Keluh Kesah Keruh

Subsidi BBM itu semacam repetisi kekonyolan yang tak banyak disadari kawan-kawanku, tepatnya, oleh kelas menengah (ke bawah, mentok, whatsoever you call it). Sebetulnya, aku sendiri cukup bingung masuk ke dalam kelas mana mengingat pendapatanku jauh dari kebutuhan layak hidup, meskipun mampu ngeblog, atau bermain sosial media lainnya aku meragukan klaim keberadaan kelas menengah pada diriku. Krisis identitas kelas? Mungkin saja. Karena aku hidup di antara kelas menengah yang keberadaannya tak mampu kuraih secara penuh. Ada gap yang tegas antara kami (honorer) dan mereka (PNS). Tapi toh hidup harus terus berlanjut meskipun terkencing-kencing dikejar kebutuhan dengan mencari tambahan dari pekerjaan lain. Aku merayakannya.

Presiden berganti dengan harapan akan ada perubahan secara menyeluruh pada nasib masing-masing kami, lebih tepatnya diriku, namun seperti biasa aku dikecewakan lagi dengan naiknya BBM di saat harga minyak dunia turun yang mengotomatisasi naiknya harga-harga lainnya. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya di mana pergantian kepala negara selalu melahirkan pemujaan dan harapan yang berakhir dengan kekecewaan.

Begitukah watak pemerintahan, memberi harapan palsu pada rakyatnya? Dan yang tak kalah menyebalkannya tak sedikit kelas menengah yang menyuruh mengubah pola hidup agar hemat. Katakanlah, aku mengubah konsumtivitasku. Mengurangi menggunakan kendaraan bermotor, bersepeda ke kantor –toh tak disuruh pun aku sudah melakukannya, atau yang lebih moron menggunakan transportasi publik. Dan, untuk yang terakhir inilah yang menimbulkan keambangan menjalani rutinitas mengingat begitu buruknya transportasi di sini. Buruk sekali. Dengan menjalankan sistem yang sama (baca: kapitalisme kontemporer) maka output-nya pun akan sama pula, bahkan dalam 1 dekade ke depan pun. Kita tak akan berubah. Dan engkau mengatakan ubahlah pola hidupmu. Sedang melucukah engkau? Atau mungkin bodoh karena kepalanya tak senantiasa diisi dengan pengetahuan mengenainya, atau mungkin juga naif, dungu, namun yang jelas amat menyebalkan! Subsidi BBM tak akan mengubah nasibku, engkau, jika sistem yang dijalankan masih sama seperti sebelumnya. Tidak tepat sasaran subsidi akan selalu ada, ketimpangan sosial ekonomi akan selalu ada selama pola-pola kemarin masih dipelihara. Aku cukup menyesal kemarin masuk ke dalam bilik kotak suara. Mungkin, nasibku hanya bisa berubah tanpa mengharap lagi pada pemerintah.

Dasar lubang pantat!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s