#5BukuDalamHidupku Palu Arit Di Ladang Tebu


“Words said a million time before.”  -Protest Song ‘68, Refused

September boleh dikatakan bulan terkelam yang pernah dialami negeri ini. Banyak nyawa dan darah yang tumpah menceceri udara, yang mungkin saja sebelum nyawa dan darah itu tumpah bersimbah-simbah ia akan bertanya lebih dahulu, “kenapa kau akan tumpahkan aku yang tak tahu menahu persoalanmu? Apakah nyawaku ini begitu murah bagimu?.” 

Saya tak pernah menemukan peristiwa September kelabu dimuat di buku-buku sekolah, jadi mustahil untuk diajarkan pada siswa-siswi sekolah, jikapun dikisahkan itu hanya dengan pengecualian atau improvisasi pengajarnya saja. Selain itu tak mudah menemukannya di toko-toko buku “arus utama”. Jadi, bisa dibilang buku yang mengupas September kelabu ini tidaklah mudah didapatkan, jika bukan, butuh sedikit perjuangan untuk mendapatkannnya. Namun, ada untungnya juga jika hari ini kita sudah memasuki era gurita alternatif informasi yang bernama internet yang menyediakan berbagai informasi mengenai apapun, termasuk seputar September kelabu. Untuk itu mari eja satu per satu nyawa dan darah yang tumpah ruah di bulan September, dan ini bukanlah dongeng pengantar tidur bocah kecil di negeri yang konon realisme magis bernama Indonesia. Ini kisah nyata!

Pertama, 7 September 2004 bangsa ini telah kehilangan orang baik yang vokal memperjuangkan keadilan, namun dengan cara yang begitu keji dan terstruktur nyawanya dihentikan via toxin di dalam pesawat Garuda ketika berniat menempuh studi ke Belanda, hingga kinipun tak pernah “diungkap” jelas siapa pelaku dibalik pembunuhan itu, orang yang “dibunuh” itu bernama Munir Said Thalib. Kedua, Tragedi Tanjung Priok 12 September 1984, telah terjadi pembantaian ratusan jamaah pengajian Tanjung Priok yang dilakukan oleh ABRI karena (lagi-lagi) dianggap mengganggu stabilitas nasional oleh penguasa. Ketiga, Tragedi Semanggi 23-24 September 1999, mahasiswa dari berbagai universitas berdemonstrasi menolak disahkannya Rancangan Undang-Undang Penanggulangan Bahaya (RUP-PKB). RUU ini selain syarat dengan kepentingan penguasa untuk mempertahankan kekuasaan juga untuk mengembalikan peran ABRI dalam kehidupan sosial politik. Namun, demonstrasi mahasiswa direspon dengan tindakan represif; ABRI melakukan pemukulan dan penembakan yang menimbulkan korban jiwa. Kemudian yang terakhir, belakangan kembali makin semarak diperbincangkan di berbagai sosial media karena telah dibuat Film-nya, The Act Of Killing, yaitu, Tragedi Pembantaian Massal 1965-1966. Kebetulan saya mempunyai buku yang berhubungan dengan seputar peristiwa 65-66, berjudul Palu Arit Di Ladang Tebu (Tragedi Pembantaian Massal 1965-1966, Jombang-Kediri) karya Hermawan Yulistyo. Namun bukan kebetulan jika buku itu mendapat tempat yang layak di hati saya. Miris dan mencengangkan!

Sejarah milik pemenang politik yang berarti milik penguasa, kata Tan Malaka. Bahwa itu memang benar adanya, 32 tahun negeri ini diketeki rejim otoriter yang memutar balikan peristiwa obyektif seputar pembantaian massal 1965-1966 yang sebagian besar adalah anggota dan simpatisan PKI. Buku Palu Arit Di Ladang Tebu (selanjutnya PADLT saja) adalah upaya merekonstruksi sejarah yang dilakukan penulis sekaligus mematahkan pengetahuan saya tentang sejarah negeri ini sebelumnya yang ternyata adalah omong kosong maha besar cuma. PADLT yang ditulis Hermawan Sulistyo, mengangkat dan menyoal Gerakan 30 S (Gestapu) dan aksi-aksi pembalasan pasca Gestapu. Dalam analisisnya, PADLT membeberkan peristiwa berdarah dari dua perspektif. Pertama, Gerakan 30 S dari kemunculan awal hingga perseteruan di tubuh elit Angkatan Darat (AD) saat itu. Kedua, muatan-muatan politis dari aksi pasca Gestapu merupakan konfigurasi politik militer-negara.

Peristiwa 65-66 adalah peristiwa paling biadab yang pernah manusia buat sama biadabnya dengan Holocaust. Diperkirakan 78.000-500.000 orang telah dibantai tanpa ampun dalam kurun waktu itu. Tersiar kabar jika Sarwo Edie, komandan RPKAD 1966-1967 adalah dalang dari pembunuhan itu yang konon akan dijadikan pahlawan Nasional oleh Presiden dalam waktu dekat ini. Bagi saya ini jelas aneh. Bagaimana mungkin seorang komandan pembantaian menjadi seorang pahlawan Nasional? Apakah keanehan ini hanya terjadi di Indonesia? Bahkan ada yang menyebutkan jika operasi “pengebumian” yang dipimpin Sarwo Edie telah “membumikan” lebih dari 3 juta jiwa anggota dan simpatisan PKI. Benar atau tidaknya kabar itu saya juga masih ragu akan tetapi pembunuhan manusia, terlebih pembantaian, adalah perbuatan terkutuk terhadap manusia dan kemanusiaan. Para orang tua yang saya temui hampir selalu mengatakan bahwa peristiwa itu “harus” terjadi demi tanah air yang berarti ada hubungannya dengan soal nasionalisme? Apa benar begitu nasionalisme itu? Kalau begitu kita patut curiga dengan soal-soal nasionalisme.

Bagi saya buku PADLT membuka tabir sejarah kelam negeri ini yang selama ini ditutup-tutupi. Selayaknyalah buku-buku sejenis diproduksi lebih banyak lagi, jika perlu, tragedi ini dimasukan ke dalam buku paket sejarah level SMP-SMA. Agar mereka yang selama ini tertutup mata hatinya pada sejarah, paling tidak dapat membuka diri pada fakta kelam negeri ini, tidak cuma terbuai dongeng antik tentang Indahnya alam Indonesia ala National Geographic. Sehingga hari esok bintang benderang tak malu lagi manampakan cahayanya di tanah ini. Ah, bukankah?

Bau tahi memang akan tercium juga betapapun engkau menutupinya dengan bercair parfum metafora!

Semoga!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s