Month: June 2014

RI 1?

Apa yang akan anda lakukan untuk mengubah sistem pendidikan kita jika terpilih menjadi RI 1? Tentunya anda sudah mendengar dalam 10 tahun belakangan, nuansa pendidikan kita berada dalam krisis kegembiraan. Dalam catatan PISA rank kita berada di posisi 64, peringkat kedua dari yang terakhir. Apakah kami harus bersedih? Tentu saja tidak perlu, karena kesedihan kami tidak pantas ditempatkan di sana. Tahun lalu anggaran pendidikan kita mencapai 32 T. Itu angka yang fantastis! Dan itu berasal dari pajak masyarakat, lalu apa yang masyarakat dapatkan darinya?

Anda tentu mendengar jika seorang siswi di Bali bunuh diri karena tak sanggup menghadapi Ujian Nasional, banyak yang mendadak sakit karenanya, intinya; nuansa pendidikan menjadi depresif. Ini bersebrangan dengan apa yang dicita-citakan bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara, yang seharusnya anak-anak tumbuh sesuai kodrat dan kemauannya, pendidik hanya berkebolehan untuk mendorong kekuatan-kekuatan itu, bukan dipaksa apa yang dimau pemerintah yang menjurus pada robotisasi akal, yang berimbas pada kemiskinan empati, dan hanya mementingi yang individual. Atau jangan-jangan pikiran-pikiran kolonial masih menyantol di pikiran para konseptor pendidikan kita? Ah, inikah 32 triliun itu?

Oya, Bung, mungkin ini pertanyaan elementer yang tak pernah bosan kami singgung pada [calon] penguasa, beranikah anda untuk mensejahterakan pendidik tanpa pandang bulu, maksud saya menjamin Kebutuhan Layak Hidup para pendidik secara merata. Di Banten, seorang pendidik bekerja paruh waktu sebagai ojek getek, di Indonesia Timur, Papua tepatnya, seorang pendidik digaji 50 ribu sebulan, di kota-kota kecil para pendidik tak mampu berdaulat secara ekonomi, dan lain-lain, dan lain-lain. Inikah hasil penggelontoran 32 triliun itu? Atau ke manakah mereka larinya?

Jadi, apa sebetulnya yang akan anda lakukan untuk mengubah sistem pendidikan kita jika terpilih menjadi RI 1?

Advertisements