Sesaat Sehabis Pagi

Kadang aku merasa heran dengan seseorang yang terlalu mudah menjustifikasi seseorang lainnya hanya karena orang itu baru kenal satu dua hari dan merasa dekat satu sama lain. Semudah ia mengoreksi nilai-nilai UTS di sekolah. Apakah aku mendapat nilai 60, 75, atau 95? Mengingat kita baru saja kenal. Kita belum tahu apa-apa tentang apa-apa dalam diri kita. Kecuali soal visual masing-masing. Dan yang parah darinya, terlalu jauh meleset dan melesat entah kemana. Seolah terjun bebas dari ketinggian Everest untuk kemudian menjemput remuk redam karena nilai-nilai yang engkau buat atas dasar keabsurdan. Tidak jelas juga. Seperti banyolanku ini. Atau jangan-jangan kita lah contoh absurd yang acapkali dibicarakan para pujangga pra-Camus. Tapi sesungguhnya aku tidak terlalu ambil pusing atasnya. Toh setiap orang punya daya imajinasi tinggi (rasanya ini pun imajinasi). Dan lagi dirimu punya hak prerogatif dalam mensubjetifkan sebuah hal. Sebuah bualan barangkali lebih tepat dalam hal diriku pada dirimu. Amat tidak penting memang. Lagi pula aku memang seorang lelaki yang tidak penting untuk kau pikiri. Tak pantas untuk mendekati (mu). Apalagi kau cintai. Apalagi?

but fast justification thats not good to your healthy, dear…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s