Month: November 2014

Saat Membeli

Rak bukuku makin penuh. Aku tidak tauk apakah ini hal yang baik atau malah buruk bagi diriku. Ada dua hal yang berkaitan dengannya.

Pertama, dengan semakin bertambahnya buku di rak itu berarti rak bukuku akan penuh sebab masih banyak space sehingga berbagai buku dapat berjejeran dengan gagah yang siap mengombang-ambing pikiran laksana bajak laut Viking di atas perahu yang diombang-ambing samudera saat menuju kerajaan Northingdam untuk menjarah emas. Hohoh… Paling tidak tak sia-sia rak itu berpanjang 1 meter 40 cm.

Kedua, dan ini memang masalahnya, banyak buku yang belum aku baca sementara di lain waktu aku malah membeli buku lagi, di kesempatan lain membelinya lagi, lagi, dan lagi. Parah. Aku memang belum sampai ke taraf hoarder book, tapi sepertinya hoarder book bermula dari situ. Haha. Bedanya dengan mereka, aku sadar betul buku-buku yang kubeli berjenis apa saja. Tidak asal beli.

h

Suatu kali kawanku pernah berkata jika ia begitu boros karena terus-terusan membeli kaos (merch band) dengan dalih supporting artist yang menasbihkan diri di jalur DIY. Kupikir itu memang hal yang tepat, pada awalnya. Sebagaimana pembenaran awalnya memang terdengar heroik seolah dengan begitu ia menyelamatkan kelangsungan hidup dari band itu. Di ruang lain itu bisa saja benar. Karena mekanisme DIY yang kuketahui adalah saling mendukung satu dengan yang lain. Namun pada kenyataan lain ia juga suka membeli merchs/kaos luar yang secara ekonomi band itu telah mapan. Bisakah pembenaran itu digunakan dalam hal ini? Aku ragu malah pembenarannya kini terpatahkan.

Awalnya (juga), aku pun menggunakan pembenaran macam-macam kenapa aku suka sekali membeli buku yang padahal banyak buku di kali lain kubeli dan belum sempat menuntaskannya. Semacam hutang yang belum kubayar. Mungkin inikah hasrat konsumtif yang menonjol pada diri masing-masing kami? Manusia modern pada umumnya. Sangat mungkin. Karena keadaan memungkinkannya. Tetapi maksudku, kenapa aku dan kawanku harus sibuk merangkai pembenaran terhadap apa yang disukai toh kalau suka ya suka saja. Cukup. Tak perlu rasanya nyari pembenaran ke sana ke mari yang lama-lama malah bikin mual sendiri.

Advertisements

Bila Tak Bisa Diperbaiki Biarkan Menjadi Danur

Sebuah komunitas, atau mungkin lebih tepatnya tempat orang-orang yang butuh berteman tapi ia tak tahuk ke mana harus pergi memang tak akan bertahan lama dan tak layak juga dipertahankan. Kehadiran di dunia nyata tak lebih dari tuntutan moral massa virtual agar eksistensi dan citranya tetap terjaga. Tak pernah sekalipun aku mendengar dari mulut mereka akan dibawa ke mana eksistensi komunitas itu?

Mungkin memang tak ada yang diperjuangkan. Dan berjuang untuk apa dan siapa memangnya? Namun hal yang jelas terlihat, makna eksis bagi mereka ialah semakin sering namanya bertebaran di lini kala virtual semakin melonjaklah nilai eksistensialnya. Itulah makna eksistensi bagi mereka. Atau malah makna eksistensi hari ini sebagaimana istilah “Punk Hari Ini”. Keduanya punya benang merah yang sama. Sama-sama menggelikan. Di mana keduanya berlomba mengalienasi dirinya sendiri dengan berharap nilai tertentu dari sebuah gerakan yang palsu.

Hah, gerakan? Kupikir kata itu terlalu konyol ditempatkan di sini, kumpulan biasa, mungkin lebih tepat. Barangkali saking hidup terlampau sepi untuk diisi dan tak tahuk ke mana harus pergi berkumpulpun menjadi pilihan karena manusia pada dasarnya ingin saling mengisi dan diisi. Yang menjadi masalah adalah disorientasi pada kegiatan (hura-hura pun tidak! Parah. Haha) Juga miskinnya imaji tentang kenapa sebuah kolektif mesti dibentuk?

Aku tidak anti-media mengingat ini abad media mana mungkin aku menolak keadaan itu hanya saja bukankah sosial media akan tampak sangat berguna apabila digunakan secara tepat guna? Ada keberimbangan antusiasme antara realitas dan virtual. Tapi yang kutemui malah sebaliknya. Hanyalah tontonan. Tontonan yang buruk.

Belum Juga Usai: Kemerduanmu

Engkau membaca puisi disertai kelincahan gerak tubuhmu yang lentur dan sedikit lebar. Ke kiri dan ke kanan, maju juga mundur. Aku tak henti-hentinya menatapmu, memerhatikan setiap gerakmu. Backsound menambah nuansa panggung makin sublim.

Engkau membacakan puisi Rendra, hanya aku lupa dengan judulnya. Bukan Sebatang Lisong, bukan pula Pesan Pencopet Pada Pacarnya karena aku hapal betul keduanya. Mataku tertuju padamu sepenuhnya. Enerjik, pikirku. Penampilanmu mengalihkan puisi yang engkau baca saat itu. Nampaknya, engkau terbiasa melakukannya. Engkau sudah terlatih dengan baik. Aku suka. Sangat suka.

Suaramu begitu merdu, tidak terlalu keras memang, engkau meninggi-rendahkan bait-bait yang kiranya pas untuk ditekan ke atas atau pun agak rendah. Ditambah dengan ekspresionis tubuhmu yang lunglai. Seperti kupu-kupu yang baru menetas dari kepompong. Aku pun bergidik dibuatnya.

Setelah penampilanmu aku meminta temanku mengenalkanmu padaku, sebelumnya engkau sudah saling kenal memang. Kemudian engkau dan temanku menghampiriku, memperkenalkan namamu, begitupun juga aku.

Sesuai dugaanku, engkau sudah terbiasa melakukannya. Membaca puisi dengan penuh penghayatan, menjiwainya, menjadikannya menyatu denganmu. Engkau melakukannya sejak SMA, katamu. Merdu, pelan, dengan senyuman yang lucu.

Puisi pun selesai hanya sampai di situ, puisi itu tuntas hingga di sana. Mungkin. Mungkin?

Keluh Kesah Keruh

Subsidi BBM itu semacam repetisi kekonyolan yang tak banyak disadari kawan-kawanku, tepatnya, oleh kelas menengah (ke bawah, mentok, whatsoever you call it). Sebetulnya, aku sendiri cukup bingung masuk ke dalam kelas mana mengingat pendapatanku jauh dari kebutuhan layak hidup, meskipun mampu ngeblog, atau bermain sosial media lainnya aku meragukan klaim keberadaan kelas menengah pada diriku. Krisis identitas kelas? Mungkin saja. Karena aku hidup di antara kelas menengah yang keberadaannya tak mampu kuraih secara penuh. Ada gap yang tegas antara kami (honorer) dan mereka (PNS). Tapi toh hidup harus terus berlanjut meskipun terkencing-kencing dikejar kebutuhan dengan mencari tambahan dari pekerjaan lain. Aku merayakannya.

Presiden berganti dengan harapan akan ada perubahan secara menyeluruh pada nasib masing-masing kami, lebih tepatnya diriku, namun seperti biasa aku dikecewakan lagi dengan naiknya BBM di saat harga minyak dunia turun yang mengotomatisasi naiknya harga-harga lainnya. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya di mana pergantian kepala negara selalu melahirkan pemujaan dan harapan yang berakhir dengan kekecewaan.

Begitukah watak pemerintahan, memberi harapan palsu pada rakyatnya? Dan yang tak kalah menyebalkannya tak sedikit kelas menengah yang menyuruh mengubah pola hidup agar hemat. Katakanlah, aku mengubah konsumtivitasku. Mengurangi menggunakan kendaraan bermotor, bersepeda ke kantor –toh tak disuruh pun aku sudah melakukannya, atau yang lebih moron menggunakan transportasi publik. Dan, untuk yang terakhir inilah yang menimbulkan keambangan menjalani rutinitas mengingat begitu buruknya transportasi di sini. Buruk sekali. Dengan menjalankan sistem yang sama (baca: kapitalisme kontemporer) maka output-nya pun akan sama pula, bahkan dalam 1 dekade ke depan pun. Kita tak akan berubah. Dan engkau mengatakan ubahlah pola hidupmu. Sedang melucukah engkau? Atau mungkin bodoh karena kepalanya tak senantiasa diisi dengan pengetahuan mengenainya, atau mungkin juga naif, dungu, namun yang jelas amat menyebalkan! Subsidi BBM tak akan mengubah nasibku, engkau, jika sistem yang dijalankan masih sama seperti sebelumnya. Tidak tepat sasaran subsidi akan selalu ada, ketimpangan sosial ekonomi akan selalu ada selama pola-pola kemarin masih dipelihara. Aku cukup menyesal kemarin masuk ke dalam bilik kotak suara. Mungkin, nasibku hanya bisa berubah tanpa mengharap lagi pada pemerintah.

Dasar lubang pantat!

Soalan Tato

Era posmodernisme antara lain ditandai oleh pergeseran dari pluralitas interpretasi menuju kemajemukan realitas; yang utama bukan lagi epistemologi dan pengetahuan, melainkan ontologi dan praktek. Dalam tatapan tersebut posisi tubuh jadi sangat vital karena ia merupakan ruang perjumpaan antara individu dan sosial, ide dan materi, sakral dan profan, transenden dan imanen. Tubuh dengan posisi ambang seperti itu tidak saja disadari sebagai medium bagi merasuknya pengalaman ke dalam diri, tetapi juga merupakan medium bagi terpancarnya ekspresi dan aktualisasi diri. Bahkan, lewat dan dalam tubuh, pengalaman dan ekspresi terkait secara dialektis. Kesadaran akan sentralitas tubuh semacam ini pada gilirannya memicu munculnya pertanyaan dan pernyataan (secara kebahasaan maupun non-bahasa) seputar sifat dasar (nature) tubuh itu sendiri: bagaimana kemandirian dan atau ketergantungan tubuh alami pada kekuatan lain di sekitarnya, kekuatan-kekuatan yang membentuk kesadaran dan pengalaman ketubuhan.

Tato pertama kali dilakukan pada tubuh manusia kira-kira 5300 tahun lalu, tergambar pada tubuh mumi Otzi The Iceman yang terdapat 57 tato pada tubuhnya, setidaknya itulah yang ditemukan para arkeolog. Tato, pada mulanya bermakna sesuatu yang suci dan sakral. Pada abad 300-900 SM tato dan berbagai perhiasan tubuh berkembang pesat pada suku Maya, Inca, dan Aztec. Selain itu, tato sebagai alat medis juga dapat ditemui pada masyarakat Mesir dan Afrika Selatan. Suku Nuer di Sudan menggunakan tato untuk menandai ritus inisiasi pada anak laki-laki. Pada suku bangsa Kirdi dan Lobi, Afrika Tengah, terdapat tato berukuran kecil di bagian wajah, tepatnya di mulut membentuk desain segitiga yang disebut wobaade. Tato ini bertujuan menghindarkan diri dari gangguan setan. Di Cina tepatnya pada suku Drung dan Dai perajahan tubuh dan wajah merupakan hal yang biasa. Tato digunakan sebagai perlambang dewasa bagi anak perempuan yang memasuki usia 12-13 tahun. Tato di berbagai suku bangsa punya motif dan ruang interpretasi masing-masing, begitupun juga di Jepang, India, Burma, Vietnam, dan juga termasuk di Nusantara.

Secara historis, tato telah menjadi sebuah seni merajah tubuh yang umum di kawasan Asia Tenggara pada kurun zaman Niaga, yakni sekitar 1450-1680 M. Dahulu sekali tato digunakan sebagai penanda status sosial suatu masyarakat tertentu. Praktik tato pada abad 17 mulai menyusut ketika berbagai agama besar masuk, seperti Islam dan Kristen. Namun beriringan dengan menyusutnya tradisi bertato, para pelaut atau pelancong asal Inggris seperti James Cook telah membawa tato pada masyarakat urban kota dengan hasil penemuannya ketika mengunjungi pulau-pulau di hampir separuh bumi. Sehingga pada hari ini orang-orang kota banyak yang bersolek dengan tato. Hanya beda pemaknaan saja, kebanyakan alasan estetik.

Negeri terkutuk ini pernah mengalami masa-masa mengerikan pada kurun waktu 1983-1985, khususnya bagi orang-orang bertato. Atas nama stabilitas nasional, orde baru telah mengebumikan ratusan atau malah ribuan manusia bertato karena dianggap sebagai kriminal dengan modus operasi Petrus a.k.a Penembakan Misterius. Pada masa itu pun orang-orang bertato tidak boleh bekerja pada pemerintah seperti menjadi PNS, ABRI, dan sejenisnya. Sama seperti di Jepang pada tahun 720 M di bawah Kekaisaran Shogun yang menganggap kriminal bagi orang-orang bertato lantas menghukumnya dengan hukum kaisar, hanya tak sampai dibunuh seperti yang dilakukan orde baru. Tato mulai bangkit kembali di Jepang sekitar tahun 1700 M. Selain sebagai pengungkapan rasa estetis, tato bagi orang kelas menengah bawah Jepang juga dimaksudkan sebagai reaksi disiplin terhadap hukum menyangkut cara hidup konsumtif. Pada waktu itu orang kaya di Jepang biasa berpakaian dengan hiasan. Oleh karena itu, sebagai resistensinya, kaum menengah bawah menghiasi tubuh dengan tato. Pada gilirannya kelompok mafia terkenal seperti Yakuza menghiasi tubuhnya dengan tato tertentu sebagai identitas kelompoknya. Bahkan, instrumen Negara seperti militer (baca: Samurai) pada era Tokugawa menggunakan tato sebagai penanda bahwa ia adalah seorang Samurai atau hanya sekedar menarik perhatian perempuan.

Sedangkan di Indonesia tato kembali bangkit pasca 1998, setelah lengsernya Suharto dari tahta mega kuasa, kredo kebebasan berekspresi menggaung ke seantero negeri mengingat betapa horornya rezim orde baru saat itu terhadap ekspresi estetis, termasuk tato. Anak-anak muda mulai bangga memamerkan tubuhnya yang penuh tato, meskipun bagi sebagian orang hal ini masih dianggap sesuatu yang devian. Alasan, kenapa anak-anak muda pada hari ini bertato tak lebih dari soalan estetis. Arus modernitas telah mendistorsi dan mereproduksi makna tato pada awal kemunculannya. Tato adat nusantara kini terancam punah. Laju modernisme salah satu penyebab yang pertama, dan yang kedua: tentu saja stigmatisasi yang digencarkan pemerintahan orde baru yang masih melekat di ingatan publik. Generasi muda suku dayak Iban kini tak banyak menggunakan tato, jikapun ditemukan tato pada tubuhnya, seperti alasan anak muda lainnya ia hanya bersinggungan dengan estetika belaka, lebih tepatnya keren-kerenan. Mirip lomba balap karung saat 17 agustusan, dalam hal ini, siapa yang paling estetis, dialah pemenangnya. Memang tak ada yang keliru tentang itu. Toh ini bukan soal mana yang tepat dan keliru. Namun, di sisi yang paling tepi, hal ini juga menunjukan absennya ruang apresiasi terhadap tradisi tato masyarakat adat.

Oleh karenanya, asumsi bahwa tubuh merupakan entitas yang aneh, tak bisa dienyahkan begitu saja. Pasalnya, identitas tubuh dapat terserap ke dalam berbagai nilai, prasangka hingga diskriminasi. Fokus permasalahan tubuh tidak bisa begitu saja dipersempit pada permasalahan penafsiran dan pemaknaan. Sebab, tubuh juga mempunyai koneksitas material dengan relasi kekuasaan sehingga tubuh pun tak lepas dari dimensi politik dan kebijakan negara. Aku menyetujui sebuah pendapat bahwa sejarah keberadaan tubuh sebenarnya adalah sejarah tatanan atau orde. Tubuh bukanlah entitas yang genetis saja, melainkan juga bersifat evolutif dan diakronik. Sejarah sosial politik dan budaya telah membentuk konsepsi mengenai tubuh sehingga tubuh terserap ke dalam perbedaan klasifikasi sosial, hierarki politik, dan struktur budaya yang pada gilirannya membentuk sebuah orde atau tatanan.

Pertanyaan tentang, milik siapakah tubuhku-tubuhmu ini? Diriku, dirimu, atau negara, huh? Mungkin, mungkin terjawab dikelanjutan saga berikutnya.