Soalan Tato

Era posmodernisme antara lain ditandai oleh pergeseran dari pluralitas interpretasi menuju kemajemukan realitas; yang utama bukan lagi epistemologi dan pengetahuan, melainkan ontologi dan praktek. Dalam tatapan tersebut posisi tubuh jadi sangat vital karena ia merupakan ruang perjumpaan antara individu dan sosial, ide dan materi, sakral dan profan, transenden dan imanen. Tubuh dengan posisi ambang seperti itu tidak saja disadari sebagai medium bagi merasuknya pengalaman ke dalam diri, tetapi juga merupakan medium bagi terpancarnya ekspresi dan aktualisasi diri. Bahkan, lewat dan dalam tubuh, pengalaman dan ekspresi terkait secara dialektis. Kesadaran akan sentralitas tubuh semacam ini pada gilirannya memicu munculnya pertanyaan dan pernyataan (secara kebahasaan maupun non-bahasa) seputar sifat dasar (nature) tubuh itu sendiri: bagaimana kemandirian dan atau ketergantungan tubuh alami pada kekuatan lain di sekitarnya, kekuatan-kekuatan yang membentuk kesadaran dan pengalaman ketubuhan.

Tato pertama kali dilakukan pada tubuh manusia kira-kira 5300 tahun lalu, tergambar pada tubuh mumi Otzi The Iceman yang terdapat 57 tato pada tubuhnya, setidaknya itulah yang ditemukan para arkeolog. Tato, pada mulanya bermakna sesuatu yang suci dan sakral. Pada abad 300-900 SM tato dan berbagai perhiasan tubuh berkembang pesat pada suku Maya, Inca, dan Aztec. Selain itu, tato sebagai alat medis juga dapat ditemui pada masyarakat Mesir dan Afrika Selatan. Suku Nuer di Sudan menggunakan tato untuk menandai ritus inisiasi pada anak laki-laki. Pada suku bangsa Kirdi dan Lobi, Afrika Tengah, terdapat tato berukuran kecil di bagian wajah, tepatnya di mulut membentuk desain segitiga yang disebut wobaade. Tato ini bertujuan menghindarkan diri dari gangguan setan. Di Cina tepatnya pada suku Drung dan Dai perajahan tubuh dan wajah merupakan hal yang biasa. Tato digunakan sebagai perlambang dewasa bagi anak perempuan yang memasuki usia 12-13 tahun. Tato di berbagai suku bangsa punya motif dan ruang interpretasi masing-masing, begitupun juga di Jepang, India, Burma, Vietnam, dan juga termasuk di Nusantara.

Secara historis, tato telah menjadi sebuah seni merajah tubuh yang umum di kawasan Asia Tenggara pada kurun zaman Niaga, yakni sekitar 1450-1680 M. Dahulu sekali tato digunakan sebagai penanda status sosial suatu masyarakat tertentu. Praktik tato pada abad 17 mulai menyusut ketika berbagai agama besar masuk, seperti Islam dan Kristen. Namun beriringan dengan menyusutnya tradisi bertato, para pelaut atau pelancong asal Inggris seperti James Cook telah membawa tato pada masyarakat urban kota dengan hasil penemuannya ketika mengunjungi pulau-pulau di hampir separuh bumi. Sehingga pada hari ini orang-orang kota banyak yang bersolek dengan tato. Hanya beda pemaknaan saja, kebanyakan alasan estetik.

Negeri terkutuk ini pernah mengalami masa-masa mengerikan pada kurun waktu 1983-1985, khususnya bagi orang-orang bertato. Atas nama stabilitas nasional, orde baru telah mengebumikan ratusan atau malah ribuan manusia bertato karena dianggap sebagai kriminal dengan modus operasi Petrus a.k.a Penembakan Misterius. Pada masa itu pun orang-orang bertato tidak boleh bekerja pada pemerintah seperti menjadi PNS, ABRI, dan sejenisnya. Sama seperti di Jepang pada tahun 720 M di bawah Kekaisaran Shogun yang menganggap kriminal bagi orang-orang bertato lantas menghukumnya dengan hukum kaisar, hanya tak sampai dibunuh seperti yang dilakukan orde baru. Tato mulai bangkit kembali di Jepang sekitar tahun 1700 M. Selain sebagai pengungkapan rasa estetis, tato bagi orang kelas menengah bawah Jepang juga dimaksudkan sebagai reaksi disiplin terhadap hukum menyangkut cara hidup konsumtif. Pada waktu itu orang kaya di Jepang biasa berpakaian dengan hiasan. Oleh karena itu, sebagai resistensinya, kaum menengah bawah menghiasi tubuh dengan tato. Pada gilirannya kelompok mafia terkenal seperti Yakuza menghiasi tubuhnya dengan tato tertentu sebagai identitas kelompoknya. Bahkan, instrumen Negara seperti militer (baca: Samurai) pada era Tokugawa menggunakan tato sebagai penanda bahwa ia adalah seorang Samurai atau hanya sekedar menarik perhatian perempuan.

Sedangkan di Indonesia tato kembali bangkit pasca 1998, setelah lengsernya Suharto dari tahta mega kuasa, kredo kebebasan berekspresi menggaung ke seantero negeri mengingat betapa horornya rezim orde baru saat itu terhadap ekspresi estetis, termasuk tato. Anak-anak muda mulai bangga memamerkan tubuhnya yang penuh tato, meskipun bagi sebagian orang hal ini masih dianggap sesuatu yang devian. Alasan, kenapa anak-anak muda pada hari ini bertato tak lebih dari soalan estetis. Arus modernitas telah mendistorsi dan mereproduksi makna tato pada awal kemunculannya. Tato adat nusantara kini terancam punah. Laju modernisme salah satu penyebab yang pertama, dan yang kedua: tentu saja stigmatisasi yang digencarkan pemerintahan orde baru yang masih melekat di ingatan publik. Generasi muda suku dayak Iban kini tak banyak menggunakan tato, jikapun ditemukan tato pada tubuhnya, seperti alasan anak muda lainnya ia hanya bersinggungan dengan estetika belaka, lebih tepatnya keren-kerenan. Mirip lomba balap karung saat 17 agustusan, dalam hal ini, siapa yang paling estetis, dialah pemenangnya. Memang tak ada yang keliru tentang itu. Toh ini bukan soal mana yang tepat dan keliru. Namun, di sisi yang paling tepi, hal ini juga menunjukan absennya ruang apresiasi terhadap tradisi tato masyarakat adat.

Oleh karenanya, asumsi bahwa tubuh merupakan entitas yang aneh, tak bisa dienyahkan begitu saja. Pasalnya, identitas tubuh dapat terserap ke dalam berbagai nilai, prasangka hingga diskriminasi. Fokus permasalahan tubuh tidak bisa begitu saja dipersempit pada permasalahan penafsiran dan pemaknaan. Sebab, tubuh juga mempunyai koneksitas material dengan relasi kekuasaan sehingga tubuh pun tak lepas dari dimensi politik dan kebijakan negara. Aku menyetujui sebuah pendapat bahwa sejarah keberadaan tubuh sebenarnya adalah sejarah tatanan atau orde. Tubuh bukanlah entitas yang genetis saja, melainkan juga bersifat evolutif dan diakronik. Sejarah sosial politik dan budaya telah membentuk konsepsi mengenai tubuh sehingga tubuh terserap ke dalam perbedaan klasifikasi sosial, hierarki politik, dan struktur budaya yang pada gilirannya membentuk sebuah orde atau tatanan.

Pertanyaan tentang, milik siapakah tubuhku-tubuhmu ini? Diriku, dirimu, atau negara, huh? Mungkin, mungkin terjawab dikelanjutan saga berikutnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s