Jakarta, Saat Matahari Di Atas Kepala

Dalam sebuah zine yang bernama Seperak terdapat artikel yang cukup membuatku terkejut. Menyoal penyakit Gridlock yang menjangkiti kota Jakarta. Gridlock dapat berarti tak berawal, tak berakhir, tak berpangkal, tak berujung, atau dengan kata lain kondisi di kota itu akan sampai pada klimaks Kelumpuhan Total. Tak ada ruang gerak untuk kendaraan. Stuck. Melabirin. Sebut sajalah nekropolis yang dibangun para nekrofilis.

Seharusnya aku tak usah terkejut dengan isi artikel itu. Konon dari era Batavia hingga Jakarta, kota itu selalu dihinggapi horor bagi warganya. Jauh dari rasa aman dan nyaman untuk membangun hidup yang lebih baik. Bahkan dalam naskah sunda kuno Jakarta dipersonifikasikan sebagai “leuweung gong-gong, sima gong-gong,” sebuah hutan yang mega horor. Jakarta hanya “dianggap” baik dalam soalan uang. Kukira nyaris populasi seasia telah mengetahui jika kota Jakarta memang suck karena tata kelola yang banal nan chaos bagi mayoritas. Namun lautan berlian bagi para pebisnis bermodal gunung emas a.k.a minoritas: artikel investigatif ini barangkali sedikit menjelaskan soalan Jakarta.

Hanya saja yang membuatku kaget dalam artikel di zine itu adalah sketsa Gridlock-nya. Benar-benar mengerikan. Kukira kota yang dideskripsikan dalam film The City Of God saja kalah dengan kengerian kota Jakarta ini. Yang padahal mayoritas penghuninya adalah para kriminal yang punya kesadisan a la psikopat level III, bandar drugs level kelurahan, junkie tingkat kahyangan, bar-bar ala serigala Alpha di film The Grey, chaos of chaotic, uneducated, dan sebangsanya. Sebuah kota yang dimiskinkan dan dibodohkan.

Apakah hal yang sama dirancang untuk kota Jakarta? Jika City Of God kota yang sangat terbelakang maka Jakarta kebalikannya, Ibu kota Negara. Sebagaimana ibu kota ia mestilah berperawakan modern nan spektakel, sayangnya yang modern itu pada akhirnya cuma soal visual imaging saja. Kesadaran mayoritas masih berada dalam kawasan tradisional. Ironisnya, kesadaran itu beriringan dengan laju kapitalisme-modern yang hampir menguasai segala aspek dan akses. Mayoritas dininabobokan, terbuai dengan pundi dan janji, atau entahlah mungkin keinginan mereka begitu. Atau keinginan-keinginan kita telah dirancang jauh-jauh hari agar menjadi komsumtif. Yang jelas penyimpangan segala-gala mendewai.

Seperti yang kubilang tadi sketsa Gridlock yang ada pada Seperak zine amatlah ngeri, kota Jakarta divisualkan secara rinci, amat sesak, padat, pengap, krisis ditiap lini, nihil nyaman dan aman, dan kata sejenis yang tak bikin enak hati. Labirin Gridlock. Tak adakah solusi bagi kota itu agar membuat warganya, atau pengunjungnya merasa aman dan tenteram? Mengutip Oscar Lange dalam bukunya Teori Ekonomi Sosialisme, kalau tidak salah, bahwa pembangunan ekonomi secara kapitalisme harus dihancurkan total dan dibangun ulang dengan sendi-sendi ekonomi sosialisme.

So, mungkinkah kota Jakarta bakal lebih baik suatu saat nanti? Ah, kota Jakarta untuk dapat dibilang “baik” saja terdengar utopis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s