Month: February 2014

Tentang Kalilah Wa Dimnah

Puisi hanya akan terasa indah karena adanya olahan bahasa sebelumnya yang kemudian dikomunikasikan. Seperti halnya puisi Pablo Neruda yang berjudul, Tonight I can Write yang sejalan dengan puisi Saut Situmorang, Hujan dan Memori. Bagi saya kedua puisi tersebut mampu menghadirkan nuansa yang sublim akan nostalgia, ke-khusyuk-an terhadap masa lalu yang darinya kita mampu merasai estetika kebahasaannya, barangkali inilah salah satu cara mencipta momentum melalui olahan kata. Melalui bahasa, kreativitas seseorang akan semakin bertambah setiap harinya yang berarti ada aktivitas imajinasi di dalamnya. Rupanya berangkat dari sanalah Einstein menemukan rumus MC2 (Em Si Kuadrat) yang dipertegas oleh perkataannya sendiri bahwa imajinasi lebih penting dari ilmu pengetahuan. Meski begitu bahasa tidak akan lepas dari logika sedangkan logika adalah alat untuk mempermudah bahasa itu sendiri (Ecce Homo, F. Nietzsche).

Sejak zaman Sebelum Masehi (SM) sastra sudah menjadi media yang penting bagi perkembangan suatu masyarakat. Peradaban yang maju didorong pula oleh budaya literasinya, mustahil suatu kemajuan akan dicapai tanpa ketatnya budaya literasi di dalamnya, dalam hal ini berarti bahasa sebagai induk dari sebuah kemajuan peradaban. Tan Malaka tidak akan menjadi Pejuang dan Inspirasi Besar apabila ia alpa dengan bahasa mengingat ia telah menguasai lebih dari tujuh bahasa dengan baik dan juga menelurkan 15 buku itu. Pramoedya Ananta Toer tidak akan disebut sastrawan besar apabila ia tak mengakrabi diri dengan berbagai literasi dan melahirkan karya karenanya. Sebagaimana filsuf abad ke-16 Francis Bacon yang menulis esei Believe Of The Fable karena terinspirasi dari Dongeng Kalilah Wa Dimnah terjemahan Ibnu al-Muqoffa dari bahasa Persia ke Inggris. Ibnu al-Muqoffa sendiri hidup di era Khilafah Abasiyah Ia dikenal sebagai seorang ahli penerjemah bahasa-bahasa asing di zamannya. Pengaruh bahasa yang ditampilkan Ibnu al-Muqoffa juga tercermin dalam karya-karya setelahnya, seperti halnya pada karya Kahlil Gibran, Al-Nabi dan bahkan pada Freidrich Nietzsche, Sabda Zarathustra.

Kalilah Wa Dimnah merupakan Dongeng (ada juga yang menyebutnya Hikayat) karya filsuf India yakni Baidaba atau juga dikenal Bedapa. Ibnu al-Muqoffa menerjemahkan karya tersebut tanpa mengubah inti arti karya aslinya. Bedapa menyisipkan cerita berbingkai di dalam karya tersebut. Kalilah Wa Dimnah dibuat atas permintaan raja Debsyalem, raja India pada abad ke-3 SM yang sebelumnya dikenal bengis, kejam, tak kenal belas kasih terhadap rakyat yang dianggapnya bersalah. Hingga pada suatu hari Bedapa yang juga penganut Brahmanisme itu memberanikan diri untuk menasehati sang raja karena telah menzholimi rakyat. Seorang Brahmanisme pada zaman itu dikenal juga sebagai ahli hikmah atau juga seorang ulama. Namun yang menarik dari Bedapa adalah Ia menasehati raja dengan caranya yang “nyastra”. Bedapa menciptakan tokoh-tokoh binatang dalam karyanya namun tokoh-tokoh itu seperti mewakili kehidupan manusia itu sendiri. Ada intrik, politik, cinta, persahabatan, pembunuhan, kerakusan, dll. Inilah keunikan Bedapa dalam mengangankan tokoh-tokoh ciptaannya sehingga bagi kalangan remaja, bahkan anak-anak, buku ini tidak bertendensi terlampau serius malah terasa ringan tanpa harus melupakan hikmah yang terkandung di balik setiap cerita.

Tercatat bahwa raja Debsyalem tidak lantas menerima begitu saja nasehat-nasehat Bedapa. Pada awalnya, raja berang atas apa yang telah disampaikan Bedapa kepadanya bahwa pokok dari yang dikatakan Bedapa adalah kesewenang-wenangan dirinya terhadap rakyat bahkan raja menyiksa Bedapa dalam penjara dan akan dihukum mati karena dianggap lancang atas perkataannya tetapi raja berbalik pikir mengingat Bedapa adalah ulama besar di zamannya, pada akhirnya ia menyadari bahwa apa yang telah dikatakan Bedapa itu benar adanya. Raja pun membebaskan Bedapa dari hukuman. Semenjak itu raja mengangkat Bedapa sebagai seorang penasehat karena tertarik dengan cara “nyastranya”. Hingga kemudian raja meminta untuk mengkitabkan kisah-kisah yang pernah disampaikan padanya. Bedapa pun menulis dan menyusun kisah itu selama setahun yang dikemas berbingkai. Kisah-kisah itu terdiri dari 15 kisah, (1) Kera dan Kura-Kura, (2) Ahli Ibadah dan Musang, (3) Ahli Ibadah dan Tamunya, (4) Pelancong, Tukang Emas, Kera, Ular, dan Macan Tutul, (5) Merpati, Musang, dan Bangau, (6) Singa dan Sapi, (7) Penyelidikan dalam Kasus Dimnah, Singa Betina, Pemanah Ulung dan Anjing Hutan, (8) Elada, Belada, dan Erakhta, (9) Putra Raja dan Para Sahabat-sahabatnya, (10) Burung Hantu dan Burung Gagak, (11) Tikus dan Kucing, (12) Raja Baridun dan Burung Fanzah, (13) Ratu Merpati Mutawwaqa, (14) Tikus dan Gagak, (15) Singa dan Serigala. Pada mulanya, di India, kumpulan kisah ini dikenal dengan Panchatantra (Bahasa Sansakerta). Saya pun jadi curiga jangan-jangan kisah epos besar Mahabharata adalah turunan dari Panchatantra yang kini dikenal dengan Kalilah Wa Dimnah ini.

Di antara ke-lima belas dongeng di atas yang paling saya sukai adalah Singa dan Sapi. Menceritakan tentang dua orang sahabat yang saling menyayangi dan mengasihi yakni raja Singa dan sapi Syatrabil yang jalinannya hendak dihancurkan oleh keledai Dimnah. Kedekatan sapi Syatrabil dan raja Singa membuat Dimnah iri dan dengki kepada Syatrabil, karena kedudukkan Syatrabil dalam pemerintahan Singa melebihi kedudukkan Dimnah. Dongeng Singa dan Sapi memang bermuatan politis namun ringan untuk dicerna. Dimnah adalah seorang cerdik lagi licik yang juga gigih dalam melaksanakan niatannya Ia melakukan segala cara untuk menghasut Singa supaya Syatrabil mendapat hukuman mati. Singa pun berhasil diperdaya Dimnah. Lalu, sapi Syatrabil pun akhirnya menemui ajal di tangan Singa. Bagi saya di sinilah letak kecerdasan “bersastra” Bedapa karena tokoh-tokoh yang diciptakan dalam Kalilah Wa Dimnah adalah nama-nama binatang yang berarti ada kelucuan khas saat membacanya. Tak dapat dipungkiri dalam dunia manusia sendiri watak permasalahan seperti itu mudah ditemui. Fitnah, tipu, culas, dengki, arogansi, dendam, hasud, provokasi, janji palsu dan hal-hal sejenis adalah bagian dari kebinatangan manusia-manusia juga, kalau bukan, homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi manusia lainnya).

Dongeng  mempunyai tempat tersendiri bagi para pembacanya, sebagaimana genre buku-buku lain. Dongeng juga merupakan bentuk sastra yang memiliki peran besar dalam pembentukan karakter manusia, khususnya anak-anak. Berbagai karakter dalam dongeng akan memengaruhi pikiran anak-anak untuk meneladani karakter tokoh yang terdapat dalam dongeng. Dengan dongeng seseorang tergolong lebih mudah dan komunikatif menyampaikan gagasan dan buah pikirannya. Barangkali Bedapa berkeinginan agar karyanya dapat dijangkau oleh anak-anak. Sehingga tokoh-tokoh binatang pun mejadi pilihan dalam Kalilah Wa Dimnah. Sebagaimana dongeng ia memantik imaji cerita dan bahasa yang diakhiri dengan lautan hikmah. Dan Kalilah Wa Dimnah adalah buah pikiran seorang filsuf India yang hidup di zaman Sebelum Masehi yang karya-karyanya patut direnungkan.

Mono Mengguyur Hujan

Malam itu teater terbuka Dago Tea House (Bandung) diguyur hujan tak henti-hentinya. Padahal menurut perakiraan cuaca ini sudah memasuki april. Seharusnya hujan tak perlu bertandang lama-lama. Saya pun menyisipkan harapan naïf dalam hati semoga satu bintang saja muncul di atas sana namun langit nampakya  tetap enggan membuka tirainya yang gelap. Hampir seharian kota yang dahulu indah itu ditumpahi air dari ketinggian langit.

Sejak sore saya sudah hadir di tempat itu. Di mana sebuah pertunjukan seni adiluhung yang saya nantikan dari bulan-bulan lalu atau mungkin kawan-kawan saya menantikannya menahun, akan segera digelar. Post-rock Grup asal Jepang, Mono, akan bergegas mengguyur hujan malam ini. Cukup mengesalkan ketika jadwal dari yang disepakati sebelumnya diundur karena cuaca. Namun tak apa. Karena saya tahu kelak semua itu akan terbayar lunas. Saya akan lekas mengerti bahwa Mono bakal membuat saya tak sadarkan diri –yang bila dalam istilah para junkie adalah stokun.

Kami hadir di tempat ini hanya dengan satu alasan. Ekstase berjama’ah lewat suguhan instrumentalis yang seringnya menciptakan keajaiban-keajaiban baru secara sengaja. Keajaiban yang disengaja itu dikemas dalam konsep mini konser yang menghasilkan out-put yang amat tidak pantas bila cuma disebut mini. Membuat kepercayaan saya makin tebal bahwa musik adalah suatu perwujudan yang lebih tinggi dari filsafat. Sebuah romantisme klasik.

Bagi sebagian orang barangkali hujan malam itu adalah anugerah atau mungkin juga musibah namun bagi saya hujan malam itu adalah momen yang bakal terwariskan. Di mana saya seolah memungut serpihan kesunyian sejarah yang makin didalami terasa makin absurd lewat sajian instrumental Mono yang banyak dipengaruhi komposer macam Beethoven itu, namun dengan packaging musik yang dirasa mengoriental. Begitupun, setidaknya membuktikan satu hal bahwa bangsa asia bukanlah bangsa inferior, tak bermutu dalam segala-gala. Meski kembali diwakili oleh Jepang. Membosankan memang. Kadang saya jadi bertanya-tanya inikah out-put  dari konsep restorasi Meiji yang memberi kebebasan dan support untuk berkreasi pada muda-mudi Jepang? Yang mampu mencapai nilai-nilai artistik tak terkatakan seperti ini? Bisa iya bisa juga tidak. Yang jelas hujan pun diperhebat oleh suhu yang makin dingin meruncing menusuk-nusuk.

***

Sebagian penonton memang mendapat jas hujan dan atau payung –saya menduga jika mereka mendapatkannya dari kawanannya yang EO, sedang saya tidak sama sekali meski sudah berupaya mencarinya. Saya cuma dibaluti jaket yang dapat dengan mudah ditembusi angin, hujan, dan dingin. Perlahan tapi pasti air mengecupi pakaian yang saya kenakan, tak lama kemudian merembes ke sekujur badan. Dan itu membuat tubuh saya menggigil kedinginan. Seandainya dibalut jas hujan atau jaket paling tebal sekalipun saya rasa itu tidak akan mengubah dingin bertukar hangat. Namun semua itu bukan apa-apa dibanding dengan apa yang saya saksikan malam itu.

Pertunjukan mega indah pun telah dimulai. Lagu pertama dibuka dengan Legend dari album yang dirilis september  tahun lalu, For My Parents. Petikkan minimalis Hideki yang disusul long delay Takaa dalam polesan crescendos memancing teriakkan penonton. Sebuah komposisi khas yang seringnya mengaduk-aduk hati. Dari sini saya pun mulai diajak memasuki ruang transenden Takaakira Goto cs lewat instrumen-nya itu. Gerbang pun terbuka, seakan saya diajak mengikuti ritual penghormatan besar pada sosok yang menginspirasi hidup di tengah situasi yang serba pesimistis. Efek long delay  bernuansa orientalis yang amat khas itu entah kenapa  sepertinya telah lama sekali akrab ditelinga, begitu emosianalnya, ia memantik alam bawah sadar menuju ruang yang di mana saya dapat menyaksikan orang-orang sebelum saya menceritakan cita-citanya yang sempat tercapai, tiba-tiba harus runtuh karena arogansi perang dunia. Pertemuan yang mengesankan sekaligus mengharukan pun terjadi pada saat lagu akan berakhir. Eksekusi Takaa berkerumun sound efek tipikal asianis itu terasa mencabik-cabik hati, dibarengi dentuman big tom-tom Takada yang terdengar megah. Dentuman itu seolah tombol raksasa yang mengubah saya menjadi seonggok debu yang pecah melayang ke segala arah bersama butiran hujan. Begitu indah. Membuncah ke berbagai penjuru angin. Menuju waktu yang mengejutkan. Yang tak satu setan pun tahu.

Pasca pertunjukan berakhir  seorang kawan bahkan mengakui jika ia menangis karena lagu ini. Saya tidak tahu kenapa. Iblis pun tidak. Apalagi kalian yang absurd identitas. Cukuplah biar dia saja yang tahu. Sepertinya itu memang baik baginya

Kemudian, disusul Nostalgia, masih dari For My Parents. Sejenak saya tertunduk. Berkaca pada masa yang telah terlewat. Rumah. Masa kecil. Masa penuh kebebasan. Imajinatif. Kejujuran. Harapan. Keinginan yang polos. Karang Taruna.  Cita-cita yang bersih.  Ajaran. Budaya. Patriarkis. Feodalis parasatisme. Nilai. Pendidikan. Norma. Agama. Kini, kemanakah mereka semua pergi? Perlukah semua itu? Lalu, sekarang kita mau jadi apa setelah ini? Pertanyaan-pertanyaan kuno yang cukup mengharu ungu, tentunya. Lagu ini berakhir memukau dengan dentingan sunyi glockenspiel yang ternyata baru saya ketahui jika itu sejenis gamelan atau kulintang.

Hujan terus mengguyur konsisten. Tak ada tanda-tanda akan berhenti. Warna lighting yang berubah-ubah sukses mendramatisir suasana. Suhu dingin mulai menggerayangi tulang sum-sum. Namun saya malah makin khusyuk menyaksikan mereka. Dan, denting  piano lewat sentuhan lembut Tamaki Kunishi (satu-satunya personil wanita) –selain memainkan bass Tamaki juga memainkan keys, perlahan menggeregap telinga yang siap mengkonsumsi suara indah itu, dan agaknya gerbang sejarah lekas dibuka kembali. Sebuah repetisi indah dari Dream Odyysey. Seperti mengeja kembali mimpi-mimpi ideal umat manusia pra-evolusi. Tuts piano di awal lagu menyeret saya pada sebuah romantisme kuno yang belum pernah saya sambangi sebelumnya. Dalam sekejap menukar realitas memuakkan dengan mimpi-mimpi baru yang memang tak pernah benar-benar baru, harapan-harapan baru yang tak pernah benar-benar baru. Atau barangkali memang sejarah dikabarkan dari perenungan panjang hasil dari tetesan keharuan, kekaguman, kemegahan, kesedihan, kegetiran yang hampir selalu berakhir pada lembaran pesimisme antik. What’s really our dream anyway, Oddysey?

Di sela-sela break. Gemuruh suara penonton menggema di antara rincikkan hujan yang tak bosan-bosan membasahi kami. Namun hal itu tidak akan membuat saya gagal untuk menikmati setiap keajaiban malam itu. Persetan dengan hujan, angin, dan dingin. Nampak jari tangan Hideki bergerak pelan memetik deretan senar yang disusul Takaa pada part-part selanjutnya.  Are You There? pun diperdengarkan. Sebuah pertanyaan eksistensialis yang cukup serius. Salah satu lagu favorit saya dari album You Are There yang diproduksi 2005 lalu, perlahan petikkan minimalis itu merayap pada pikiran dan sanubari saya. Slow motions space is in here. Hampir sepanjang lagu seakan mewakili orang yang sedang dilanda patah hati bertalu-talu. Namun diakhirnya seolah menegaskan dengan santai bahwa jika kamu cinta terhadap sesuatu berbuatlah sesuatu untuk apa yang kamu cintai. Are you there? Here I’am….. O my red butterfly.

Suhu dingin makin beringas. Hujan terus berjatuhan. Saya makin tak peduli dengan situasi. Saya tak tahu lagi setlist mereka. Pikiran saya mulai menguap ke angkasa raya yang gelap. Yang jelas semua lagu mereka telah saya akrabi. Dari situ saya mulai bermanunggal dengan noise Hideki, dengan dentuman set drum Takada, dibawanya saya ke tengah samudera maha luas tak bertepi, menyusul long delay dan aksi teatrikal individual Takaa yang ternyata meruntuhkan penjara dalam tubuh saya. Debaman bass Tamaki Kunishi membikin tubuh saya berantakkan, berhamburan di setiap trotoar jalanan. Tubuh saya berubah menjadi kenangan setiap pojokkan warung-warung kopi. Di sawah. Hutan. Sekolah. Kebun pohon-pohon karet. Dari Ciremai sampai Kilimanjaro. Sabang hingga Madagaskar. Saya merasa menyerah dihadapan semesta keindahan ini. Dihadapan butiran hujan pun saya hanyalah anak-anak atom yang tak berdaya. Sepertinya ini mimpi.

Ah, tapi bukan. Saya masih dapat melihat jelas pasangan suami istri yang masih muda membawa payung dengan membawa anak yang agak mengganggu pandangan saya ke depan stage.  Namun akhirnya mereka mengerti dengan segera mereka menundukkan payung yang mengganggu pemandangan itu. Saya mulai mencoba melihat ke sekeliling. Dan saya yakin mereka sama seperti saya, tidak sadarkan diri. Mabuk isotonik musik bernama Mono.

Long noise Hideki dan Taka mulai terdengar lagi beriringan dengan tuts Tamaki Hunishi. Saya melihat Takada sedang merunduk lunglai di atas kursi yang merebah di antara tam-tam dan tom-tom. Karena dia tahu betapa disayangkannya lagu yang begitu menakjubkan ini bila tak diresapi sepenuh hati. Saya pun mengikutinya. Saya merunduk memejam mata. Diiringi air yang berjatuhan di atas kepala. Betapa indahnya lagu ini. Noise yang dihasilkan kedua gitaris mumpuni itu lagi-lagi membawa saya pada ketidaktahuan obyektif. Suara keyboards yang memanjang seperti sebuah perjalanan kosmik. Di mana yang ada hanyalah mercusuar keindahan dan kemegahan belaka, senaif apapun dunia ini. Di pertengahan lagu sampai akhir Takada mulai bangkit dari runduknya. Karena pada part ini drum harus dimainkan. Inilah lagu yang sungguh membuat saya tak sadarkan diri. Komposisi yang maha indah bukan kepalang. Saya tidak tahu apa mungkin di surga sana komposisi seperti ini akan dimainkan? Cahaya dari setiap sudut nampak berdatangan. Menyalami saya dengan elegan. Saya membolak-balikan kepala dan tubuh saya ke dalam cahaya-cahaya itu. Ke kanan dan ke kiri. Hanya terdapat cahaya di mana-mana. Menyembul dari kejauhan yang entah. Meski cahaya ini adalah cahaya perpisahan. The great Everlasting Light song. Dan cahaya perpisahan ini pun menandakan bahwa pertunjukan  akan segera berakhir.

Sebagaimana yang dinyatakan Takaakira Goto sang lead guitar bahwa, Music is communicating the incommunicable; that means a term like post-rock doesn’t mean much to us, as the music needs to transcend genre to be meaningful.” Yea. We felt it. Meaningful. Terima kasih Mono atas pertunjukan hebatnya.

Wednesday, April 10, 2013

Hujan dan Muara Gembong

Musim hujan tahun ini rasanya lebih panjang dari musim hujan tahun kemarin. Musim hujan di kota ini menimbulkan banyak kekalutan. Bila hujan datang secara konstan, ia akan memberi ancaman serius bagi warganya. Kita sudah sama-sama tahu jika musim hujan tiba penduduk Jabodetabek dihinggapi kekhawatiran akan hadirnya banjir dihadapan mata. Jika sudah begitu hanya ada satu upaya yang dapat dilakukan warga, yaitu bergegas menuju tempat yang tak tergenangi banjir. Orang-orang yang ada di Jakarta akan dilanda cemas jika tanggul Katulampa Bogor jebol, dan itu sudah terjadi, tak terhitung berapa kerugian yang diakibatkannya. Tak terkecuali bagi warga Muara Gembong, Bekasi, Jawa Barat, yang jauh dari hingar bingar Kota Bekasi, terletak di antara reruntuhan kekayaan alam, peradaban, dan kebudayaan kota Bekasi yang hampir nir-identitas. Berbagai upaya yang dilakukan pemerintah setempat untuk menghalau banjir sepertinya tidak membawa perubahan yang diharapkan.

Muara Gembong dikelilingi oleh lahan perairan laut Jawa yang luas dan terhimpit di antara Jakarta Utara dengan Kabupaten Karawang. Sebagian besar penduduk Muara Gembong bermatapencaharian sebagai nelayan, menangkap ikan, kepiting dan juga udang. Kecamatan ini terdiri dari enam desa, Jayasakti, Pantai Mekar, Pantai Sederhana, Pantai Bahagi, Pantai Bakti, dan Pantai Harapan Jaya. Kawasan pemukiman penduduk pinggir laut didominasi oleh lahan perairan. Tambak perikanan yang mencakup lahan menjadi mata pencaharian utama. Sisanya bekerja dengan menjadi petani darat atau mengelola lahan pertanian kering. Dan di musim hujan ini, mereka, warga Muara Gembong, sedang ditandangi bencana. Banjir rob telah meluluhlantak tanggul Muara Citarum yang menjadi benteng harapan warga, akibatnya sebagian besar rumah penduduk hanyut, rusak parah. Ironisnya, tak banyak media arus utama yang meliput situasi dan kondisi yang ada di Muara Gembong saat itu bahkan hingga kini.

Oleh karena itu sebagian dari pengurus Malam Puisi Bekasi pada hari ini, tepatnya siang tadi, berinisiatif menyambangi dan menyalurkan bantuan untuk penduduk salah satu desa yang ada di Muara Gembong, desa Pantai Sederhana, bantuan itu kami dapat dari partisipan acara Malam Puisi Bekasi yang dihelat tadi malam. Memang tidak terlalu banyak yang terkumpul namun paling tidak mampu meringankan penderitaan sebagian warga yang ada di sana.

Membutuhkan waktu kurang lebih dua setengah jam untuk sampai di lokasi bencana. Sepanjang perjalanan ada rasa kekaguman sekaligus keheranan yang timbul dalam diri saya. Kekayaan alam yang terhampar luas nan indah dihadapan mata seolah tidak terhubung sama sekali dengan warga Muara Gembong. Hal ini menimbulkan pertanyaan bagi diri saya, kemanakah hasil dari pertanian yang begitu melimpah ruah itu bermuara? Selain pertanian yang melimpah itu, tanah yang berada di sana juga mengandung minyak mentah yang apabila dikelola dengan maksimal maka sulit untuk menemukan warga miskin yang tidak bersekolah. Sepanjang mata memandang jarang saya menemukan sekolah yang berdiri penuh bangga di sana, tidakkah ini menandakan peradaban yang mundur? Bukankah ini mengherankan mengingat Kota Bekasi sendiri berdekatan dengan ibu kota Jakarta yang diasumsikan sebuah kota modern yang maju nan “beradab”. Muara Gembong memang tidak termasuk ke dalam Wilayah Kota Bekasi melainkan Kabupaten namun haruskah diperlakukan demikian?

Penyebab banjir di Muara Gembong adalah Pembalakan Liar hutan mangrove. Kami memang melihat mangrove yang berbaris indah ditambah ilalang subur berjejer menggenapi keindahan pemandangan alam. Namun banjir rob di Wilayah itu semakin meluas seiring berkurangnya mangrove. Pada 1998, hutan mangrove di Kecamatan Muara Gembong mencapai 1.500 hektar. Akibat pembalakan oleh perusahaan minyak untuk pengeboran dan pertambakan, saat ini tinggal 100 hektar. Pada 2012 lalu masih tersisa 400 hektar. Maka banjir pun semakin meluas cakupannya. Kami harap pemerintah setempat berniat serius untuk mengurusi warganya terutama di masa “bencana” seperti saat ini dan yang paling penting: waras! Amin.

tulisan ini dimuat juga  di sini