Saat Membeli

Rak bukuku makin penuh. Aku tidak tauk apakah ini hal yang baik atau malah buruk bagi diriku. Ada dua hal yang berkaitan dengannya.

Pertama, dengan semakin bertambahnya buku di rak itu berarti rak bukuku akan penuh sebab masih banyak space sehingga berbagai buku dapat berjejeran dengan gagah yang siap mengombang-ambing pikiran laksana bajak laut Viking di atas perahu yang diombang-ambing samudera saat menuju kerajaan Northingdam untuk menjarah emas. Hohoh… Paling tidak tak sia-sia rak itu berpanjang 1 meter 40 cm.

Kedua, dan ini memang masalahnya, banyak buku yang belum aku baca sementara di lain waktu aku malah membeli buku lagi, di kesempatan lain membelinya lagi, lagi, dan lagi. Parah. Aku memang belum sampai ke taraf hoarder book, tapi sepertinya hoarder book bermula dari situ. Haha. Bedanya dengan mereka, aku sadar betul buku-buku yang kubeli berjenis apa saja. Tidak asal beli.

h

Suatu kali kawanku pernah berkata jika ia begitu boros karena terus-terusan membeli kaos (merch band) dengan dalih supporting artist yang menasbihkan diri di jalur DIY. Kupikir itu memang hal yang tepat, pada awalnya. Sebagaimana pembenaran awalnya memang terdengar heroik seolah dengan begitu ia menyelamatkan kelangsungan hidup dari band itu. Di ruang lain itu bisa saja benar. Karena mekanisme DIY yang kuketahui adalah saling mendukung satu dengan yang lain. Namun pada kenyataan lain ia juga suka membeli merchs/kaos luar yang secara ekonomi band itu telah mapan. Bisakah pembenaran itu digunakan dalam hal ini? Aku ragu malah pembenarannya kini terpatahkan.

Awalnya (juga), aku pun menggunakan pembenaran macam-macam kenapa aku suka sekali membeli buku yang padahal banyak buku di kali lain kubeli dan belum sempat menuntaskannya. Semacam hutang yang belum kubayar. Mungkin inikah hasrat konsumtif yang menonjol pada diri masing-masing kami? Manusia modern pada umumnya. Sangat mungkin. Karena keadaan memungkinkannya. Tetapi maksudku, kenapa aku dan kawanku harus sibuk merangkai pembenaran terhadap apa yang disukai toh kalau suka ya suka saja. Cukup. Tak perlu rasanya nyari pembenaran ke sana ke mari yang lama-lama malah bikin mual sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s