Month: November 2013

#5BukuDalamHidupku Penjara ke Penjara

Ini adalah hari terakhir untuk proyek #5BukuDalamHidupku. Pukul 07.00 WIB saya harus bersiap pergi ke Ciater selama 2 hari terkait dengan pekerjaan, sekaligus tentu saja bersenang-senang. Itu artinya saya tidak mau “diganggu” dengan yang lain-lain. Lagi pula jauh-jauh hari saya telah menertibkan diri untuk tidak membuka internet jika sedang di luar kontrakan, kecuali kepepet. Haha. Karena saya ingin menikmati benar aktivitas di luaran. Saya memang bukan orang yang pintar mengatur “kenikmatan” jika sudah dihadapkan dengan internet. Mengingat saya punya pengalaman tak menyenangkan karenanya.

Akan tetapi kini saya punya pendapat lain akan hal itu, ada waktu di mana kita meng-intens-kan diri dengan realitas dan ada waktu di mana kita menceburkan diri dengan mayasitas. Meskipun di hari ini sebagian orang beranggapan jika no internet i die, sejauh ini bagi saya idiom itu kurang berlaku. Ah, bukankah dalam hidup ini kita harus cermat dalam memilih kepentingan meskipun kadang-kadang yang tidak penting itu menjadi penting. Bukanlah ide buruk jika semakin saya percepat proyekan ini, semakin ringan pula saya melangkahkan kaki ke Ciater, setidaknya bisa tidur nyenyak dalam perjalanan. Motivasi saya sederhana saja untuk ikutan proyekan ini, menulis dengan tertib selama lima hari berturut-turut.

Sebetulnya hingga catatan ini ditulis saya masih bingung untuk memilih buku mana lagi yang akan dijadikan penutup. Saya tidak pernah merencanakan buku apa saja yang akan diikutkan untuk proyek ini. Saat menulispun saya tidak pernah berpikir untuk menulis “harus” bagaimana dan seperti apa. Ketika menulis yang saya butuhkan hanyalah menulis. Begitulah. Dan dari yang menarik terseliplah yang paling menarik, bukankah begitu watak manusia? Selalu meminta yang lebih. Tak terelakkan, yang paling menarik dari proyekan ini tentu saja, temanya: buku dalam hidupku, bukan hidupmu. Jadi, saya hanya mengikuti naluri saja ketika mengamati rak yang menggantung di dalam kamar. Meraba-raba buku, mengambil buku dari rak, memasukannya kembali karena dirasa kurang cocok, hingga akhirnya pilihanpun tertuju pada buku Dari Penjara ke Penjara Jilid 1, Tan Malaka. Artinya juga proyekan ini dibuka dan ditutup oleh Tan Malaka. Harus saya akui memang jika saya Tan Malaka fansboy.

penjara

Sekilas Dari Penjara ke Penjara; Tan mulai dekat dengan kehidupan politik sejak 1921 saat ia selesai menempuh pendidikannya di Harlem Belanda. Kedekatannya dengan Sarekat Islam dan Serikat Buruh Kereta Api (VSTP) membuatnya percaya akan pentingnya persatuan Islam dan Komunis untuk menghalau politik devide et impera dari Kolonial Belanda. Sejak saat itu, ia terlibat aktif dalam aksi-aksi mogok ataupun perlawanan buruh di beberapa tempat. Sehingga ia sempat dibuang ke Kupang. Ia pun sempat meloloskan diri ke Filipina dan Singapura.

Perjuangannya tak mentok di perjuangan fisik semata. Hal yang luar biasa darinya adalah ia pandai menulis. Semasa hidupnya ia telah banyak menuliskan pemikiran-pemikirannya. Dari Penjara ke Penjara salah satunya. Buku ini merupakan manifestasi akan cita-cita tentang sebuah republik yang merdeka. Pemikiran kritisnya dalam karya tulis membuat pihak kolonialisme termasuk Belanda, Amerika, Inggris dan Jepang ketakutan. Dengan rencana-rencana buruk para kolonialis membuat ruang gerak Tan semakin sempit. Maka tak heran jika hari-hari Tan diliputi pedih peri. Dikejar, diburu, dijebloskan ke berbagai penjara negara ke negara dan yang paling memilukan dijebloskan di penjara tanah airnya sendiri.

Saya tidak yakin jika saya berada pada posisi Tan Malaka di tengah gejolak perjuangan kemerdekaan saat itu, masih sempat-sempatnya untuk menulis, padahal era perang seperti itu rasanya ngapain juga buat nulis. Tapi bukan Tan namanya jika ia berakal pendek, dengan ia menuliskan pemikiran-pemikirannya ketika itu, pada masa sekarang khalayak dapat mempelajari apa yang terjadi di masa lampau melalui tulisan-tulisannya. Karena sesungguhnya masa lalu adalah bagian dari masa kini yang akan membentuk masa depan.

Kita beruntung pernah diingatkan sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer, bahwa, orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” Tan Malaka tak pernah hilang dari masyarakat dan sejarah karena ia telah menulis, meski pada orde baru karya-karyanya sempat diberangus sebab intervensi politik. Namun, seperti yang pernah Tan ucapkan, “biarlah sejarah diri saya, saya pasrahkan pada waktu.” Kini waktupun sudah menjawabnya, karyanya-karyanya banyak bermunculan dan dicetak ulang yang mudah diakses publik. Sejalan dengan itu jauh sebelum tahun 2013 datang yang sebentar lagi akan habis, tepatnya, 1932, Tan pernah berkata dihadapan polisi Inggris, Murphy, di Hongkong, tanpa gentar ia berkata: “ingatlah! Bahwa dari dalam kubur suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi!”

Advertisements

#5BukuDalamHidupku Si Kancil, Bergema Dari Era ke Era

Legenda si Kancil tak akan pernah lekang hingga berabad-abad. Mungkin ada benarnya. Dongeng tentang Kancil ini selalu diminati oleh anak-anak Indonesia. Nenek-kakek, bapak-ibu kita hampir selalu menghadirkan dongeng Si Kancil sebagai pengantar tidur paling sering dibaca dan diperdengarkan, jika bukan, dongeng terfavorit menjelang tidur. Jika dalam sebuah film terdapat Original Soundtrack, maka sebelum seorang bocah kecil tidurpun hadirlah Original Bedtime Story. Hehe. Meskipun bagi sebagian orang dongeng ini masih perlu ditinjau ulang jika dipersembahkan bagi anak-anak Indonesia berusia antara 6-13 tahun. Konon mengandung unsur licik pada karakter Kancil.

Tak dapat dipungkiri, dengan dongeng seseorang tergolong lebih mudah dan komunikatif menyampaikan gagasan dan buah pikirannya. Begitu juga yang sering dilakukan oleh bapak ketika menjelang tidur sewaktu saya berusia antara 7-10 tahunan, hampir selalu dilulabi dengan dongeng Si Kancil yang beda-beda versi. Bisa saja beliau memakai versinya sendiri. Sehingga ini membuat saya penasaran ingin membaca dongeng Si Kancil. Adapun beberapa contoh dongeng tentang Si Kancil yang sering dibacakan untuk anak-anak SD seperti Si Kancil Jahil yang isinya tentang Kancil yang menjahili beruang yang bodoh dan pemalas, ada juga Kancil Menipu Anjing, ataupun Kancil Menipu Buaya. Namun, saya rasa dongeng Si Kancil yang paling populer dikalangan anak-anak Indonesia ketika itu atau malah hingga kini ialah Kancil Mencuri Timun.

Diceritakan jika Si Kancil mencuri mentimun di kebun punya Pak Tani yang subur. Sebagaimana pencuri ia tidak akan ketahuan oleh yang merasa dicuri. Awalnya, Pak Tani merasa heran kenapa mentimunnya makin hari makin berkurang. Dia pikir ada hama atau binatang liar yang memakannya. Ia pun geram dan ingin tahu siapa pelakunya, dibuatlah orang-orangan sawah di kebunnya yang dirancang khusus untung menjebak pelaku pemakan mentimun tanpa seizinnya itu. Si Kancil berjalan menuju orang-orangan sawah itu dengan niatan minta maaf karena memakan mentimunnya. Orang-orangan sawah itu bekerja dengan baik mengelabui Si Kancil. Dikiranya orang-orangan sawah itu Pak Tani oleh Si Kancil.

Aha! Orang-orangan sawah itu berhasil menangkap pencuri pemakan buah mentimun. Ini berarti strategi Pak Tani berhasil. “Ternyata kau, kancil!,” pungkasnya. Betapa senangnya ia mengetahui jika Si Kancil yang dikenal cerdik dengan mudahnya tertipu oleh orang-orangan sawah. Si Kancilpun dibawa pulang dengan cara dimasukan ke dalam karung oleh Pak Tani hendak disate. Setelah sampai rumah Pak Tani menjebloskan Kancil ke dalam kurungan semacam kurungan ayam yang terbikin dari pipihan bambu. Pak Tani berniat untuk memotongnya esok pagi saja.

Pada suatu malam Si Kancil melihat seekor Anjing lewat di depan kurungannya. Bagi Kancil ini kesempatan emas untuk lepas dari kurungan yang menyebalkan ini! Lalu, Kancil bercerita pada Anjing jika esok pagi ia akan dibawa jalan-jalan oleh Pak Tani dan keluarganya. Anjing merasa tertarik. Ia percaya begitu saja dengan cerita Kancil yang kedengarannya akan membawa kebahagiaan baginya. Anjing, tanpa pikir panjang menyegerakan agar Kancil bertukar tempat dengannya. Anjing di dalam, Kancil keluar. Meski begitu anjing merasa gembira karena besok pagi ia akan dibawa jalan-jalan oleh Pak Tani sekeluarga. Keesokan paginya ketika Pak Tani hendak memotong Si Kancil bergegaslah ia menuju kurungan, apa yang ditemukan olehnya ternyata kekagetan semata. Kenapa dalam kurungan ada Anjing penjaga rumahnya? Kemana Si Kancil yang hendak kusate itu! Begitulah singkatnya cerita Si Kancil Mencuri Timun.

Dongeng merupakan bentuk sastra yang memiliki peran besar dalam pembentukan karakter anak. Berbagai karakter dalam dongeng akan memengaruhi pikiran anak-anak untuk meneladani karakter tokoh yang terdapat dalam dongeng. Seperti yang saya bilang di awal tulisan masih terjadi perdebatan sebagian pihak, terutama dikalangan akademisi mengenai dongeng Si Kancil Mencuri Timun apakah patut atau tidak diperuntukkan bagi anak-anak Indonesia? Di satu pihak, sepakat karena Kancil itu cerdik dan kreatif yang sepantasnya ditiru oleh anak-anak, bagaimanapun juga kreativitas harus ditanam sejak dini. Di pihak lain tidak sepakat karena Kancil rela berbuat licik untuk mendapati apa yang dia mau. Saya percaya jika salah satu fungsi dari sastra adalah berguna dan menyenangkan, maka karenanya jika cerita Si Kancil itu berguna dan menyenangkan kenapa tidak menyepakatinya saja? 😀

kancil

#5BukuDalamHidupku Hallo Ilmu Pengetahuan Sosial

“Memangnya pelajaran apa yang benar-benar kamu sukai?.”

Begitulah pertanyaan bu guru saat saya duduk di bangku SMA. Pertanyaan tersebut timbul karena saya punya masalah dengan pelajaran matematika yang sempat saya benci waktu itu. Matematika laksana teroris yang meneror benak saya dan kawan-kawan saya ketika itu. Kami menganggap pelajaran matematika sebagai pelajaran paling garing mega membosankan. Tak dinamis. Statis. Jauh dari rasa nikmat dalam belajar, apalagi cinta dengannya, yang belakanganpun saya ketahui justru sebaliknya. Lalu adakah yang salah saat itu? Jika ada siapakah yang salah? Kami atau gurunya? Entahlah, yang jelas waktu itu tanpa rasa ragu saya langsung menjawab pertanyaan bu guru, “sosiologi, bu!”

Ah, Sosiologi? Ini dapat berarti ada korelasinya dengan Ilmu Pengetahuan Sosial.

Tak sedikit definisi soal sosiologi mengingat pola tingkah laku suatu masyarakat dari hari ke hari mengalami perubahan, seiring dengan produktivitas masyarakat manusia itu sendiri yang tak bisa lepas dari iklim alam, ruang, dan waktu di mana ia tinggal dan hidup. Tak ubahnya definisi “hipster” yang tak pernah menemu satu pakem. Menarik memang. Namun saya lebih menyukai sosiologi menurut Allan Johnson, menurutnya, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari kehidupan dan perilaku, terutama dalam kaitannya dengan suatu sistem sosial dan bagaimana sistem tersebut memengaruhi orang dan bagaimana pula orang yang terlibat di dalamnya memengaruhi sistem tersebut. Maka sosiologi, tidak bisa tidak, menjadi pelajaran favorit saat itu bahkan hingga kini.

IPS II

Sedikit melongok ke belakang agak jauh. Sejak SD kelas IV saya sudah menyenangi pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, tanpa saya tahu alasannya kenapa. Barangkali bapak punya pengaruh besar dalam hal itu karena sering mengajak saya berpergian, sekedar menonton pertunjukan seni atau ngobrol ngalor-ngidul dengan kawan-kawannya yang nampak oleh saya sangat mengasyikan.

Adalah LKS (Lembar Kerja Siswa) Ilmu Pengetahuan Sosial yang pertama kali memperkenalkan saya dengan ilmu-ilmu sosial. Ketika itu sekolah saya selalu berlangganan LKS terbitan Sarana Panca Karya yang hingga sekarang ternyata keberadaannya masih berkibar. Hampir selalu menemukan keasyikan tersendiri saat membaca dan mengerjakan lembar demi lembar LKS, tanpa harus disuruh orang tua untuk membacanya. Karena sering membaca LKS IPS secara otomatis akan berlanjut ke buku paket IPS yang jauh lebih tebal dari LKS. Sebab di sana saya akan menemukan keasyikan yang lebih komplit. Ini kontras dengan pelajaran Matematika yang kurang saya sukai.

Salah satu isi materi dalam buku paket itu adalah peta. Betapa merasa herannya saya saat itu melihat peta kota Kuningan dengan kota Bandung yang jaraknya sejengkalpun tidak. Tapi jika berkunjung beneran, kok jauh, ya? Ah, imajinatif bukan? Belum lagi jika saya membaca materi tentang keberagaman budaya dan alam Indonesia yang indah permai dari Sabang hingga Merauke. Bahwa setiap daerah mempunyai adat-istiadatnya sendiri. Di tambah dengan visual alam yang menakjubkan tiada tara. Menarik sekali! Alangkah konyolnya jika sekarang terdapat Front Anti-Keberagaman yang konon sering mengganggu ketenteraman sebagian warga. Jangan-jangan mereka tak pernah membaca IPS, ya? Kasian sekali. Belum cukup sampai di situ, di buku itu terpampang gunung-gunung di berbagai daerah di Indonesia yang tak akan pernah dipunyai negara macam Singapura atau Italia sekalipun. Apalagi jika membuka buku atlas. Di mana terdapat berbagai bendera negara di dalamnya yang mana saya selalu membayangkan suatu saat nanti saya harus pergi ke negara yang benderanya berwarna merah, putih, biru horizontal dan berbicara bahasa mereka, atau menyambangi negara yang benderanya berwarna putih dengan merah menyilang serupa kompas arah mata angin. Yah…, walaupun belum terkabul hingga kini.

IPS I

Andai sekarang bu guru SMA kembali melontarkan pertanyaan yang sama, “memangnya pelajaran apa yang benar-benar kamu sukai?.” Sambil tersenyum santai saya akan menjawab, “masih sosiologi, bu.”

#5BukuDalamHidupku Resurjensi Diri dan Madilog

Rasanya sudah lama juga saya tak corat-coret di blog ini. Jika di tanya alasannya kenapa? Maka alasan itu benar-benar klasik nan basi, yaitu, sibuk ini itu sana sini. Ah, sesungguhnya alasan sibuk adalah alasan paling artifisial yang pernah manusia bikin. Dan memang lebih tepatnya, malas. Malas untuk menulis. Bukan karena tidak ada bahan yang ingin ditulis tapi karena malas saja. Hingga saya melihat lini kala twitter seorang kawan –Irwan Bajang, membuat proyek menulis dengan usungan tema #5BukuDalamHidup. Lima buku yang berpengaruh dalam hidup, minimal berkesan dalam hidup kita, katanya.

Menarik bukan? Apa salahnya kalau saya menuliskannya di blog ini. Meski saya tak tahu pasti buku apa saja yang mengesani hidup saya hingga sekarang. Namun, yang pertama kali muncul di pikiran saya saat membaca clue untuk ikut proyekan itu langsung jatuh pada magnum opus Tan Malaka, Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika). Sebuah “harta karun” patut baca sebelum manusia menemu ajal.

Saya tidak ingat kapan pertama kali mendengar nama Tan Malaka yang jelas namanya tercantum dalam lirik Belati Kalam Profan milik Homicide, sebuah kolektif hip-hop asal Bandung yang sukses pula mengusik hidup saya agar mencari tahu tentangnya. Di tambah seorang kawan yang juga sama berisiknya agar saya mencari tahu sosok Tan Malaka ini. Baiklah, saya pun mulai mencari tahu informasi tentangnya dari mana saja. Internet memang memberikan informasi yang cukup tentangnya, namun tidak cukup puas rasanya jika saya tak memiliki buah karyanya. Pada suatu waktu saya dan seorang kawan secara sengaja hunting karya-karya Tan Malaka, dan salah satunya adalah Madilog. Magnum opus yang kelak turut serta mengubah pemikiran saya dalam memandang hidup.

Setiap orang tentu (mungkin) pernah mengalami titik terendah dalam hidupnya. Di mana orang itu mengalami krisis eksistensial yang sampai pada tahap tak memercayai siapa dan apapun yang ada di dunia ini. Termasuk buku-buku yang pernah dibaca sebelumnya. Sebabnya macam-macam, bisa karena lingkungan akademis, tempat kerja, politik praktis, keluarga, atau apa saja yang dapat membuat kita muak dan ingin muntah dengan semua yang terlihat. Pernah? Saya pernah.

Jika dekadensi adalah istilah untuk manusia dalam titiknya yang paling rendah, maka saat itu saya sedang mengalaminya. Terutama saat berada di tengah organisasi yang kala itu saya cukup aktif di dalamnya. Sebuah organisasi yang menjangkiti penyakit bangsa ini yang padahal jauh-jauh hari telah dilawan Kartini, yaitu, parasit feodalistik yang berorientasi pada total hegemoni segelintir “penguasa”. Saat berada dalam organisasi itu saya merasa hari demi hari semakin gelap berkabut, mirip judul cerpen Ki Pandji Kusmin, Langit Makin Mendung. Lebih dari itu semua yang terlihat dihadapan muka hanyalah bentuk kebiadaban pada kemanusiaan. Anehnya, saya malah merelakan waktu, biaya, dan tenaga untuknya. Saya ingin pergi darinya tetapi saya tidak tahu dengan cara apa agar dapat pergi darinya. Karena terkait “sumpah” organisasi. Ada rasa ketakutan dalam diri untuk meninggalkan organisasi. Batin dan pikiran pun tak dapat bernegosiasi. Berperang setiap hari. Untuk bunuh diri pun rasanya saya tak punya kendali. 😀

Sedari kecil saya memang punya hobi membaca, saya pikir daripada terus-terusan memikirkan yang tidak-tidak, apa salahnya saya membaca Madilog yang kebetulan didapat sewaktu hunting. Madilog ditulis Tan lebih kurang 8 bulan, dari 15 Juli 1942 sampai 30 Maret 1943 (berhenti 15 hari), 720 jam, ialah kira-kira 3 jam sehari. Tan menulisnya saat berada dalam kondisi yang serba kekurangan di segala aspek. Sangat menyedihkan. Dari situ saja sudah membuat hati saya bergetar sehingga memantik gebu semangat untuk menandaskannya.

Tak mudah memang untuk memahami apa yang terdapat dalam Madilog, namun sebisanya saya kaji lembar demi lembar. Hingga pada lembaran tersebut saya menemukan “pencerahan” yang tak saya dapatkan dari siapapun dan buku manapun yang pernah saya baca. Banyak kecocokan perspektif individu dan sosial antara saya dengan apa yang ditulisnya, terutama yang sedang saya alami saat itu. Seakan saya diberi dukungan untuk berani bergerak menjalani hari saat suara-suara lain enggan bersuara satu patah kata pun. Setelah tandas membaca buku itu saya seolah mendapat energi baru yang padahal kala itu sedang mengalami degradasi hidup. Energi yang hingga saat ini masih bersemayam dalam tubuh dan pikiran saya. Karena buku ini juga saya tak pernah bosan untuk belajar memahami apa yang seharusnya dipahami. Hidup.

Madilog