#5BukuDalamHidupku Resurjensi Diri dan Madilog

Rasanya sudah lama juga saya tak corat-coret di blog ini. Jika di tanya alasannya kenapa? Maka alasan itu benar-benar klasik nan basi, yaitu, sibuk ini itu sana sini. Ah, sesungguhnya alasan sibuk adalah alasan paling artifisial yang pernah manusia bikin. Dan memang lebih tepatnya, malas. Malas untuk menulis. Bukan karena tidak ada bahan yang ingin ditulis tapi karena malas saja. Hingga saya melihat lini kala twitter seorang kawan –Irwan Bajang, membuat proyek menulis dengan usungan tema #5BukuDalamHidup. Lima buku yang berpengaruh dalam hidup, minimal berkesan dalam hidup kita, katanya.

Menarik bukan? Apa salahnya kalau saya menuliskannya di blog ini. Meski saya tak tahu pasti buku apa saja yang mengesani hidup saya hingga sekarang. Namun, yang pertama kali muncul di pikiran saya saat membaca clue untuk ikut proyekan itu langsung jatuh pada magnum opus Tan Malaka, Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika). Sebuah “harta karun” patut baca sebelum manusia menemu ajal.

Saya tidak ingat kapan pertama kali mendengar nama Tan Malaka yang jelas namanya tercantum dalam lirik Belati Kalam Profan milik Homicide, sebuah kolektif hip-hop asal Bandung yang sukses pula mengusik hidup saya agar mencari tahu tentangnya. Di tambah seorang kawan yang juga sama berisiknya agar saya mencari tahu sosok Tan Malaka ini. Baiklah, saya pun mulai mencari tahu informasi tentangnya dari mana saja. Internet memang memberikan informasi yang cukup tentangnya, namun tidak cukup puas rasanya jika saya tak memiliki buah karyanya. Pada suatu waktu saya dan seorang kawan secara sengaja hunting karya-karya Tan Malaka, dan salah satunya adalah Madilog. Magnum opus yang kelak turut serta mengubah pemikiran saya dalam memandang hidup.

Setiap orang tentu (mungkin) pernah mengalami titik terendah dalam hidupnya. Di mana orang itu mengalami krisis eksistensial yang sampai pada tahap tak memercayai siapa dan apapun yang ada di dunia ini. Termasuk buku-buku yang pernah dibaca sebelumnya. Sebabnya macam-macam, bisa karena lingkungan akademis, tempat kerja, politik praktis, keluarga, atau apa saja yang dapat membuat kita muak dan ingin muntah dengan semua yang terlihat. Pernah? Saya pernah.

Jika dekadensi adalah istilah untuk manusia dalam titiknya yang paling rendah, maka saat itu saya sedang mengalaminya. Terutama saat berada di tengah organisasi yang kala itu saya cukup aktif di dalamnya. Sebuah organisasi yang menjangkiti penyakit bangsa ini yang padahal jauh-jauh hari telah dilawan Kartini, yaitu, parasit feodalistik yang berorientasi pada total hegemoni segelintir “penguasa”. Saat berada dalam organisasi itu saya merasa hari demi hari semakin gelap berkabut, mirip judul cerpen Ki Pandji Kusmin, Langit Makin Mendung. Lebih dari itu semua yang terlihat dihadapan muka hanyalah bentuk kebiadaban pada kemanusiaan. Anehnya, saya malah merelakan waktu, biaya, dan tenaga untuknya. Saya ingin pergi darinya tetapi saya tidak tahu dengan cara apa agar dapat pergi darinya. Karena terkait “sumpah” organisasi. Ada rasa ketakutan dalam diri untuk meninggalkan organisasi. Batin dan pikiran pun tak dapat bernegosiasi. Berperang setiap hari. Untuk bunuh diri pun rasanya saya tak punya kendali. 😀

Sedari kecil saya memang punya hobi membaca, saya pikir daripada terus-terusan memikirkan yang tidak-tidak, apa salahnya saya membaca Madilog yang kebetulan didapat sewaktu hunting. Madilog ditulis Tan lebih kurang 8 bulan, dari 15 Juli 1942 sampai 30 Maret 1943 (berhenti 15 hari), 720 jam, ialah kira-kira 3 jam sehari. Tan menulisnya saat berada dalam kondisi yang serba kekurangan di segala aspek. Sangat menyedihkan. Dari situ saja sudah membuat hati saya bergetar sehingga memantik gebu semangat untuk menandaskannya.

Tak mudah memang untuk memahami apa yang terdapat dalam Madilog, namun sebisanya saya kaji lembar demi lembar. Hingga pada lembaran tersebut saya menemukan “pencerahan” yang tak saya dapatkan dari siapapun dan buku manapun yang pernah saya baca. Banyak kecocokan perspektif individu dan sosial antara saya dengan apa yang ditulisnya, terutama yang sedang saya alami saat itu. Seakan saya diberi dukungan untuk berani bergerak menjalani hari saat suara-suara lain enggan bersuara satu patah kata pun. Setelah tandas membaca buku itu saya seolah mendapat energi baru yang padahal kala itu sedang mengalami degradasi hidup. Energi yang hingga saat ini masih bersemayam dalam tubuh dan pikiran saya. Karena buku ini juga saya tak pernah bosan untuk belajar memahami apa yang seharusnya dipahami. Hidup.

Madilog

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s