Tentang Kalilah Wa Dimnah

Puisi hanya akan terasa indah karena adanya olahan bahasa sebelumnya yang kemudian dikomunikasikan. Seperti halnya puisi Pablo Neruda yang berjudul, Tonight I can Write yang sejalan dengan puisi Saut Situmorang, Hujan dan Memori. Bagi saya kedua puisi tersebut mampu menghadirkan nuansa yang sublim akan nostalgia, ke-khusyuk-an terhadap masa lalu yang darinya kita mampu merasai estetika kebahasaannya, barangkali inilah salah satu cara mencipta momentum melalui olahan kata. Melalui bahasa, kreativitas seseorang akan semakin bertambah setiap harinya yang berarti ada aktivitas imajinasi di dalamnya. Rupanya berangkat dari sanalah Einstein menemukan rumus MC2 (Em Si Kuadrat) yang dipertegas oleh perkataannya sendiri bahwa imajinasi lebih penting dari ilmu pengetahuan. Meski begitu bahasa tidak akan lepas dari logika sedangkan logika adalah alat untuk mempermudah bahasa itu sendiri (Ecce Homo, F. Nietzsche).

Sejak zaman Sebelum Masehi (SM) sastra sudah menjadi media yang penting bagi perkembangan suatu masyarakat. Peradaban yang maju didorong pula oleh budaya literasinya, mustahil suatu kemajuan akan dicapai tanpa ketatnya budaya literasi di dalamnya, dalam hal ini berarti bahasa sebagai induk dari sebuah kemajuan peradaban. Tan Malaka tidak akan menjadi Pejuang dan Inspirasi Besar apabila ia alpa dengan bahasa mengingat ia telah menguasai lebih dari tujuh bahasa dengan baik dan juga menelurkan 15 buku itu. Pramoedya Ananta Toer tidak akan disebut sastrawan besar apabila ia tak mengakrabi diri dengan berbagai literasi dan melahirkan karya karenanya. Sebagaimana filsuf abad ke-16 Francis Bacon yang menulis esei Believe Of The Fable karena terinspirasi dari Dongeng Kalilah Wa Dimnah terjemahan Ibnu al-Muqoffa dari bahasa Persia ke Inggris. Ibnu al-Muqoffa sendiri hidup di era Khilafah Abasiyah Ia dikenal sebagai seorang ahli penerjemah bahasa-bahasa asing di zamannya. Pengaruh bahasa yang ditampilkan Ibnu al-Muqoffa juga tercermin dalam karya-karya setelahnya, seperti halnya pada karya Kahlil Gibran, Al-Nabi dan bahkan pada Freidrich Nietzsche, Sabda Zarathustra.

Kalilah Wa Dimnah merupakan Dongeng (ada juga yang menyebutnya Hikayat) karya filsuf India yakni Baidaba atau juga dikenal Bedapa. Ibnu al-Muqoffa menerjemahkan karya tersebut tanpa mengubah inti arti karya aslinya. Bedapa menyisipkan cerita berbingkai di dalam karya tersebut. Kalilah Wa Dimnah dibuat atas permintaan raja Debsyalem, raja India pada abad ke-3 SM yang sebelumnya dikenal bengis, kejam, tak kenal belas kasih terhadap rakyat yang dianggapnya bersalah. Hingga pada suatu hari Bedapa yang juga penganut Brahmanisme itu memberanikan diri untuk menasehati sang raja karena telah menzholimi rakyat. Seorang Brahmanisme pada zaman itu dikenal juga sebagai ahli hikmah atau juga seorang ulama. Namun yang menarik dari Bedapa adalah Ia menasehati raja dengan caranya yang “nyastra”. Bedapa menciptakan tokoh-tokoh binatang dalam karyanya namun tokoh-tokoh itu seperti mewakili kehidupan manusia itu sendiri. Ada intrik, politik, cinta, persahabatan, pembunuhan, kerakusan, dll. Inilah keunikan Bedapa dalam mengangankan tokoh-tokoh ciptaannya sehingga bagi kalangan remaja, bahkan anak-anak, buku ini tidak bertendensi terlampau serius malah terasa ringan tanpa harus melupakan hikmah yang terkandung di balik setiap cerita.

Tercatat bahwa raja Debsyalem tidak lantas menerima begitu saja nasehat-nasehat Bedapa. Pada awalnya, raja berang atas apa yang telah disampaikan Bedapa kepadanya bahwa pokok dari yang dikatakan Bedapa adalah kesewenang-wenangan dirinya terhadap rakyat bahkan raja menyiksa Bedapa dalam penjara dan akan dihukum mati karena dianggap lancang atas perkataannya tetapi raja berbalik pikir mengingat Bedapa adalah ulama besar di zamannya, pada akhirnya ia menyadari bahwa apa yang telah dikatakan Bedapa itu benar adanya. Raja pun membebaskan Bedapa dari hukuman. Semenjak itu raja mengangkat Bedapa sebagai seorang penasehat karena tertarik dengan cara “nyastranya”. Hingga kemudian raja meminta untuk mengkitabkan kisah-kisah yang pernah disampaikan padanya. Bedapa pun menulis dan menyusun kisah itu selama setahun yang dikemas berbingkai. Kisah-kisah itu terdiri dari 15 kisah, (1) Kera dan Kura-Kura, (2) Ahli Ibadah dan Musang, (3) Ahli Ibadah dan Tamunya, (4) Pelancong, Tukang Emas, Kera, Ular, dan Macan Tutul, (5) Merpati, Musang, dan Bangau, (6) Singa dan Sapi, (7) Penyelidikan dalam Kasus Dimnah, Singa Betina, Pemanah Ulung dan Anjing Hutan, (8) Elada, Belada, dan Erakhta, (9) Putra Raja dan Para Sahabat-sahabatnya, (10) Burung Hantu dan Burung Gagak, (11) Tikus dan Kucing, (12) Raja Baridun dan Burung Fanzah, (13) Ratu Merpati Mutawwaqa, (14) Tikus dan Gagak, (15) Singa dan Serigala. Pada mulanya, di India, kumpulan kisah ini dikenal dengan Panchatantra (Bahasa Sansakerta). Saya pun jadi curiga jangan-jangan kisah epos besar Mahabharata adalah turunan dari Panchatantra yang kini dikenal dengan Kalilah Wa Dimnah ini.

Di antara ke-lima belas dongeng di atas yang paling saya sukai adalah Singa dan Sapi. Menceritakan tentang dua orang sahabat yang saling menyayangi dan mengasihi yakni raja Singa dan sapi Syatrabil yang jalinannya hendak dihancurkan oleh keledai Dimnah. Kedekatan sapi Syatrabil dan raja Singa membuat Dimnah iri dan dengki kepada Syatrabil, karena kedudukkan Syatrabil dalam pemerintahan Singa melebihi kedudukkan Dimnah. Dongeng Singa dan Sapi memang bermuatan politis namun ringan untuk dicerna. Dimnah adalah seorang cerdik lagi licik yang juga gigih dalam melaksanakan niatannya Ia melakukan segala cara untuk menghasut Singa supaya Syatrabil mendapat hukuman mati. Singa pun berhasil diperdaya Dimnah. Lalu, sapi Syatrabil pun akhirnya menemui ajal di tangan Singa. Bagi saya di sinilah letak kecerdasan “bersastra” Bedapa karena tokoh-tokoh yang diciptakan dalam Kalilah Wa Dimnah adalah nama-nama binatang yang berarti ada kelucuan khas saat membacanya. Tak dapat dipungkiri dalam dunia manusia sendiri watak permasalahan seperti itu mudah ditemui. Fitnah, tipu, culas, dengki, arogansi, dendam, hasud, provokasi, janji palsu dan hal-hal sejenis adalah bagian dari kebinatangan manusia-manusia juga, kalau bukan, homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi manusia lainnya).

Dongeng  mempunyai tempat tersendiri bagi para pembacanya, sebagaimana genre buku-buku lain. Dongeng juga merupakan bentuk sastra yang memiliki peran besar dalam pembentukan karakter manusia, khususnya anak-anak. Berbagai karakter dalam dongeng akan memengaruhi pikiran anak-anak untuk meneladani karakter tokoh yang terdapat dalam dongeng. Dengan dongeng seseorang tergolong lebih mudah dan komunikatif menyampaikan gagasan dan buah pikirannya. Barangkali Bedapa berkeinginan agar karyanya dapat dijangkau oleh anak-anak. Sehingga tokoh-tokoh binatang pun mejadi pilihan dalam Kalilah Wa Dimnah. Sebagaimana dongeng ia memantik imaji cerita dan bahasa yang diakhiri dengan lautan hikmah. Dan Kalilah Wa Dimnah adalah buah pikiran seorang filsuf India yang hidup di zaman Sebelum Masehi yang karya-karyanya patut direnungkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s