Rinai, Dimensi Hujan Jatuh Saat Mentari Tenggelam

Aku tidak meminta pada siapapun untuk menyukaiku, menyayangiku, mencintaiku. Aku adalah aku sebagaimana diriku. Meski aku tahuk, aku begitu lemah ketika kita saling memandang. Senyummu, tahik lalatmu, suaramu, menenangkan keapianku. Konon, orang yang lahir pada hari selasa memiliki sifat-sifat api secara lebih kental. Dan memang eksis dalam diriku bara itu. Dalam situasi kondisi tertentu, aku dapat dengan mudah terpancing emosi, sulit berpikir jernih, kekanak-kanakkan. Tetapi, hanya memandangmu, memerhatikan simpul senyum bertahik lalat di atas bibirmu cenderung menciptakan kedamaian dalam diriku, kusadari, aku memang punya kecenderungan mendadak tenang hanya dengan memandang perempuan yang kusukai. Entah sejak kapan perasaan seperti itu muncul dari dalam diriku. Hanya baru kusadari sekarang. Keluguanmu, sejujurnya seringkali membuatku tertawa, dan kusimpan hanya dalam malam. Saat hening mencapai telak. Menepikannya pada sunyi memakam dalam ruang yang tak terlalu besar ini. Ruang tempat aku bekerja, makan, dan terlelap. Kita memang sudah tahuk perihal kesunyian yang tercatat di dalam. Ada yang selalu jatuh dari langit sana, setiap senja, sebelum suara adzan menggema. Ada yang selalu menangkap matamu di daratan ini, dekat, erat seperti percik air menempel di tepi kaca jendela.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s