Month: January 2015

Menguap

Antusiasme. Menurut kamus ia berarti kegairahan, gelora semangat; minat besar terhadap sesuatu. Bila boleh kutambahkan; kepada hal yang menurutmu mampu membuat dirimu tetap terjaga dari hal-hal yang membuatmu lupa akan diri sendiri. Aku memang suka membaca novel, membaca sejarah, serta puisi. Meski tak seintens dulu. Dan untuk yang terakhir secara khusus aku merawat kesukaanku dengan berkegiatan mengadakan pembacaan satu bulan sekali sambil belajar mendalami apa yang terdapat di dalam kedalaman puisi-puisi yang dibaca, lengkap dengan segala urusan yang terkait di dalamnya. Meski aku tahuk pengetahuanku mengenai puisi sangatlah tidak memadai, koleksi buku puisiku pun tak sebanyak novel yang terpajang di rak. Walau tak banyak-banyak amat juga. Aku merelakan waktuku demi itu semua dalam beberapa bulan belakangan ini. Kini, perlahan aku merasakan antusiasmeku terhadapnya mulai berkurang, semakin hari. Aku pernah menyinggung soal ini tempo hari. Intinya, aku sudah mulai malas dan bosan. Mungkin memang karena aku orang yang mudah bosan. Tentu ada sebabnya, seiring waktu yang berjalan dengan berbagai masalah harian pada umumnya, ditambah tak satupun yang aku lakukan dalam kumpulan itu, tak ada ide-ide yang kami eksekusi. Tak ada program yang eksplisit yang tercetus maka antusiasme itu pun ikut-ikutan berubah, sekalipun kemarin kami mengadakan (lagi) pembacaan setelah beberapa bulan vakum, tetap saja bagiku, ia, perlahan-lahan mulai terlupakan, dan dengan sendirinya, hancur. Apakah aku memasuki fase di mana sebuah semangat akan satu hal perlahan menyurup-menelungkup? Semoga, tidak.

Advertisements

Menyelamiku Untuk Menyelamimu

Ia meminta didatangi. Dihangati. Dinyalakan. Dijaga. Ia membisikkan sesuatu yang mesti engkau jelajahi. Tanpa ragu. Menghanguskan ilusi biner warisan purba di mana polesan maskara mendominasi langkah kaki. Meraih hari kembali sebelum bekas luka-luka lama menyerupai ledakkan kembang api yang kubenci tiba menghampiri. Hampir membunuh. Mengelupasi rasa-rasa. Memekakan relung jiwa. Menenggelamkan mimpi hingga dalam. Kini, ia bangkit kembali serupa Kronos yang dibangkitkan sebongkah pedang api, ia hendak melampiaskan hak primordial dengan lekas, memanggil dan dipanggil agar: menuntaskan hasrat.