Month: January 2014

Bosan

Sejak pagi hingga kini hujan terus saja turun. Tak ayal komplek ini digenangi air bila hujan tiba terlebih secara konstan. Sebab air tak merembes ke dalam tanah ia kembali menguap ke atas berlarian ke sana ke mari kemudian menggenang di mana-mana. Serupa ritual tahunan, tepat saat musim hujan berlangsung. Sebuah repetisi yang tak menyenangkan memang. Lalu suatu hari dengan sompral seseorang menyebut banjir sebagai “takdir”. Kelucuan yang tidak lucu. Aku tidak tahu apakah ini sengaja dibiarkan demikian atau nihil solusi atau apa? Yang jelas hal ini menghambat laju transportasi dan berbagai aktivitas lainnya. Anak didikku pun banyak yang tak masuk karenanya.

Wilayah ini memang seperti sudah “digariskan” untuk tergenang banjir. Betapa tidak? Tahun demi tahun selalu saja dibangun macam-macam industri alih-alih mengurangi pengangguran berjudulkan: mengentaskan kemiskinan. Benarkah demikian tujuan pembangunan itu? Meminjam bahasa populis mengedukasi warga perihal modernitas, jika bukan, untuk sebuah kemajuan. Namun, aku sendiri sangsi akan hal itu. Jika industri-industri dibangun maka perumahan-perumahan akan menyusul satu per satu, mall demi mall, dan “hardware” sejenis. Artinya, tak ada ruang bagi warga untuk menghirup udara segar, pasokan oksigen yang mestinya cukup tidak terpenuhi, miskinnya Ruang Terbuka Hijau semakin meyakinkan sebuah statement bahwa kota ini sakit parah. Lain soal jika RTH dibangun lebih banyak dari industri, mungkin kehidupan di sini sedikit lebih baik.

Ah, siapa juga yang benar-benar peduli terhadapnya?

Lagipula, tak sedikit industri dibangun di wilayah yang tak semestinya, misal di pinggir sungai. Bukankah area sungai itu berfungsi untuk menyerap air hujan dan menyimpannya sekaligus menghubungkan air hujan ke muara? Karena matinya fungsi sungai tak dapat dielak lagi laju air menjadi stuck, berton material pamungkas bangunan yang bernama beton menghalangi alirannya, sehingga muntah ke area sekitarnya, seperti ke komplek yang aku tinggali kini. Belum lagi sampah yang diproduksi melebihi batas seharusnya. Ibarat penyakit, kota ini mengidap komplikasi akut yang berarti jika ada orang yang bercita-cita untuk menyembuhkannya maka ia perlu penanganan super khusus, sedikit saja keliru saat memperbaikinya penyakit itu akan menyebar ke titik-titik tubuh kota ini. Sebegitu mengerikannyakah? Aih, apapula peduliku, namun susah juga bagiku menolak hal itu.