#5BukuDalamHidupku Penjara ke Penjara

Ini adalah hari terakhir untuk proyek #5BukuDalamHidupku. Pukul 07.00 WIB saya harus bersiap pergi ke Ciater selama 2 hari terkait dengan pekerjaan, sekaligus tentu saja bersenang-senang. Itu artinya saya tidak mau “diganggu” dengan yang lain-lain. Lagi pula jauh-jauh hari saya telah menertibkan diri untuk tidak membuka internet jika sedang di luar kontrakan, kecuali kepepet. Haha. Karena saya ingin menikmati benar aktivitas di luaran. Saya memang bukan orang yang pintar mengatur “kenikmatan” jika sudah dihadapkan dengan internet. Mengingat saya punya pengalaman tak menyenangkan karenanya.

Akan tetapi kini saya punya pendapat lain akan hal itu, ada waktu di mana kita meng-intens-kan diri dengan realitas dan ada waktu di mana kita menceburkan diri dengan mayasitas. Meskipun di hari ini sebagian orang beranggapan jika no internet i die, sejauh ini bagi saya idiom itu kurang berlaku. Ah, bukankah dalam hidup ini kita harus cermat dalam memilih kepentingan meskipun kadang-kadang yang tidak penting itu menjadi penting. Bukanlah ide buruk jika semakin saya percepat proyekan ini, semakin ringan pula saya melangkahkan kaki ke Ciater, setidaknya bisa tidur nyenyak dalam perjalanan. Motivasi saya sederhana saja untuk ikutan proyekan ini, menulis dengan tertib selama lima hari berturut-turut.

Sebetulnya hingga catatan ini ditulis saya masih bingung untuk memilih buku mana lagi yang akan dijadikan penutup. Saya tidak pernah merencanakan buku apa saja yang akan diikutkan untuk proyek ini. Saat menulispun saya tidak pernah berpikir untuk menulis “harus” bagaimana dan seperti apa. Ketika menulis yang saya butuhkan hanyalah menulis. Begitulah. Dan dari yang menarik terseliplah yang paling menarik, bukankah begitu watak manusia? Selalu meminta yang lebih. Tak terelakkan, yang paling menarik dari proyekan ini tentu saja, temanya: buku dalam hidupku, bukan hidupmu. Jadi, saya hanya mengikuti naluri saja ketika mengamati rak yang menggantung di dalam kamar. Meraba-raba buku, mengambil buku dari rak, memasukannya kembali karena dirasa kurang cocok, hingga akhirnya pilihanpun tertuju pada buku Dari Penjara ke Penjara Jilid 1, Tan Malaka. Artinya juga proyekan ini dibuka dan ditutup oleh Tan Malaka. Harus saya akui memang jika saya Tan Malaka fansboy.

penjara

Sekilas Dari Penjara ke Penjara; Tan mulai dekat dengan kehidupan politik sejak 1921 saat ia selesai menempuh pendidikannya di Harlem Belanda. Kedekatannya dengan Sarekat Islam dan Serikat Buruh Kereta Api (VSTP) membuatnya percaya akan pentingnya persatuan Islam dan Komunis untuk menghalau politik devide et impera dari Kolonial Belanda. Sejak saat itu, ia terlibat aktif dalam aksi-aksi mogok ataupun perlawanan buruh di beberapa tempat. Sehingga ia sempat dibuang ke Kupang. Ia pun sempat meloloskan diri ke Filipina dan Singapura.

Perjuangannya tak mentok di perjuangan fisik semata. Hal yang luar biasa darinya adalah ia pandai menulis. Semasa hidupnya ia telah banyak menuliskan pemikiran-pemikirannya. Dari Penjara ke Penjara salah satunya. Buku ini merupakan manifestasi akan cita-cita tentang sebuah republik yang merdeka. Pemikiran kritisnya dalam karya tulis membuat pihak kolonialisme termasuk Belanda, Amerika, Inggris dan Jepang ketakutan. Dengan rencana-rencana buruk para kolonialis membuat ruang gerak Tan semakin sempit. Maka tak heran jika hari-hari Tan diliputi pedih peri. Dikejar, diburu, dijebloskan ke berbagai penjara negara ke negara dan yang paling memilukan dijebloskan di penjara tanah airnya sendiri.

Saya tidak yakin jika saya berada pada posisi Tan Malaka di tengah gejolak perjuangan kemerdekaan saat itu, masih sempat-sempatnya untuk menulis, padahal era perang seperti itu rasanya ngapain juga buat nulis. Tapi bukan Tan namanya jika ia berakal pendek, dengan ia menuliskan pemikiran-pemikirannya ketika itu, pada masa sekarang khalayak dapat mempelajari apa yang terjadi di masa lampau melalui tulisan-tulisannya. Karena sesungguhnya masa lalu adalah bagian dari masa kini yang akan membentuk masa depan.

Kita beruntung pernah diingatkan sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer, bahwa, orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” Tan Malaka tak pernah hilang dari masyarakat dan sejarah karena ia telah menulis, meski pada orde baru karya-karyanya sempat diberangus sebab intervensi politik. Namun, seperti yang pernah Tan ucapkan, “biarlah sejarah diri saya, saya pasrahkan pada waktu.” Kini waktupun sudah menjawabnya, karyanya-karyanya banyak bermunculan dan dicetak ulang yang mudah diakses publik. Sejalan dengan itu jauh sebelum tahun 2013 datang yang sebentar lagi akan habis, tepatnya, 1932, Tan pernah berkata dihadapan polisi Inggris, Murphy, di Hongkong, tanpa gentar ia berkata: “ingatlah! Bahwa dari dalam kubur suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s