Author: Reckoner

a man with a rain and fire

Neo Imperialisme AS

olahneo imperium

 

Penulis: Noam Chomsky
Penerbit: Resist Book
Yogyakarta ISBN: 978-979-109-768-0.
Jenis Cover: Soft Cover
Harga: Bisa Ditanya di https://standbuku.wordpress.com/katalog/

Blurb:
Tidak bisa dipungkiri bahwa Amerika Serikat adalah negeri super power yang menjadi pemimpin dari tata dunia saat ini. Ia menjadi kiblat dalam kemajuan dan kemodernan. Namun Chomsky mencoba membongkar dan mengubah mitos AS, baginya AS tidak lebih dari negara Imperialis yang brutal dan biadab. Kemajuan AS dibangun di atas penindasan terhadap penduduk aslinya, terhadap para buruh dan juga penjajahan yang dilakukan di negara dunia ketiga. Media, lembaga pendidikan menjadi alat untuk memanipulasi kemodernan AS dan pembodohan terhadap bangsanya sendiri.

***

Tak banyak buku yang dibaca pada tahun 2015, seperti biasa berlindung dibalik argumentum ad absurdum yaitu, bergelut dengan ‘kesibukan’ yang sesungguhnya menyerupai Sisyphus yang mendorong-dorong bebatuan ke atas bukit lantas menurunkannya kembali kemudian naik lagi, turun lagi dan begitu secara konstan, atau dalam satu kata: kerja. Untuk memenuhi dahaga konsumtivisme, jika enggan dikatakan rutinitas banal yang suistainable pada era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Begitu-begitu saja dari dulu. Ya, begitu-begitu saja. Tapi bukan, bukan itu alasan terbesarnya melainkan dalam satu kata juga: malas. Tahun ini mungkin semacam mengadakan pembalasan atas apa yang terjadi pada tahun lalu. Tahun 2016 ini, memulai dengan bacaan dari seorang yang cukup berpengaruh dalam pemikiran radikal abad ini, yakni Noam Chomsky dengan Neo Imperialisme Amerika Serikat yang kini sedang engkau baca pandangan dangkalnya mengenai buku ini.

Siapa yang bisa menyangkal bahwa Amerika bukan negeri mega power. Betapa tidak? Dengan satu klik tombol dan sebuah instruksi saja, ia mampu menghancurkan sebuah teritori. Lebur dan hancur. Kita telah menyaksikan bagaimana Iraq dihantam terjangan dhrone. Ia seakan menjadi poros utama modernitas bahkan melampauinya dalam aspek apapun dan menjadi mekah bagi mereka kaum pemuja ‘kemajuan’ yang dalam prakteknya haruslah mengadakan penghancuran yang satu dan juga yang lainnya, eksploitatif dalam segala di balik adagium majunya. Mengucurkan derita di mana-mana. Seakan negeri-negeri lain tak mampu membendung hasrat berkuasa Sang Amerika. Lebih jauh lagi melalui pemaparan buku ini, ia menancapkan apa yang sudah terjadi pada masa Pasca Kolonial dalam bentuk sempurnanya yang disebut Imperialisme, dan pada saat yang sama membuat kita percaya bahwa manusia adalah makhluk paling buas dari yang terbuas manapun. Secara pribadi juga aku mengamini bahwa kita memang makhluk paling buas.

Bukankah Amerika katanya penganjur demokrasi paling wahid, menomorsatukan HAM dengan mengizinkan legalitas pernikahan sesama jenis, mengadakan keliling galaksi yang mengutus NASA untuk meneliti Planet Mars atas nama ilmu pengetahuan dan teknologi yang kelak-konon-katanya akan bermanfaat bagi manusia-manusia bumi (dan masih layakkah disebut manusia apabila di Mars telah ditemukan makhluk sejenis kita?), maupun Sillicon Valley yang menggemparkan dunia dengan start up-start up yang berdiri di sana dan menghasilkan miliaran dollar, dan masih banyak lagi mitos tentang Amerika lainnya. Ya memang aku katakan, mitos. Engkau tak salah baca.

Mengapa bisa?

Mungkin, sebagian dari kita belum lupa dengan pemberontakan kaum Sandinista di Nikaragua pada 1933 karena kediktatoran maha akut Somozo sang pemimpin, ataupun warga Kuba, El Salvador, Havana, Paraguay, Kosta Rika, Haiti, Iraq, Afghanistan dan bahkan belakangan ini Palestina. Meskipun yang kita pandang yang melayangkan rudal dan menghujani anak-anak Palestina dengan white phosphorus itu seolah instruksi dari elit-elit Israel pada bala tentaranya, namun kita tahu siapa  Negara di belakang yang mendesain hal demikian di negara-negara yang baru kusebutkan di atas. Ah, iya bukankah hal ini juga terjadi di Papua hari ini? Dan bukankah yang demikian itu adalah praktek-praktek Imperialisme yang di mana perebutan-perebutan atas kepentingan, atau tepatnya kekuasaan dilakukan dengan cara apapun termasuk mengadakan genosida. Demi demokrasi Amerika.

Jhon Dewey, seorang pemikir Amerika yang pragmatis, yang Chomsky punya hutang banyak terhadapnya bahwa suatu waktu ia pernah berkata, salah satu tujuan pendidikan adalah untuk menghayati nilai-nilai kehidupan dan hidup itu sendiri bukan untuk menguasai nilai ataupun mereduksinya untuk menguasai yang lain yang berakhir pada keinginan untuk saling menjatuhkan satu dan lainnya, yang berarti menjatuhkan hidup dan kehidupan itu sendiri. Lalu, bagaimana Imperialisme bisa dikukuhkan di Negeri yang banyak melahirkan pemikir-pemikir dunia itu? Dan mengapa tidak ada perlawanan dan pertentangan dari masyarakatnya sendiri? Apa strategi yang dipakai oleh negara super power tersebut untuk menghegemoni warganya? Buku ini menganalisis bagaimana ideologi imperialisme ditanamkan, dan untuk memahami apa prasyarat-prasyarat yang mesti diciptakan oleh setiap kekuasaan mencapai tujuan-tujuan buasnya. Dan ini mungkin salah satu buku yang tepat untuk dibaca awal tahun ini!

Advertisements

Menguap

Antusiasme. Menurut kamus ia berarti kegairahan, gelora semangat; minat besar terhadap sesuatu. Bila boleh kutambahkan; kepada hal yang menurutmu mampu membuat dirimu tetap terjaga dari hal-hal yang membuatmu lupa akan diri sendiri. Aku memang suka membaca novel, membaca sejarah, serta puisi. Meski tak seintens dulu. Dan untuk yang terakhir secara khusus aku merawat kesukaanku dengan berkegiatan mengadakan pembacaan satu bulan sekali sambil belajar mendalami apa yang terdapat di dalam kedalaman puisi-puisi yang dibaca, lengkap dengan segala urusan yang terkait di dalamnya. Meski aku tahuk pengetahuanku mengenai puisi sangatlah tidak memadai, koleksi buku puisiku pun tak sebanyak novel yang terpajang di rak. Walau tak banyak-banyak amat juga. Aku merelakan waktuku demi itu semua dalam beberapa bulan belakangan ini. Kini, perlahan aku merasakan antusiasmeku terhadapnya mulai berkurang, semakin hari. Aku pernah menyinggung soal ini tempo hari. Intinya, aku sudah mulai malas dan bosan. Mungkin memang karena aku orang yang mudah bosan. Tentu ada sebabnya, seiring waktu yang berjalan dengan berbagai masalah harian pada umumnya, ditambah tak satupun yang aku lakukan dalam kumpulan itu, tak ada ide-ide yang kami eksekusi. Tak ada program yang eksplisit yang tercetus maka antusiasme itu pun ikut-ikutan berubah, sekalipun kemarin kami mengadakan (lagi) pembacaan setelah beberapa bulan vakum, tetap saja bagiku, ia, perlahan-lahan mulai terlupakan, dan dengan sendirinya, hancur. Apakah aku memasuki fase di mana sebuah semangat akan satu hal perlahan menyurup-menelungkup? Semoga, tidak.

Menyelamiku Untuk Menyelamimu

Ia meminta didatangi. Dihangati. Dinyalakan. Dijaga. Ia membisikkan sesuatu yang mesti engkau jelajahi. Tanpa ragu. Menghanguskan ilusi biner warisan purba di mana polesan maskara mendominasi langkah kaki. Meraih hari kembali sebelum bekas luka-luka lama menyerupai ledakkan kembang api yang kubenci tiba menghampiri. Hampir membunuh. Mengelupasi rasa-rasa. Memekakan relung jiwa. Menenggelamkan mimpi hingga dalam. Kini, ia bangkit kembali serupa Kronos yang dibangkitkan sebongkah pedang api, ia hendak melampiaskan hak primordial dengan lekas, memanggil dan dipanggil agar: menuntaskan hasrat.

Rinai, Dimensi Hujan Jatuh Saat Mentari Tenggelam

Aku tidak meminta pada siapapun untuk menyukaiku, menyayangiku, mencintaiku. Aku adalah aku sebagaimana diriku. Meski aku tahuk, aku begitu lemah ketika kita saling memandang. Senyummu, tahik lalatmu, suaramu, menenangkan keapianku. Konon, orang yang lahir pada hari selasa memiliki sifat-sifat api secara lebih kental. Dan memang eksis dalam diriku bara itu. Dalam situasi kondisi tertentu, aku dapat dengan mudah terpancing emosi, sulit berpikir jernih, kekanak-kanakkan. Tetapi, hanya memandangmu, memerhatikan simpul senyum bertahik lalat di atas bibirmu cenderung menciptakan kedamaian dalam diriku, kusadari, aku memang punya kecenderungan mendadak tenang hanya dengan memandang perempuan yang kusukai. Entah sejak kapan perasaan seperti itu muncul dari dalam diriku. Hanya baru kusadari sekarang. Keluguanmu, sejujurnya seringkali membuatku tertawa, dan kusimpan hanya dalam malam. Saat hening mencapai telak. Menepikannya pada sunyi memakam dalam ruang yang tak terlalu besar ini. Ruang tempat aku bekerja, makan, dan terlelap. Kita memang sudah tahuk perihal kesunyian yang tercatat di dalam. Ada yang selalu jatuh dari langit sana, setiap senja, sebelum suara adzan menggema. Ada yang selalu menangkap matamu di daratan ini, dekat, erat seperti percik air menempel di tepi kaca jendela.

Senja Yang Menghadirkan Masa (II)

Persisnya aku lupa ketika berkenalan denganmu saat itu. Mungkin hanya spontan saja. Kita bertukar nomor hp begitu saja. Lalu, besoknya kita sama-sama memutuskan untuk melihat tempat-tempat di seputaran kota ini. Kota yang asing, pikirku. Tetapi keasingan ini agak berbeda. Membuatku merasa nyaman, malah. Memang darah priangan bergejolak kental di sini mungkin karenanya aku tak merasa benar-benar asing. Karena aku telah cukup akrab dengan situasi kota-kota priangan. Masih dalam lingkup tradisi yang sama di mana aku dilahirkan dan dibesarkan.

Engkau hanya mengetikan alamat lewat sms sebuah tempat di mana kita mengadakan pertemuan. Bertemu. Tentu saja agar kita mampu lebih mengenal satu sama lain, paling tidak tak hanya di ruang virtual. Kusanggupi tempat yang engkau sms-kan. Aku pun antusias. Lekas bergegas dari mess dan hanya bermodal angkot disertai uang Rp.50,000, aku cukup nekat saat itu. Bukan nekat sebetulnya, konyol lebih tepat. Kekonyolanku pun memuncak ketika, ternyata, engkau membawa serta teman-temanmu. Genk-mu. Hal yang tak pernah kupikir sebelumnya. Sialan! Sebagai lelaki yang ketat menjaga citra kelelakiannya di mana mentraktir perempuan adalah kewajiban yang sudah mirip sembahyang hal ini dapat jadi kabar buruk buat pencitraanku.

Otomatis dugaan tiba-tiba pun muncul mengalir, pasti genk-mu akan meminta traktir. Benar saja, ke Mall main Billyard. Astaga. Mengingat uangku hanya Rp,50,000, saja dipotong 2x ngangkot sisa Rp,44,000, huahaha. Kalian telah menghentikan napasku sepersekian detik.

Akhirnya, kita semuapun hanya berakhir di warung kopi. Dengan membuang urat gengsi-malu-menyedihkan, kusuruh teman-temanmu pulang duluan sesudah minum kopi di warung kopi itu. Runtuh sudah pencitraanku. Lebur.

Setelah mereka pergi akupun hanya berbincang dan berjalan denganmu, membagikan pengalaman hidup masing-masing, kemudian berhenti di tukang es buah sambil menghitung recehan dalam dompet dalam hati, menyisakannya agar aku dapat mengantarkanmu pulang selain mencairkan suasana memalukan seperti tadi, tentu saja. Setidaknya senja mega mendungpun pun menelusup ke dalam es yang kita cecapi. Rasanya itu Xanax artifisial buatku. Haha

Malam pelan-pelan menjalar. Kecanggungan antara kita sedikit memudar. Aku mengajakmu pulang karena mustahil rasanya mengajakmu untuk makan sate. Kita hentikan angkot. Turun darinya. Menghentikannya lagi. Lalu berakhir di sebuah lapangan hijau terbentang, sepertinya lapangan itu tempat nangkring macam-macam komunitas motor, aku melihat motor berjejeran di sana. Berbagai merk. Berbagai Bentuk.

Engkau memang tak ingin pulang malam itu, engkau ingin bertemu temanmu dulu di sana, di antara kawanan itu. Dan aku ingin cepat pulang ke mess, ingin melupakan hari itu lekas. Langit saat itu begitu cerah, aku menghentikan angkot disertai sebatang rokok terakhir, mengepulkan asapnya ke udara berupaya meraih kerlip bintang namun tak pernah sampai, seolah bintang-bintang di kejauhan sana memertontonkan tawa mencemooh. Rerumputan ikutan terbahak. Pohon-pohon tercekikik. Kota ini menertawakanku. Mereka menertawakanku. Engkau, mungkin juga menertawakanku.

Senja Yang Menghadirkan Masa (I)

Hampir 3 tahun lalu. Di kota ini, kota yang terkenal dengan sebutan Kota Hujan pernah kudiami. Tak lama memang, kurang dari setahun, kisaran delapan bulan saja. Dalam rangka ‘aktivisme’ sekaligus mencari tambahan uang agar bertahan di situ kala itu. Cukup kompleks ketika aku harus tinggal di Kota ini sementara sidang skripsi saat itu tinggal beberapa minggu lagi, di Kota lain pulak. Ah, aku sudah menutup cerita soal studiku itu.

Disebut kompleks karena ini berkaitan dengan hal-hal politik, tentara, bahkan klenik. Tentara? Hahaha. Klenik? Holy-Crap! Ya, memang saat itu aku menginap di sebuah mess kepunyaan salah satu Mayjen TNI-AU yang dalam rutinitasnya membaurkan hal-hal di luar nalar normatif secara kolektif. Praktek mitologi yang dipaksakan pada era posmodern seperti sekarang. Namun, semakin ke sini aku hanya menganggapnya sebagai bentuk kearifan lokal saja. Penanda identitas waktu dan massa dahulu kala. Warisan tradisi. Pengalaman yang lumayan berharga. Meski sebagian orang memanfaatkan hal ini untuk keuntungan pribadi. Aku benci pada bagian ini.

Kuakui memang di Kota ini juga aku banyak mendapat pelajaran penting soal hidup. Perspektif baru dalam memandang hidup terutama setelah membaca karya-karya Tan Malaka yang makin diperkuat lagi dengan mendengar dan menafsirkan Homicide. Kolektif hip-hop yang sudah menjadi kultus bagi sebagian orang. Semenjak saat itu, hidupku tak pernah sama lagi memang. Dan memang bagiku mereka begitu inspirasional! Bukankah sebaik-baiknya memberi adalah menginspirasi?

Kini, aku kembali lagi ke Kota ini. Kali ini dalam rangka hanya  pekerjaan. Aku telah resign dari pekerjaan lama. Pekerjaan yang sempat kubela sepenuh energi namun harus kurelakan pergi. Menyerah? Kalah? Munafik? Mungkin. Mungkin. Aku tak keberatan dikatakan demikian. Yang pasti aku gagal bertahan di sana, dan yang mengataiku tak akan bisa menghentikan kesusahan-kesusahanku saat menjalani hari, memberi senangpun mustahil rasanya. Maka yang kupilih saat ini adalah adaptasi agar esok hari lebih baik dari hari ini. Sesederhana itu.

Kota ini, meski cumak ditinggalkan nyaris 3 tahun olehku ternyata sudah banyak perubahan. Salah satu kelebihanku dalam merasakan perubahan adalah hanya dengan menghirup udaranya. Penciumanku cukup peka dalam mendeteksi oksigen yang tercecer di udara. Mungkin ini suatu bakat alam. Aku bisa merasai udara di sekitar sini bahwa di sini makin pengap. Tak sama. Tak akan pernah sama lagi sepersis aku di sini kala itu. Meskipun tak sepengap Jakarta atau Bekasi.

Bukankah wajar jika kita menempatkan perspektif bahwa kota ini akan bertransformasi menjadi Kota Wisata, persisnya Industri Wisata. Cukup masuk akal karena Kota ini cumak terpaut puluhan mil dari Ibu Kota di mana pusat kapital berputar. Orang akan membutuhkan udara segar ketika akhir pekan tiba, Kota ini pun menjadi pilihan di antara sedikit pilihan, selain Bandung tentu saja. Yang biasanya akan sesak sekali bila akhir pekan datang. Aku tak tahuk secara pasti sejak kapan kota Bandung menjadi tempat perayaan kecil-kecilan massa pekerja. Namun dengan begitu makin menjamur pulaklah lumpen proletariat di sana. Seperti di Kota ini. Persis.

Kupikir hanya satu yang tak berubah di sini yaitu, senjanya. Aku selalu suka ketika senja melintas di Kota ini. Entahlah, karena jika di kota-kota lain sensasinya juga lain. Semacam hadir sublimitas yang menyentuh bagian diriku.

Voice of Voiceless

Babylon was built on fire and the bones of useless machines, it hurt to breathe you fell away from me ~Babylon Was Built On Firestars, Thee Silver Mount Zion Memorial Orchestra 

Aku merindukan sebuah rumah. Tempat, di mana aku bisa menumpahkan keluh kesah, gelisah, resah. Aku merindukan sebuah rumah. Tempat, di mana aku bisa bercerita bebas gembira, ceria, tertawa. Aku merindukan sebuah rumah. Tempat, di mana jiwaku mampu kubenamkan dan terbitkan sesuka hati.

Aku merindukan rumah. Masa, di mana aku bisa memberitahukan apa yang aku inginkan kepada Ayah dan Ibuku. Segala yang aku mau. Sama seperti saat aku kecil. Aku merindukan di mana aku bisa bermain bola di halaman rumahku, bermain tenis meja, mendirikan tenda bersama teman-temanku. Tertawa. Hanya Tertawa.

Aku sangat merindukan sebuah rumah. Tempat, di mana aku dan adikku suka berebut mainan. Aku membuatnya kesal, dia membuatku kesal. Kita menjadi menyebalkan! Rumah. Tempat, di mana aku bisa membawa teman-temanku bermain di rumahku, membawa pacar ke rumahku dengan perasaan bebas.

Aku merindukan kolam ikan yang berada di depan rumahku yang terdapat pos ronda di sebelahnya. Dan aku suka bermain gitar sekaligus bernyanyi di sana. Aku rindu membuat puisi abal-abal di kamar rumahku  dengan suasana sepi, damai, dan menenangkan. Di rumahku, aku dapat memandang purnama di bawah pohon mangga dengan telanjang. Sesekali makhluk astral tampak dengan lancang menggoda adik dan teman-temanku. Meski aku agak ragu dengan kisah itu.

Di rumahku, pasar yang terbakar pun bisa terlihat jelas. Api berkobar disertai asap pekat memangsa udara sebagai tanda bahwa zat kimia telah berubah menjadi monster tak berbentuk. Serupa lukisan abstrak yang bertinta gelap dan abu.

Suatu kali saat aku kecil aku pernah membakar gabus di belakang rumahku yang memotivasi kebakaran jika para tetanggaku tak sigap siaga membanjiri api dengan air. Padahal saat itu aku hanya ingin bermain. Pikiranku begitu bebas, tak memikirkan konsekuensi. Lepas begitu saja.

Warna dinding keramik yang hijau. Pagar hijau. Barisan pepohonan yang juga hijau di belakang. Atap yang tidak jarang digerogoti tikus. Suara-suara langkah kaki yang aneh jika malam menangkap. Aku merindukannya. Saat hujan datang, aku selalu merasa nyaman berada di kamar rumahku. Terlebih jika engkau juga hadir bersamaku.

Saat Membeli

Rak bukuku makin penuh. Aku tidak tauk apakah ini hal yang baik atau malah buruk bagi diriku. Ada dua hal yang berkaitan dengannya.

Pertama, dengan semakin bertambahnya buku di rak itu berarti rak bukuku akan penuh sebab masih banyak space sehingga berbagai buku dapat berjejeran dengan gagah yang siap mengombang-ambing pikiran laksana bajak laut Viking di atas perahu yang diombang-ambing samudera saat menuju kerajaan Northingdam untuk menjarah emas. Hohoh… Paling tidak tak sia-sia rak itu berpanjang 1 meter 40 cm.

Kedua, dan ini memang masalahnya, banyak buku yang belum aku baca sementara di lain waktu aku malah membeli buku lagi, di kesempatan lain membelinya lagi, lagi, dan lagi. Parah. Aku memang belum sampai ke taraf hoarder book, tapi sepertinya hoarder book bermula dari situ. Haha. Bedanya dengan mereka, aku sadar betul buku-buku yang kubeli berjenis apa saja. Tidak asal beli.

h

Suatu kali kawanku pernah berkata jika ia begitu boros karena terus-terusan membeli kaos (merch band) dengan dalih supporting artist yang menasbihkan diri di jalur DIY. Kupikir itu memang hal yang tepat, pada awalnya. Sebagaimana pembenaran awalnya memang terdengar heroik seolah dengan begitu ia menyelamatkan kelangsungan hidup dari band itu. Di ruang lain itu bisa saja benar. Karena mekanisme DIY yang kuketahui adalah saling mendukung satu dengan yang lain. Namun pada kenyataan lain ia juga suka membeli merchs/kaos luar yang secara ekonomi band itu telah mapan. Bisakah pembenaran itu digunakan dalam hal ini? Aku ragu malah pembenarannya kini terpatahkan.

Awalnya (juga), aku pun menggunakan pembenaran macam-macam kenapa aku suka sekali membeli buku yang padahal banyak buku di kali lain kubeli dan belum sempat menuntaskannya. Semacam hutang yang belum kubayar. Mungkin inikah hasrat konsumtif yang menonjol pada diri masing-masing kami? Manusia modern pada umumnya. Sangat mungkin. Karena keadaan memungkinkannya. Tetapi maksudku, kenapa aku dan kawanku harus sibuk merangkai pembenaran terhadap apa yang disukai toh kalau suka ya suka saja. Cukup. Tak perlu rasanya nyari pembenaran ke sana ke mari yang lama-lama malah bikin mual sendiri.

Bila Tak Bisa Diperbaiki Biarkan Menjadi Danur

Sebuah komunitas, atau mungkin lebih tepatnya tempat orang-orang yang butuh berteman tapi ia tak tahuk ke mana harus pergi memang tak akan bertahan lama dan tak layak juga dipertahankan. Kehadiran di dunia nyata tak lebih dari tuntutan moral massa virtual agar eksistensi dan citranya tetap terjaga. Tak pernah sekalipun aku mendengar dari mulut mereka akan dibawa ke mana eksistensi komunitas itu?

Mungkin memang tak ada yang diperjuangkan. Dan berjuang untuk apa dan siapa memangnya? Namun hal yang jelas terlihat, makna eksis bagi mereka ialah semakin sering namanya bertebaran di lini kala virtual semakin melonjaklah nilai eksistensialnya. Itulah makna eksistensi bagi mereka. Atau malah makna eksistensi hari ini sebagaimana istilah “Punk Hari Ini”. Keduanya punya benang merah yang sama. Sama-sama menggelikan. Di mana keduanya berlomba mengalienasi dirinya sendiri dengan berharap nilai tertentu dari sebuah gerakan yang palsu.

Hah, gerakan? Kupikir kata itu terlalu konyol ditempatkan di sini, kumpulan biasa, mungkin lebih tepat. Barangkali saking hidup terlampau sepi untuk diisi dan tak tahuk ke mana harus pergi berkumpulpun menjadi pilihan karena manusia pada dasarnya ingin saling mengisi dan diisi. Yang menjadi masalah adalah disorientasi pada kegiatan (hura-hura pun tidak! Parah. Haha) Juga miskinnya imaji tentang kenapa sebuah kolektif mesti dibentuk?

Aku tidak anti-media mengingat ini abad media mana mungkin aku menolak keadaan itu hanya saja bukankah sosial media akan tampak sangat berguna apabila digunakan secara tepat guna? Ada keberimbangan antusiasme antara realitas dan virtual. Tapi yang kutemui malah sebaliknya. Hanyalah tontonan. Tontonan yang buruk.

Belum Juga Usai: Kemerduanmu

Engkau membaca puisi disertai kelincahan gerak tubuhmu yang lentur dan sedikit lebar. Ke kiri dan ke kanan, maju juga mundur. Aku tak henti-hentinya menatapmu, memerhatikan setiap gerakmu. Backsound menambah nuansa panggung makin sublim.

Engkau membacakan puisi Rendra, hanya aku lupa dengan judulnya. Bukan Sebatang Lisong, bukan pula Pesan Pencopet Pada Pacarnya karena aku hapal betul keduanya. Mataku tertuju padamu sepenuhnya. Enerjik, pikirku. Penampilanmu mengalihkan puisi yang engkau baca saat itu. Nampaknya, engkau terbiasa melakukannya. Engkau sudah terlatih dengan baik. Aku suka. Sangat suka.

Suaramu begitu merdu, tidak terlalu keras memang, engkau meninggi-rendahkan bait-bait yang kiranya pas untuk ditekan ke atas atau pun agak rendah. Ditambah dengan ekspresionis tubuhmu yang lunglai. Seperti kupu-kupu yang baru menetas dari kepompong. Aku pun bergidik dibuatnya.

Setelah penampilanmu aku meminta temanku mengenalkanmu padaku, sebelumnya engkau sudah saling kenal memang. Kemudian engkau dan temanku menghampiriku, memperkenalkan namamu, begitupun juga aku.

Sesuai dugaanku, engkau sudah terbiasa melakukannya. Membaca puisi dengan penuh penghayatan, menjiwainya, menjadikannya menyatu denganmu. Engkau melakukannya sejak SMA, katamu. Merdu, pelan, dengan senyuman yang lucu.

Puisi pun selesai hanya sampai di situ, puisi itu tuntas hingga di sana. Mungkin. Mungkin?