Belum Juga Usai: Kemerduanmu

Engkau membaca puisi disertai kelincahan gerak tubuhmu yang lentur dan sedikit lebar. Ke kiri dan ke kanan, maju juga mundur. Aku tak henti-hentinya menatapmu, memerhatikan setiap gerakmu. Backsound menambah nuansa panggung makin sublim.

Engkau membacakan puisi Rendra, hanya aku lupa dengan judulnya. Bukan Sebatang Lisong, bukan pula Pesan Pencopet Pada Pacarnya karena aku hapal betul keduanya. Mataku tertuju padamu sepenuhnya. Enerjik, pikirku. Penampilanmu mengalihkan puisi yang engkau baca saat itu. Nampaknya, engkau terbiasa melakukannya. Engkau sudah terlatih dengan baik. Aku suka. Sangat suka.

Suaramu begitu merdu, tidak terlalu keras memang, engkau meninggi-rendahkan bait-bait yang kiranya pas untuk ditekan ke atas atau pun agak rendah. Ditambah dengan ekspresionis tubuhmu yang lunglai. Seperti kupu-kupu yang baru menetas dari kepompong. Aku pun bergidik dibuatnya.

Setelah penampilanmu aku meminta temanku mengenalkanmu padaku, sebelumnya engkau sudah saling kenal memang. Kemudian engkau dan temanku menghampiriku, memperkenalkan namamu, begitupun juga aku.

Sesuai dugaanku, engkau sudah terbiasa melakukannya. Membaca puisi dengan penuh penghayatan, menjiwainya, menjadikannya menyatu denganmu. Engkau melakukannya sejak SMA, katamu. Merdu, pelan, dengan senyuman yang lucu.

Puisi pun selesai hanya sampai di situ, puisi itu tuntas hingga di sana. Mungkin. Mungkin?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s