Voice of Voiceless

Babylon was built on fire and the bones of useless machines, it hurt to breathe you fell away from me ~Babylon Was Built On Firestars, Thee Silver Mount Zion Memorial Orchestra 

Aku merindukan sebuah rumah. Tempat, di mana aku bisa menumpahkan keluh kesah, gelisah, resah. Aku merindukan sebuah rumah. Tempat, di mana aku bisa bercerita bebas gembira, ceria, tertawa. Aku merindukan sebuah rumah. Tempat, di mana jiwaku mampu kubenamkan dan terbitkan sesuka hati.

Aku merindukan rumah. Masa, di mana aku bisa memberitahukan apa yang aku inginkan kepada Ayah dan Ibuku. Segala yang aku mau. Sama seperti saat aku kecil. Aku merindukan di mana aku bisa bermain bola di halaman rumahku, bermain tenis meja, mendirikan tenda bersama teman-temanku. Tertawa. Hanya Tertawa.

Aku sangat merindukan sebuah rumah. Tempat, di mana aku dan adikku suka berebut mainan. Aku membuatnya kesal, dia membuatku kesal. Kita menjadi menyebalkan! Rumah. Tempat, di mana aku bisa membawa teman-temanku bermain di rumahku, membawa pacar ke rumahku dengan perasaan bebas.

Aku merindukan kolam ikan yang berada di depan rumahku yang terdapat pos ronda di sebelahnya. Dan aku suka bermain gitar sekaligus bernyanyi di sana. Aku rindu membuat puisi abal-abal di kamar rumahku  dengan suasana sepi, damai, dan menenangkan. Di rumahku, aku dapat memandang purnama di bawah pohon mangga dengan telanjang. Sesekali makhluk astral tampak dengan lancang menggoda adik dan teman-temanku. Meski aku agak ragu dengan kisah itu.

Di rumahku, pasar yang terbakar pun bisa terlihat jelas. Api berkobar disertai asap pekat memangsa udara sebagai tanda bahwa zat kimia telah berubah menjadi monster tak berbentuk. Serupa lukisan abstrak yang bertinta gelap dan abu.

Suatu kali saat aku kecil aku pernah membakar gabus di belakang rumahku yang memotivasi kebakaran jika para tetanggaku tak sigap siaga membanjiri api dengan air. Padahal saat itu aku hanya ingin bermain. Pikiranku begitu bebas, tak memikirkan konsekuensi. Lepas begitu saja.

Warna dinding keramik yang hijau. Pagar hijau. Barisan pepohonan yang juga hijau di belakang. Atap yang tidak jarang digerogoti tikus. Suara-suara langkah kaki yang aneh jika malam menangkap. Aku merindukannya. Saat hujan datang, aku selalu merasa nyaman berada di kamar rumahku. Terlebih jika engkau juga hadir bersamaku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s