintar. bila kami berkeras hati berangkat sekolah orang tua-orang tua kami lekas diancam  sekelompok militan biadab. dunia terlalu terlambat menggugat.

dunia terlalu sibuk mengkorupsi informasi. dunia terlalu kecut mengetahui ketidakadilan di lembah kami yang makin menjadi-jadi. yang makin menjadi-jadi. entah mengapa? kami tak tahu. kami tak pernah mengerti.

meski langkah kami diselimuti ancaman-ancaman peluru. tak sesentipun kami gentar berbalik mundur. sebab kami telah bersumpah pada setiap buku yang kami baca. pada mereka yang miskin dan bodoh. kami harus menjadi siswi-siswi pintar. sehingga kerabat-kerabat kami yang mati terlalu dini tidak sia-sia. bahagia disurga sana.  biarpun kaki-kaki kami diburu militan yang keji. perjuangan kami tak akan pernah berhenti. tekad kami tak akan pernah mati. sekalipun timah panas menyarang dalam kepala kami. hari-hari kami. keremajaan kami.

AN: pernah dicetak di Sorakudazine, sebuah zine lokal kota Kuningan.

Sesaat Sehabis Pagi

Kadang aku merasa heran dengan seseorang yang terlalu mudah menjustifikasi seseorang lainnya hanya karena orang itu baru kenal satu dua hari dan merasa dekat satu sama lain. Semudah ia mengoreksi nilai-nilai UTS di sekolah. Apakah aku mendapat nilai 60, 75, atau 95? Mengingat kita baru saja kenal. Kita belum tahu apa-apa tentang apa-apa dalam diri kita. Kecuali soal visual masing-masing. Dan yang parah darinya, terlalu jauh meleset dan melesat entah kemana. Seolah terjun bebas dari ketinggian Everest untuk kemudian menjemput remuk redam karena nilai-nilai yang engkau buat atas dasar keabsurdan. Tidak jelas juga. Seperti banyolanku ini. Atau jangan-jangan kita lah contoh absurd yang acapkali dibicarakan para pujangga pra-Camus. Tapi sesungguhnya aku tidak terlalu ambil pusing atasnya. Toh setiap orang punya daya imajinasi tinggi (rasanya ini pun imajinasi). Dan lagi dirimu punya hak prerogatif dalam mensubjetifkan sebuah hal. Sebuah bualan barangkali lebih tepat dalam hal diriku pada dirimu. Amat tidak penting memang. Lagi pula aku memang seorang lelaki yang tidak penting untuk kau pikiri. Tak pantas untuk mendekati (mu). Apalagi kau cintai. Apalagi?

but fast justification thats not good to your healthy, dear…