Senja Yang Menghadirkan Masa (I)

Hampir 3 tahun lalu. Di kota ini, kota yang terkenal dengan sebutan Kota Hujan pernah kudiami. Tak lama memang, kurang dari setahun, kisaran delapan bulan saja. Dalam rangka ‘aktivisme’ sekaligus mencari tambahan uang agar bertahan di situ kala itu. Cukup kompleks ketika aku harus tinggal di Kota ini sementara sidang skripsi saat itu tinggal beberapa minggu lagi, di Kota lain pulak. Ah, aku sudah menutup cerita soal studiku itu.

Disebut kompleks karena ini berkaitan dengan hal-hal politik, tentara, bahkan klenik. Tentara? Hahaha. Klenik? Holy-Crap! Ya, memang saat itu aku menginap di sebuah mess kepunyaan salah satu Mayjen TNI-AU yang dalam rutinitasnya membaurkan hal-hal di luar nalar normatif secara kolektif. Praktek mitologi yang dipaksakan pada era posmodern seperti sekarang. Namun, semakin ke sini aku hanya menganggapnya sebagai bentuk kearifan lokal saja. Penanda identitas waktu dan massa dahulu kala. Warisan tradisi. Pengalaman yang lumayan berharga. Meski sebagian orang memanfaatkan hal ini untuk keuntungan pribadi. Aku benci pada bagian ini.

Kuakui memang di Kota ini juga aku banyak mendapat pelajaran penting soal hidup. Perspektif baru dalam memandang hidup terutama setelah membaca karya-karya Tan Malaka yang makin diperkuat lagi dengan mendengar dan menafsirkan Homicide. Kolektif hip-hop yang sudah menjadi kultus bagi sebagian orang. Semenjak saat itu, hidupku tak pernah sama lagi memang. Dan memang bagiku mereka begitu inspirasional! Bukankah sebaik-baiknya memberi adalah menginspirasi?

Kini, aku kembali lagi ke Kota ini. Kali ini dalam rangka hanya  pekerjaan. Aku telah resign dari pekerjaan lama. Pekerjaan yang sempat kubela sepenuh energi namun harus kurelakan pergi. Menyerah? Kalah? Munafik? Mungkin. Mungkin. Aku tak keberatan dikatakan demikian. Yang pasti aku gagal bertahan di sana, dan yang mengataiku tak akan bisa menghentikan kesusahan-kesusahanku saat menjalani hari, memberi senangpun mustahil rasanya. Maka yang kupilih saat ini adalah adaptasi agar esok hari lebih baik dari hari ini. Sesederhana itu.

Kota ini, meski cumak ditinggalkan nyaris 3 tahun olehku ternyata sudah banyak perubahan. Salah satu kelebihanku dalam merasakan perubahan adalah hanya dengan menghirup udaranya. Penciumanku cukup peka dalam mendeteksi oksigen yang tercecer di udara. Mungkin ini suatu bakat alam. Aku bisa merasai udara di sekitar sini bahwa di sini makin pengap. Tak sama. Tak akan pernah sama lagi sepersis aku di sini kala itu. Meskipun tak sepengap Jakarta atau Bekasi.

Bukankah wajar jika kita menempatkan perspektif bahwa kota ini akan bertransformasi menjadi Kota Wisata, persisnya Industri Wisata. Cukup masuk akal karena Kota ini cumak terpaut puluhan mil dari Ibu Kota di mana pusat kapital berputar. Orang akan membutuhkan udara segar ketika akhir pekan tiba, Kota ini pun menjadi pilihan di antara sedikit pilihan, selain Bandung tentu saja. Yang biasanya akan sesak sekali bila akhir pekan datang. Aku tak tahuk secara pasti sejak kapan kota Bandung menjadi tempat perayaan kecil-kecilan massa pekerja. Namun dengan begitu makin menjamur pulaklah lumpen proletariat di sana. Seperti di Kota ini. Persis.

Kupikir hanya satu yang tak berubah di sini yaitu, senjanya. Aku selalu suka ketika senja melintas di Kota ini. Entahlah, karena jika di kota-kota lain sensasinya juga lain. Semacam hadir sublimitas yang menyentuh bagian diriku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s