#5BukuDalamHidupku Si Kancil, Bergema Dari Era ke Era

Legenda si Kancil tak akan pernah lekang hingga berabad-abad. Mungkin ada benarnya. Dongeng tentang Kancil ini selalu diminati oleh anak-anak Indonesia. Nenek-kakek, bapak-ibu kita hampir selalu menghadirkan dongeng Si Kancil sebagai pengantar tidur paling sering dibaca dan diperdengarkan, jika bukan, dongeng terfavorit menjelang tidur. Jika dalam sebuah film terdapat Original Soundtrack, maka sebelum seorang bocah kecil tidurpun hadirlah Original Bedtime Story. Hehe. Meskipun bagi sebagian orang dongeng ini masih perlu ditinjau ulang jika dipersembahkan bagi anak-anak Indonesia berusia antara 6-13 tahun. Konon mengandung unsur licik pada karakter Kancil.

Tak dapat dipungkiri, dengan dongeng seseorang tergolong lebih mudah dan komunikatif menyampaikan gagasan dan buah pikirannya. Begitu juga yang sering dilakukan oleh bapak ketika menjelang tidur sewaktu saya berusia antara 7-10 tahunan, hampir selalu dilulabi dengan dongeng Si Kancil yang beda-beda versi. Bisa saja beliau memakai versinya sendiri. Sehingga ini membuat saya penasaran ingin membaca dongeng Si Kancil. Adapun beberapa contoh dongeng tentang Si Kancil yang sering dibacakan untuk anak-anak SD seperti Si Kancil Jahil yang isinya tentang Kancil yang menjahili beruang yang bodoh dan pemalas, ada juga Kancil Menipu Anjing, ataupun Kancil Menipu Buaya. Namun, saya rasa dongeng Si Kancil yang paling populer dikalangan anak-anak Indonesia ketika itu atau malah hingga kini ialah Kancil Mencuri Timun.

Diceritakan jika Si Kancil mencuri mentimun di kebun punya Pak Tani yang subur. Sebagaimana pencuri ia tidak akan ketahuan oleh yang merasa dicuri. Awalnya, Pak Tani merasa heran kenapa mentimunnya makin hari makin berkurang. Dia pikir ada hama atau binatang liar yang memakannya. Ia pun geram dan ingin tahu siapa pelakunya, dibuatlah orang-orangan sawah di kebunnya yang dirancang khusus untung menjebak pelaku pemakan mentimun tanpa seizinnya itu. Si Kancil berjalan menuju orang-orangan sawah itu dengan niatan minta maaf karena memakan mentimunnya. Orang-orangan sawah itu bekerja dengan baik mengelabui Si Kancil. Dikiranya orang-orangan sawah itu Pak Tani oleh Si Kancil.

Aha! Orang-orangan sawah itu berhasil menangkap pencuri pemakan buah mentimun. Ini berarti strategi Pak Tani berhasil. “Ternyata kau, kancil!,” pungkasnya. Betapa senangnya ia mengetahui jika Si Kancil yang dikenal cerdik dengan mudahnya tertipu oleh orang-orangan sawah. Si Kancilpun dibawa pulang dengan cara dimasukan ke dalam karung oleh Pak Tani hendak disate. Setelah sampai rumah Pak Tani menjebloskan Kancil ke dalam kurungan semacam kurungan ayam yang terbikin dari pipihan bambu. Pak Tani berniat untuk memotongnya esok pagi saja.

Pada suatu malam Si Kancil melihat seekor Anjing lewat di depan kurungannya. Bagi Kancil ini kesempatan emas untuk lepas dari kurungan yang menyebalkan ini! Lalu, Kancil bercerita pada Anjing jika esok pagi ia akan dibawa jalan-jalan oleh Pak Tani dan keluarganya. Anjing merasa tertarik. Ia percaya begitu saja dengan cerita Kancil yang kedengarannya akan membawa kebahagiaan baginya. Anjing, tanpa pikir panjang menyegerakan agar Kancil bertukar tempat dengannya. Anjing di dalam, Kancil keluar. Meski begitu anjing merasa gembira karena besok pagi ia akan dibawa jalan-jalan oleh Pak Tani sekeluarga. Keesokan paginya ketika Pak Tani hendak memotong Si Kancil bergegaslah ia menuju kurungan, apa yang ditemukan olehnya ternyata kekagetan semata. Kenapa dalam kurungan ada Anjing penjaga rumahnya? Kemana Si Kancil yang hendak kusate itu! Begitulah singkatnya cerita Si Kancil Mencuri Timun.

Dongeng merupakan bentuk sastra yang memiliki peran besar dalam pembentukan karakter anak. Berbagai karakter dalam dongeng akan memengaruhi pikiran anak-anak untuk meneladani karakter tokoh yang terdapat dalam dongeng. Seperti yang saya bilang di awal tulisan masih terjadi perdebatan sebagian pihak, terutama dikalangan akademisi mengenai dongeng Si Kancil Mencuri Timun apakah patut atau tidak diperuntukkan bagi anak-anak Indonesia? Di satu pihak, sepakat karena Kancil itu cerdik dan kreatif yang sepantasnya ditiru oleh anak-anak, bagaimanapun juga kreativitas harus ditanam sejak dini. Di pihak lain tidak sepakat karena Kancil rela berbuat licik untuk mendapati apa yang dia mau. Saya percaya jika salah satu fungsi dari sastra adalah berguna dan menyenangkan, maka karenanya jika cerita Si Kancil itu berguna dan menyenangkan kenapa tidak menyepakatinya saja? 😀

kancil

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s