Buku

Neo Imperialisme AS

olahneo imperium

 

Penulis: Noam Chomsky
Penerbit: Resist Book
Yogyakarta ISBN: 978-979-109-768-0.
Jenis Cover: Soft Cover
Harga: Bisa Ditanya di https://standbuku.wordpress.com/katalog/

Blurb:
Tidak bisa dipungkiri bahwa Amerika Serikat adalah negeri super power yang menjadi pemimpin dari tata dunia saat ini. Ia menjadi kiblat dalam kemajuan dan kemodernan. Namun Chomsky mencoba membongkar dan mengubah mitos AS, baginya AS tidak lebih dari negara Imperialis yang brutal dan biadab. Kemajuan AS dibangun di atas penindasan terhadap penduduk aslinya, terhadap para buruh dan juga penjajahan yang dilakukan di negara dunia ketiga. Media, lembaga pendidikan menjadi alat untuk memanipulasi kemodernan AS dan pembodohan terhadap bangsanya sendiri.

***

Tak banyak buku yang dibaca pada tahun 2015, seperti biasa berlindung dibalik argumentum ad absurdum yaitu, bergelut dengan ‘kesibukan’ yang sesungguhnya menyerupai Sisyphus yang mendorong-dorong bebatuan ke atas bukit lantas menurunkannya kembali kemudian naik lagi, turun lagi dan begitu secara konstan, atau dalam satu kata: kerja. Untuk memenuhi dahaga konsumtivisme, jika enggan dikatakan rutinitas banal yang suistainable pada era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Begitu-begitu saja dari dulu. Ya, begitu-begitu saja. Tapi bukan, bukan itu alasan terbesarnya melainkan dalam satu kata juga: malas. Tahun ini mungkin semacam mengadakan pembalasan atas apa yang terjadi pada tahun lalu. Tahun 2016 ini, memulai dengan bacaan dari seorang yang cukup berpengaruh dalam pemikiran radikal abad ini, yakni Noam Chomsky dengan Neo Imperialisme Amerika Serikat yang kini sedang engkau baca pandangan dangkalnya mengenai buku ini.

Siapa yang bisa menyangkal bahwa Amerika bukan negeri mega power. Betapa tidak? Dengan satu klik tombol dan sebuah instruksi saja, ia mampu menghancurkan sebuah teritori. Lebur dan hancur. Kita telah menyaksikan bagaimana Iraq dihantam terjangan dhrone. Ia seakan menjadi poros utama modernitas bahkan melampauinya dalam aspek apapun dan menjadi mekah bagi mereka kaum pemuja ‘kemajuan’ yang dalam prakteknya haruslah mengadakan penghancuran yang satu dan juga yang lainnya, eksploitatif dalam segala di balik adagium majunya. Mengucurkan derita di mana-mana. Seakan negeri-negeri lain tak mampu membendung hasrat berkuasa Sang Amerika. Lebih jauh lagi melalui pemaparan buku ini, ia menancapkan apa yang sudah terjadi pada masa Pasca Kolonial dalam bentuk sempurnanya yang disebut Imperialisme, dan pada saat yang sama membuat kita percaya bahwa manusia adalah makhluk paling buas dari yang terbuas manapun. Secara pribadi juga aku mengamini bahwa kita memang makhluk paling buas.

Bukankah Amerika katanya penganjur demokrasi paling wahid, menomorsatukan HAM dengan mengizinkan legalitas pernikahan sesama jenis, mengadakan keliling galaksi yang mengutus NASA untuk meneliti Planet Mars atas nama ilmu pengetahuan dan teknologi yang kelak-konon-katanya akan bermanfaat bagi manusia-manusia bumi (dan masih layakkah disebut manusia apabila di Mars telah ditemukan makhluk sejenis kita?), maupun Sillicon Valley yang menggemparkan dunia dengan start up-start up yang berdiri di sana dan menghasilkan miliaran dollar, dan masih banyak lagi mitos tentang Amerika lainnya. Ya memang aku katakan, mitos. Engkau tak salah baca.

Mengapa bisa?

Mungkin, sebagian dari kita belum lupa dengan pemberontakan kaum Sandinista di Nikaragua pada 1933 karena kediktatoran maha akut Somozo sang pemimpin, ataupun warga Kuba, El Salvador, Havana, Paraguay, Kosta Rika, Haiti, Iraq, Afghanistan dan bahkan belakangan ini Palestina. Meskipun yang kita pandang yang melayangkan rudal dan menghujani anak-anak Palestina dengan white phosphorus itu seolah instruksi dari elit-elit Israel pada bala tentaranya, namun kita tahu siapa  Negara di belakang yang mendesain hal demikian di negara-negara yang baru kusebutkan di atas. Ah, iya bukankah hal ini juga terjadi di Papua hari ini? Dan bukankah yang demikian itu adalah praktek-praktek Imperialisme yang di mana perebutan-perebutan atas kepentingan, atau tepatnya kekuasaan dilakukan dengan cara apapun termasuk mengadakan genosida. Demi demokrasi Amerika.

Jhon Dewey, seorang pemikir Amerika yang pragmatis, yang Chomsky punya hutang banyak terhadapnya bahwa suatu waktu ia pernah berkata, salah satu tujuan pendidikan adalah untuk menghayati nilai-nilai kehidupan dan hidup itu sendiri bukan untuk menguasai nilai ataupun mereduksinya untuk menguasai yang lain yang berakhir pada keinginan untuk saling menjatuhkan satu dan lainnya, yang berarti menjatuhkan hidup dan kehidupan itu sendiri. Lalu, bagaimana Imperialisme bisa dikukuhkan di Negeri yang banyak melahirkan pemikir-pemikir dunia itu? Dan mengapa tidak ada perlawanan dan pertentangan dari masyarakatnya sendiri? Apa strategi yang dipakai oleh negara super power tersebut untuk menghegemoni warganya? Buku ini menganalisis bagaimana ideologi imperialisme ditanamkan, dan untuk memahami apa prasyarat-prasyarat yang mesti diciptakan oleh setiap kekuasaan mencapai tujuan-tujuan buasnya. Dan ini mungkin salah satu buku yang tepat untuk dibaca awal tahun ini!

Advertisements

Saat Membeli

Rak bukuku makin penuh. Aku tidak tauk apakah ini hal yang baik atau malah buruk bagi diriku. Ada dua hal yang berkaitan dengannya.

Pertama, dengan semakin bertambahnya buku di rak itu berarti rak bukuku akan penuh sebab masih banyak space sehingga berbagai buku dapat berjejeran dengan gagah yang siap mengombang-ambing pikiran laksana bajak laut Viking di atas perahu yang diombang-ambing samudera saat menuju kerajaan Northingdam untuk menjarah emas. Hohoh… Paling tidak tak sia-sia rak itu berpanjang 1 meter 40 cm.

Kedua, dan ini memang masalahnya, banyak buku yang belum aku baca sementara di lain waktu aku malah membeli buku lagi, di kesempatan lain membelinya lagi, lagi, dan lagi. Parah. Aku memang belum sampai ke taraf hoarder book, tapi sepertinya hoarder book bermula dari situ. Haha. Bedanya dengan mereka, aku sadar betul buku-buku yang kubeli berjenis apa saja. Tidak asal beli.

h

Suatu kali kawanku pernah berkata jika ia begitu boros karena terus-terusan membeli kaos (merch band) dengan dalih supporting artist yang menasbihkan diri di jalur DIY. Kupikir itu memang hal yang tepat, pada awalnya. Sebagaimana pembenaran awalnya memang terdengar heroik seolah dengan begitu ia menyelamatkan kelangsungan hidup dari band itu. Di ruang lain itu bisa saja benar. Karena mekanisme DIY yang kuketahui adalah saling mendukung satu dengan yang lain. Namun pada kenyataan lain ia juga suka membeli merchs/kaos luar yang secara ekonomi band itu telah mapan. Bisakah pembenaran itu digunakan dalam hal ini? Aku ragu malah pembenarannya kini terpatahkan.

Awalnya (juga), aku pun menggunakan pembenaran macam-macam kenapa aku suka sekali membeli buku yang padahal banyak buku di kali lain kubeli dan belum sempat menuntaskannya. Semacam hutang yang belum kubayar. Mungkin inikah hasrat konsumtif yang menonjol pada diri masing-masing kami? Manusia modern pada umumnya. Sangat mungkin. Karena keadaan memungkinkannya. Tetapi maksudku, kenapa aku dan kawanku harus sibuk merangkai pembenaran terhadap apa yang disukai toh kalau suka ya suka saja. Cukup. Tak perlu rasanya nyari pembenaran ke sana ke mari yang lama-lama malah bikin mual sendiri.

Tentang Kalilah Wa Dimnah

Puisi hanya akan terasa indah karena adanya olahan bahasa sebelumnya yang kemudian dikomunikasikan. Seperti halnya puisi Pablo Neruda yang berjudul, Tonight I can Write yang sejalan dengan puisi Saut Situmorang, Hujan dan Memori. Bagi saya kedua puisi tersebut mampu menghadirkan nuansa yang sublim akan nostalgia, ke-khusyuk-an terhadap masa lalu yang darinya kita mampu merasai estetika kebahasaannya, barangkali inilah salah satu cara mencipta momentum melalui olahan kata. Melalui bahasa, kreativitas seseorang akan semakin bertambah setiap harinya yang berarti ada aktivitas imajinasi di dalamnya. Rupanya berangkat dari sanalah Einstein menemukan rumus MC2 (Em Si Kuadrat) yang dipertegas oleh perkataannya sendiri bahwa imajinasi lebih penting dari ilmu pengetahuan. Meski begitu bahasa tidak akan lepas dari logika sedangkan logika adalah alat untuk mempermudah bahasa itu sendiri (Ecce Homo, F. Nietzsche).

Sejak zaman Sebelum Masehi (SM) sastra sudah menjadi media yang penting bagi perkembangan suatu masyarakat. Peradaban yang maju didorong pula oleh budaya literasinya, mustahil suatu kemajuan akan dicapai tanpa ketatnya budaya literasi di dalamnya, dalam hal ini berarti bahasa sebagai induk dari sebuah kemajuan peradaban. Tan Malaka tidak akan menjadi Pejuang dan Inspirasi Besar apabila ia alpa dengan bahasa mengingat ia telah menguasai lebih dari tujuh bahasa dengan baik dan juga menelurkan 15 buku itu. Pramoedya Ananta Toer tidak akan disebut sastrawan besar apabila ia tak mengakrabi diri dengan berbagai literasi dan melahirkan karya karenanya. Sebagaimana filsuf abad ke-16 Francis Bacon yang menulis esei Believe Of The Fable karena terinspirasi dari Dongeng Kalilah Wa Dimnah terjemahan Ibnu al-Muqoffa dari bahasa Persia ke Inggris. Ibnu al-Muqoffa sendiri hidup di era Khilafah Abasiyah Ia dikenal sebagai seorang ahli penerjemah bahasa-bahasa asing di zamannya. Pengaruh bahasa yang ditampilkan Ibnu al-Muqoffa juga tercermin dalam karya-karya setelahnya, seperti halnya pada karya Kahlil Gibran, Al-Nabi dan bahkan pada Freidrich Nietzsche, Sabda Zarathustra.

Kalilah Wa Dimnah merupakan Dongeng (ada juga yang menyebutnya Hikayat) karya filsuf India yakni Baidaba atau juga dikenal Bedapa. Ibnu al-Muqoffa menerjemahkan karya tersebut tanpa mengubah inti arti karya aslinya. Bedapa menyisipkan cerita berbingkai di dalam karya tersebut. Kalilah Wa Dimnah dibuat atas permintaan raja Debsyalem, raja India pada abad ke-3 SM yang sebelumnya dikenal bengis, kejam, tak kenal belas kasih terhadap rakyat yang dianggapnya bersalah. Hingga pada suatu hari Bedapa yang juga penganut Brahmanisme itu memberanikan diri untuk menasehati sang raja karena telah menzholimi rakyat. Seorang Brahmanisme pada zaman itu dikenal juga sebagai ahli hikmah atau juga seorang ulama. Namun yang menarik dari Bedapa adalah Ia menasehati raja dengan caranya yang “nyastra”. Bedapa menciptakan tokoh-tokoh binatang dalam karyanya namun tokoh-tokoh itu seperti mewakili kehidupan manusia itu sendiri. Ada intrik, politik, cinta, persahabatan, pembunuhan, kerakusan, dll. Inilah keunikan Bedapa dalam mengangankan tokoh-tokoh ciptaannya sehingga bagi kalangan remaja, bahkan anak-anak, buku ini tidak bertendensi terlampau serius malah terasa ringan tanpa harus melupakan hikmah yang terkandung di balik setiap cerita.

Tercatat bahwa raja Debsyalem tidak lantas menerima begitu saja nasehat-nasehat Bedapa. Pada awalnya, raja berang atas apa yang telah disampaikan Bedapa kepadanya bahwa pokok dari yang dikatakan Bedapa adalah kesewenang-wenangan dirinya terhadap rakyat bahkan raja menyiksa Bedapa dalam penjara dan akan dihukum mati karena dianggap lancang atas perkataannya tetapi raja berbalik pikir mengingat Bedapa adalah ulama besar di zamannya, pada akhirnya ia menyadari bahwa apa yang telah dikatakan Bedapa itu benar adanya. Raja pun membebaskan Bedapa dari hukuman. Semenjak itu raja mengangkat Bedapa sebagai seorang penasehat karena tertarik dengan cara “nyastranya”. Hingga kemudian raja meminta untuk mengkitabkan kisah-kisah yang pernah disampaikan padanya. Bedapa pun menulis dan menyusun kisah itu selama setahun yang dikemas berbingkai. Kisah-kisah itu terdiri dari 15 kisah, (1) Kera dan Kura-Kura, (2) Ahli Ibadah dan Musang, (3) Ahli Ibadah dan Tamunya, (4) Pelancong, Tukang Emas, Kera, Ular, dan Macan Tutul, (5) Merpati, Musang, dan Bangau, (6) Singa dan Sapi, (7) Penyelidikan dalam Kasus Dimnah, Singa Betina, Pemanah Ulung dan Anjing Hutan, (8) Elada, Belada, dan Erakhta, (9) Putra Raja dan Para Sahabat-sahabatnya, (10) Burung Hantu dan Burung Gagak, (11) Tikus dan Kucing, (12) Raja Baridun dan Burung Fanzah, (13) Ratu Merpati Mutawwaqa, (14) Tikus dan Gagak, (15) Singa dan Serigala. Pada mulanya, di India, kumpulan kisah ini dikenal dengan Panchatantra (Bahasa Sansakerta). Saya pun jadi curiga jangan-jangan kisah epos besar Mahabharata adalah turunan dari Panchatantra yang kini dikenal dengan Kalilah Wa Dimnah ini.

Di antara ke-lima belas dongeng di atas yang paling saya sukai adalah Singa dan Sapi. Menceritakan tentang dua orang sahabat yang saling menyayangi dan mengasihi yakni raja Singa dan sapi Syatrabil yang jalinannya hendak dihancurkan oleh keledai Dimnah. Kedekatan sapi Syatrabil dan raja Singa membuat Dimnah iri dan dengki kepada Syatrabil, karena kedudukkan Syatrabil dalam pemerintahan Singa melebihi kedudukkan Dimnah. Dongeng Singa dan Sapi memang bermuatan politis namun ringan untuk dicerna. Dimnah adalah seorang cerdik lagi licik yang juga gigih dalam melaksanakan niatannya Ia melakukan segala cara untuk menghasut Singa supaya Syatrabil mendapat hukuman mati. Singa pun berhasil diperdaya Dimnah. Lalu, sapi Syatrabil pun akhirnya menemui ajal di tangan Singa. Bagi saya di sinilah letak kecerdasan “bersastra” Bedapa karena tokoh-tokoh yang diciptakan dalam Kalilah Wa Dimnah adalah nama-nama binatang yang berarti ada kelucuan khas saat membacanya. Tak dapat dipungkiri dalam dunia manusia sendiri watak permasalahan seperti itu mudah ditemui. Fitnah, tipu, culas, dengki, arogansi, dendam, hasud, provokasi, janji palsu dan hal-hal sejenis adalah bagian dari kebinatangan manusia-manusia juga, kalau bukan, homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi manusia lainnya).

Dongeng  mempunyai tempat tersendiri bagi para pembacanya, sebagaimana genre buku-buku lain. Dongeng juga merupakan bentuk sastra yang memiliki peran besar dalam pembentukan karakter manusia, khususnya anak-anak. Berbagai karakter dalam dongeng akan memengaruhi pikiran anak-anak untuk meneladani karakter tokoh yang terdapat dalam dongeng. Dengan dongeng seseorang tergolong lebih mudah dan komunikatif menyampaikan gagasan dan buah pikirannya. Barangkali Bedapa berkeinginan agar karyanya dapat dijangkau oleh anak-anak. Sehingga tokoh-tokoh binatang pun mejadi pilihan dalam Kalilah Wa Dimnah. Sebagaimana dongeng ia memantik imaji cerita dan bahasa yang diakhiri dengan lautan hikmah. Dan Kalilah Wa Dimnah adalah buah pikiran seorang filsuf India yang hidup di zaman Sebelum Masehi yang karya-karyanya patut direnungkan.

#5BukuDalamHidupku Penjara ke Penjara

Ini adalah hari terakhir untuk proyek #5BukuDalamHidupku. Pukul 07.00 WIB saya harus bersiap pergi ke Ciater selama 2 hari terkait dengan pekerjaan, sekaligus tentu saja bersenang-senang. Itu artinya saya tidak mau “diganggu” dengan yang lain-lain. Lagi pula jauh-jauh hari saya telah menertibkan diri untuk tidak membuka internet jika sedang di luar kontrakan, kecuali kepepet. Haha. Karena saya ingin menikmati benar aktivitas di luaran. Saya memang bukan orang yang pintar mengatur “kenikmatan” jika sudah dihadapkan dengan internet. Mengingat saya punya pengalaman tak menyenangkan karenanya.

Akan tetapi kini saya punya pendapat lain akan hal itu, ada waktu di mana kita meng-intens-kan diri dengan realitas dan ada waktu di mana kita menceburkan diri dengan mayasitas. Meskipun di hari ini sebagian orang beranggapan jika no internet i die, sejauh ini bagi saya idiom itu kurang berlaku. Ah, bukankah dalam hidup ini kita harus cermat dalam memilih kepentingan meskipun kadang-kadang yang tidak penting itu menjadi penting. Bukanlah ide buruk jika semakin saya percepat proyekan ini, semakin ringan pula saya melangkahkan kaki ke Ciater, setidaknya bisa tidur nyenyak dalam perjalanan. Motivasi saya sederhana saja untuk ikutan proyekan ini, menulis dengan tertib selama lima hari berturut-turut.

Sebetulnya hingga catatan ini ditulis saya masih bingung untuk memilih buku mana lagi yang akan dijadikan penutup. Saya tidak pernah merencanakan buku apa saja yang akan diikutkan untuk proyek ini. Saat menulispun saya tidak pernah berpikir untuk menulis “harus” bagaimana dan seperti apa. Ketika menulis yang saya butuhkan hanyalah menulis. Begitulah. Dan dari yang menarik terseliplah yang paling menarik, bukankah begitu watak manusia? Selalu meminta yang lebih. Tak terelakkan, yang paling menarik dari proyekan ini tentu saja, temanya: buku dalam hidupku, bukan hidupmu. Jadi, saya hanya mengikuti naluri saja ketika mengamati rak yang menggantung di dalam kamar. Meraba-raba buku, mengambil buku dari rak, memasukannya kembali karena dirasa kurang cocok, hingga akhirnya pilihanpun tertuju pada buku Dari Penjara ke Penjara Jilid 1, Tan Malaka. Artinya juga proyekan ini dibuka dan ditutup oleh Tan Malaka. Harus saya akui memang jika saya Tan Malaka fansboy.

penjara

Sekilas Dari Penjara ke Penjara; Tan mulai dekat dengan kehidupan politik sejak 1921 saat ia selesai menempuh pendidikannya di Harlem Belanda. Kedekatannya dengan Sarekat Islam dan Serikat Buruh Kereta Api (VSTP) membuatnya percaya akan pentingnya persatuan Islam dan Komunis untuk menghalau politik devide et impera dari Kolonial Belanda. Sejak saat itu, ia terlibat aktif dalam aksi-aksi mogok ataupun perlawanan buruh di beberapa tempat. Sehingga ia sempat dibuang ke Kupang. Ia pun sempat meloloskan diri ke Filipina dan Singapura.

Perjuangannya tak mentok di perjuangan fisik semata. Hal yang luar biasa darinya adalah ia pandai menulis. Semasa hidupnya ia telah banyak menuliskan pemikiran-pemikirannya. Dari Penjara ke Penjara salah satunya. Buku ini merupakan manifestasi akan cita-cita tentang sebuah republik yang merdeka. Pemikiran kritisnya dalam karya tulis membuat pihak kolonialisme termasuk Belanda, Amerika, Inggris dan Jepang ketakutan. Dengan rencana-rencana buruk para kolonialis membuat ruang gerak Tan semakin sempit. Maka tak heran jika hari-hari Tan diliputi pedih peri. Dikejar, diburu, dijebloskan ke berbagai penjara negara ke negara dan yang paling memilukan dijebloskan di penjara tanah airnya sendiri.

Saya tidak yakin jika saya berada pada posisi Tan Malaka di tengah gejolak perjuangan kemerdekaan saat itu, masih sempat-sempatnya untuk menulis, padahal era perang seperti itu rasanya ngapain juga buat nulis. Tapi bukan Tan namanya jika ia berakal pendek, dengan ia menuliskan pemikiran-pemikirannya ketika itu, pada masa sekarang khalayak dapat mempelajari apa yang terjadi di masa lampau melalui tulisan-tulisannya. Karena sesungguhnya masa lalu adalah bagian dari masa kini yang akan membentuk masa depan.

Kita beruntung pernah diingatkan sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer, bahwa, orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” Tan Malaka tak pernah hilang dari masyarakat dan sejarah karena ia telah menulis, meski pada orde baru karya-karyanya sempat diberangus sebab intervensi politik. Namun, seperti yang pernah Tan ucapkan, “biarlah sejarah diri saya, saya pasrahkan pada waktu.” Kini waktupun sudah menjawabnya, karyanya-karyanya banyak bermunculan dan dicetak ulang yang mudah diakses publik. Sejalan dengan itu jauh sebelum tahun 2013 datang yang sebentar lagi akan habis, tepatnya, 1932, Tan pernah berkata dihadapan polisi Inggris, Murphy, di Hongkong, tanpa gentar ia berkata: “ingatlah! Bahwa dari dalam kubur suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi!”

#5BukuDalamHidupku Si Kancil, Bergema Dari Era ke Era

Legenda si Kancil tak akan pernah lekang hingga berabad-abad. Mungkin ada benarnya. Dongeng tentang Kancil ini selalu diminati oleh anak-anak Indonesia. Nenek-kakek, bapak-ibu kita hampir selalu menghadirkan dongeng Si Kancil sebagai pengantar tidur paling sering dibaca dan diperdengarkan, jika bukan, dongeng terfavorit menjelang tidur. Jika dalam sebuah film terdapat Original Soundtrack, maka sebelum seorang bocah kecil tidurpun hadirlah Original Bedtime Story. Hehe. Meskipun bagi sebagian orang dongeng ini masih perlu ditinjau ulang jika dipersembahkan bagi anak-anak Indonesia berusia antara 6-13 tahun. Konon mengandung unsur licik pada karakter Kancil.

Tak dapat dipungkiri, dengan dongeng seseorang tergolong lebih mudah dan komunikatif menyampaikan gagasan dan buah pikirannya. Begitu juga yang sering dilakukan oleh bapak ketika menjelang tidur sewaktu saya berusia antara 7-10 tahunan, hampir selalu dilulabi dengan dongeng Si Kancil yang beda-beda versi. Bisa saja beliau memakai versinya sendiri. Sehingga ini membuat saya penasaran ingin membaca dongeng Si Kancil. Adapun beberapa contoh dongeng tentang Si Kancil yang sering dibacakan untuk anak-anak SD seperti Si Kancil Jahil yang isinya tentang Kancil yang menjahili beruang yang bodoh dan pemalas, ada juga Kancil Menipu Anjing, ataupun Kancil Menipu Buaya. Namun, saya rasa dongeng Si Kancil yang paling populer dikalangan anak-anak Indonesia ketika itu atau malah hingga kini ialah Kancil Mencuri Timun.

Diceritakan jika Si Kancil mencuri mentimun di kebun punya Pak Tani yang subur. Sebagaimana pencuri ia tidak akan ketahuan oleh yang merasa dicuri. Awalnya, Pak Tani merasa heran kenapa mentimunnya makin hari makin berkurang. Dia pikir ada hama atau binatang liar yang memakannya. Ia pun geram dan ingin tahu siapa pelakunya, dibuatlah orang-orangan sawah di kebunnya yang dirancang khusus untung menjebak pelaku pemakan mentimun tanpa seizinnya itu. Si Kancil berjalan menuju orang-orangan sawah itu dengan niatan minta maaf karena memakan mentimunnya. Orang-orangan sawah itu bekerja dengan baik mengelabui Si Kancil. Dikiranya orang-orangan sawah itu Pak Tani oleh Si Kancil.

Aha! Orang-orangan sawah itu berhasil menangkap pencuri pemakan buah mentimun. Ini berarti strategi Pak Tani berhasil. “Ternyata kau, kancil!,” pungkasnya. Betapa senangnya ia mengetahui jika Si Kancil yang dikenal cerdik dengan mudahnya tertipu oleh orang-orangan sawah. Si Kancilpun dibawa pulang dengan cara dimasukan ke dalam karung oleh Pak Tani hendak disate. Setelah sampai rumah Pak Tani menjebloskan Kancil ke dalam kurungan semacam kurungan ayam yang terbikin dari pipihan bambu. Pak Tani berniat untuk memotongnya esok pagi saja.

Pada suatu malam Si Kancil melihat seekor Anjing lewat di depan kurungannya. Bagi Kancil ini kesempatan emas untuk lepas dari kurungan yang menyebalkan ini! Lalu, Kancil bercerita pada Anjing jika esok pagi ia akan dibawa jalan-jalan oleh Pak Tani dan keluarganya. Anjing merasa tertarik. Ia percaya begitu saja dengan cerita Kancil yang kedengarannya akan membawa kebahagiaan baginya. Anjing, tanpa pikir panjang menyegerakan agar Kancil bertukar tempat dengannya. Anjing di dalam, Kancil keluar. Meski begitu anjing merasa gembira karena besok pagi ia akan dibawa jalan-jalan oleh Pak Tani sekeluarga. Keesokan paginya ketika Pak Tani hendak memotong Si Kancil bergegaslah ia menuju kurungan, apa yang ditemukan olehnya ternyata kekagetan semata. Kenapa dalam kurungan ada Anjing penjaga rumahnya? Kemana Si Kancil yang hendak kusate itu! Begitulah singkatnya cerita Si Kancil Mencuri Timun.

Dongeng merupakan bentuk sastra yang memiliki peran besar dalam pembentukan karakter anak. Berbagai karakter dalam dongeng akan memengaruhi pikiran anak-anak untuk meneladani karakter tokoh yang terdapat dalam dongeng. Seperti yang saya bilang di awal tulisan masih terjadi perdebatan sebagian pihak, terutama dikalangan akademisi mengenai dongeng Si Kancil Mencuri Timun apakah patut atau tidak diperuntukkan bagi anak-anak Indonesia? Di satu pihak, sepakat karena Kancil itu cerdik dan kreatif yang sepantasnya ditiru oleh anak-anak, bagaimanapun juga kreativitas harus ditanam sejak dini. Di pihak lain tidak sepakat karena Kancil rela berbuat licik untuk mendapati apa yang dia mau. Saya percaya jika salah satu fungsi dari sastra adalah berguna dan menyenangkan, maka karenanya jika cerita Si Kancil itu berguna dan menyenangkan kenapa tidak menyepakatinya saja? 😀

kancil

#5BukuDalamHidupku Hallo Ilmu Pengetahuan Sosial

“Memangnya pelajaran apa yang benar-benar kamu sukai?.”

Begitulah pertanyaan bu guru saat saya duduk di bangku SMA. Pertanyaan tersebut timbul karena saya punya masalah dengan pelajaran matematika yang sempat saya benci waktu itu. Matematika laksana teroris yang meneror benak saya dan kawan-kawan saya ketika itu. Kami menganggap pelajaran matematika sebagai pelajaran paling garing mega membosankan. Tak dinamis. Statis. Jauh dari rasa nikmat dalam belajar, apalagi cinta dengannya, yang belakanganpun saya ketahui justru sebaliknya. Lalu adakah yang salah saat itu? Jika ada siapakah yang salah? Kami atau gurunya? Entahlah, yang jelas waktu itu tanpa rasa ragu saya langsung menjawab pertanyaan bu guru, “sosiologi, bu!”

Ah, Sosiologi? Ini dapat berarti ada korelasinya dengan Ilmu Pengetahuan Sosial.

Tak sedikit definisi soal sosiologi mengingat pola tingkah laku suatu masyarakat dari hari ke hari mengalami perubahan, seiring dengan produktivitas masyarakat manusia itu sendiri yang tak bisa lepas dari iklim alam, ruang, dan waktu di mana ia tinggal dan hidup. Tak ubahnya definisi “hipster” yang tak pernah menemu satu pakem. Menarik memang. Namun saya lebih menyukai sosiologi menurut Allan Johnson, menurutnya, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari kehidupan dan perilaku, terutama dalam kaitannya dengan suatu sistem sosial dan bagaimana sistem tersebut memengaruhi orang dan bagaimana pula orang yang terlibat di dalamnya memengaruhi sistem tersebut. Maka sosiologi, tidak bisa tidak, menjadi pelajaran favorit saat itu bahkan hingga kini.

IPS II

Sedikit melongok ke belakang agak jauh. Sejak SD kelas IV saya sudah menyenangi pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, tanpa saya tahu alasannya kenapa. Barangkali bapak punya pengaruh besar dalam hal itu karena sering mengajak saya berpergian, sekedar menonton pertunjukan seni atau ngobrol ngalor-ngidul dengan kawan-kawannya yang nampak oleh saya sangat mengasyikan.

Adalah LKS (Lembar Kerja Siswa) Ilmu Pengetahuan Sosial yang pertama kali memperkenalkan saya dengan ilmu-ilmu sosial. Ketika itu sekolah saya selalu berlangganan LKS terbitan Sarana Panca Karya yang hingga sekarang ternyata keberadaannya masih berkibar. Hampir selalu menemukan keasyikan tersendiri saat membaca dan mengerjakan lembar demi lembar LKS, tanpa harus disuruh orang tua untuk membacanya. Karena sering membaca LKS IPS secara otomatis akan berlanjut ke buku paket IPS yang jauh lebih tebal dari LKS. Sebab di sana saya akan menemukan keasyikan yang lebih komplit. Ini kontras dengan pelajaran Matematika yang kurang saya sukai.

Salah satu isi materi dalam buku paket itu adalah peta. Betapa merasa herannya saya saat itu melihat peta kota Kuningan dengan kota Bandung yang jaraknya sejengkalpun tidak. Tapi jika berkunjung beneran, kok jauh, ya? Ah, imajinatif bukan? Belum lagi jika saya membaca materi tentang keberagaman budaya dan alam Indonesia yang indah permai dari Sabang hingga Merauke. Bahwa setiap daerah mempunyai adat-istiadatnya sendiri. Di tambah dengan visual alam yang menakjubkan tiada tara. Menarik sekali! Alangkah konyolnya jika sekarang terdapat Front Anti-Keberagaman yang konon sering mengganggu ketenteraman sebagian warga. Jangan-jangan mereka tak pernah membaca IPS, ya? Kasian sekali. Belum cukup sampai di situ, di buku itu terpampang gunung-gunung di berbagai daerah di Indonesia yang tak akan pernah dipunyai negara macam Singapura atau Italia sekalipun. Apalagi jika membuka buku atlas. Di mana terdapat berbagai bendera negara di dalamnya yang mana saya selalu membayangkan suatu saat nanti saya harus pergi ke negara yang benderanya berwarna merah, putih, biru horizontal dan berbicara bahasa mereka, atau menyambangi negara yang benderanya berwarna putih dengan merah menyilang serupa kompas arah mata angin. Yah…, walaupun belum terkabul hingga kini.

IPS I

Andai sekarang bu guru SMA kembali melontarkan pertanyaan yang sama, “memangnya pelajaran apa yang benar-benar kamu sukai?.” Sambil tersenyum santai saya akan menjawab, “masih sosiologi, bu.”

#5BukuDalamHidupku Resurjensi Diri dan Madilog

Rasanya sudah lama juga saya tak corat-coret di blog ini. Jika di tanya alasannya kenapa? Maka alasan itu benar-benar klasik nan basi, yaitu, sibuk ini itu sana sini. Ah, sesungguhnya alasan sibuk adalah alasan paling artifisial yang pernah manusia bikin. Dan memang lebih tepatnya, malas. Malas untuk menulis. Bukan karena tidak ada bahan yang ingin ditulis tapi karena malas saja. Hingga saya melihat lini kala twitter seorang kawan –Irwan Bajang, membuat proyek menulis dengan usungan tema #5BukuDalamHidup. Lima buku yang berpengaruh dalam hidup, minimal berkesan dalam hidup kita, katanya.

Menarik bukan? Apa salahnya kalau saya menuliskannya di blog ini. Meski saya tak tahu pasti buku apa saja yang mengesani hidup saya hingga sekarang. Namun, yang pertama kali muncul di pikiran saya saat membaca clue untuk ikut proyekan itu langsung jatuh pada magnum opus Tan Malaka, Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika). Sebuah “harta karun” patut baca sebelum manusia menemu ajal.

Saya tidak ingat kapan pertama kali mendengar nama Tan Malaka yang jelas namanya tercantum dalam lirik Belati Kalam Profan milik Homicide, sebuah kolektif hip-hop asal Bandung yang sukses pula mengusik hidup saya agar mencari tahu tentangnya. Di tambah seorang kawan yang juga sama berisiknya agar saya mencari tahu sosok Tan Malaka ini. Baiklah, saya pun mulai mencari tahu informasi tentangnya dari mana saja. Internet memang memberikan informasi yang cukup tentangnya, namun tidak cukup puas rasanya jika saya tak memiliki buah karyanya. Pada suatu waktu saya dan seorang kawan secara sengaja hunting karya-karya Tan Malaka, dan salah satunya adalah Madilog. Magnum opus yang kelak turut serta mengubah pemikiran saya dalam memandang hidup.

Setiap orang tentu (mungkin) pernah mengalami titik terendah dalam hidupnya. Di mana orang itu mengalami krisis eksistensial yang sampai pada tahap tak memercayai siapa dan apapun yang ada di dunia ini. Termasuk buku-buku yang pernah dibaca sebelumnya. Sebabnya macam-macam, bisa karena lingkungan akademis, tempat kerja, politik praktis, keluarga, atau apa saja yang dapat membuat kita muak dan ingin muntah dengan semua yang terlihat. Pernah? Saya pernah.

Jika dekadensi adalah istilah untuk manusia dalam titiknya yang paling rendah, maka saat itu saya sedang mengalaminya. Terutama saat berada di tengah organisasi yang kala itu saya cukup aktif di dalamnya. Sebuah organisasi yang menjangkiti penyakit bangsa ini yang padahal jauh-jauh hari telah dilawan Kartini, yaitu, parasit feodalistik yang berorientasi pada total hegemoni segelintir “penguasa”. Saat berada dalam organisasi itu saya merasa hari demi hari semakin gelap berkabut, mirip judul cerpen Ki Pandji Kusmin, Langit Makin Mendung. Lebih dari itu semua yang terlihat dihadapan muka hanyalah bentuk kebiadaban pada kemanusiaan. Anehnya, saya malah merelakan waktu, biaya, dan tenaga untuknya. Saya ingin pergi darinya tetapi saya tidak tahu dengan cara apa agar dapat pergi darinya. Karena terkait “sumpah” organisasi. Ada rasa ketakutan dalam diri untuk meninggalkan organisasi. Batin dan pikiran pun tak dapat bernegosiasi. Berperang setiap hari. Untuk bunuh diri pun rasanya saya tak punya kendali. 😀

Sedari kecil saya memang punya hobi membaca, saya pikir daripada terus-terusan memikirkan yang tidak-tidak, apa salahnya saya membaca Madilog yang kebetulan didapat sewaktu hunting. Madilog ditulis Tan lebih kurang 8 bulan, dari 15 Juli 1942 sampai 30 Maret 1943 (berhenti 15 hari), 720 jam, ialah kira-kira 3 jam sehari. Tan menulisnya saat berada dalam kondisi yang serba kekurangan di segala aspek. Sangat menyedihkan. Dari situ saja sudah membuat hati saya bergetar sehingga memantik gebu semangat untuk menandaskannya.

Tak mudah memang untuk memahami apa yang terdapat dalam Madilog, namun sebisanya saya kaji lembar demi lembar. Hingga pada lembaran tersebut saya menemukan “pencerahan” yang tak saya dapatkan dari siapapun dan buku manapun yang pernah saya baca. Banyak kecocokan perspektif individu dan sosial antara saya dengan apa yang ditulisnya, terutama yang sedang saya alami saat itu. Seakan saya diberi dukungan untuk berani bergerak menjalani hari saat suara-suara lain enggan bersuara satu patah kata pun. Setelah tandas membaca buku itu saya seolah mendapat energi baru yang padahal kala itu sedang mengalami degradasi hidup. Energi yang hingga saat ini masih bersemayam dalam tubuh dan pikiran saya. Karena buku ini juga saya tak pernah bosan untuk belajar memahami apa yang seharusnya dipahami. Hidup.

Madilog

Based on a True Story: Biografi Pure Saturday Setelah 19 Tahun

Gambar

Penulis: Idhar Resmadi
Cetakan Pertama, 2013
Diterbitkan oleh Unkl347
Dimensi: 11,1 x 18,1 cm. b/w
230 hlm
ISBN: 978-602-17941-0-4
Harga: Rp.55.000

Budaya mendokumentasikan perjalanan sebuah band minim terjadi di musik Indonesia. Namun tak menutup kemungkinan hal itu dapat terjadi dengan beberapa pengecualian. Pertama, musik yang dihasilkan dari band itu tumbuh dan berkembang bersama kita. Kedua, musik yang kita dengarkan sejak remaja hingga dewasa adalah musik yang memberi definisi berarti pada hidup kita. Sehingga, mentransformasi sebuah musik menjadi pengalaman hidup yang esensial. Ketiga, musik yang dihasilkan dari band itu mampu menembus berbagai generasi, dengan kata lain, musik yang dihasilkan tak terdengar membosankan jika diputar berulang kali ditambah dengan lirik yang relevan sejak dahulu, hari ini, dan esok hari. Dan Pure Saturday adalah salah satu contohnya. Pionir skena indie-pop Indonesia yang perjalanannya, tak berlebihan rasanya, jika didokumentasikan dalam wujud buku.

Grup musik asal Bandung yang lahir di awal 90’an ini telah dianggap menjadi anomali di zamannya. Ketika skena musik independen diriuhkan oleh scene metal, punk, grindcore, dan musik-musik keras lainnya. Pure Saturday tampil dengan wajahnya yang lain. Berikut corak musik dan pola distribusi yang penuh semangat kemandirian (itu lah kenapa dianggap anomali). Tak terkecuali bagaimana mengakali pola bisnis tricky-nya major label. Semangat kemandirian itu menular kepada band-band generasi setelahnya. Pure Saturday lahir pada saat euforia budaya barat dan konsumsi budaya massa di Indonesia melanda, sehingga melahirkan banyak ekspresi anak muda berbau “barat”. Pengaruh “barat” tak hanya menjadi dasar kreativitas mereka, akan tetapi menjadi potret gegar budaya yang mencerminkan pengaruh besar musik asal Tanah Inggris. Seperti The Cure, Ride, Radiohead, Oasis, The Beatles, The Smitht’s, dan masih banyak lagi.

Based on a True Story ini ditulis dengan narasi yang ekspositorik dari sudut pandang orang ketiga. Buku setebal 230 halaman ini memadukan studi pustaka sejumlah referensi tertulis yang kebanyakan dimuat di media massa dan buku, wawancara personil band dan pihak yang selama ini berada di balik layar, kesaksian para sahabat, dan sesama musisi, tak jarang pembaca dibawa ke dalam alam pikiran dan perenungan tokoh-tokohnya. Dapat jadi jika membicarakan Pure Saturday orang juga mesti membicarakan tentang relasi pertemanan dan persahabatan di dalamnya, terutama di komunitas seni yang ada di Bandung. Ini lah yang membuat kota Bandung selalu ‘hidup’, salah satu penyebabnya adalah aktivitas para seniman mudanya.

Persahabatan adalah kata kunci pembuka gerbang Pure Saturday meniti karir bermusiknya dari belum pernah terdengar sama sekali hingga terdengar dimana-mana seperti sekarang.

Rentang waktu 19 tahun bukanlah waktu yang singkat dalam perjalanan sebuah band. Hal itu hanya dapat terjadi jika mempunyai tekad dan komitmen yang baja. Patut dicatat diawal kemunculannya Pure Saturday adalah semantik ‘perlawanan’ terhadap industri musik arus utama, tak lepas dari peran wacana yang beredar di berbagai media massa saat itu. Hai, Kompas, Suara Pembaruan, dan wawancara radio Prambors dengan rapih menjadi klipping pendukung buku ini. Denny MR, Bre Redana, David Tarigan, Harlan Bin, Arian 13 jadi narasumber kompeten yang dikutip dengan jitu dan terang menggambarkan bagaimana konteks yang tengah berlaku saat itu. Termasuk suasana sosial dan politik yang terjadi. Karenanya lagu Kaca menjadi potret muram suasana politik ketika itu.

Idhar Resmadi menulis buku ini dengan sangat apik nan padat. Buku ini terdiri dari 8 bab. Setidaknya ada 3 tokoh dalam narasi yang ditulis Idhar yang paling menonjol ketika menghadapi rintangan. Terlebih rintangan yang sifatnya personal. Tokoh pertama adalah Muhamad Suar Nasution (Ex-vocalis), saat itu dirinya bingung antara harus memilih melanjutkan nge-band di saat band-nya sedang naik daun atau kerja di luar negeri (Yaman), namun, pada akhirnya ia memilih bekerja di luar negeri tetapi tetap berkomitmen akan membantu Pure Saturday dengan waktu dan tenaganya selama libur kerja dan balik ke Indonesia.

Kemudian, Ade Muir (Bass) yang memutuskan untuk berhenti kuliah dan bertekad kuat bahwa ia bakal mampu hidup dari musik seperti pamannya seorang musisi cafe yang mampu hidup dari musik. Namun ternyata tak semudah yang dibayangkannya, pada saat band berjalan terjadi konflik internal dalam tubuh dan manajemen band yang merambat ke personal, hingga suatu hari Ade pun harus merantau ke Selandia Baru dan bekerja di sana beberapa tahun.

Di balik pembuatan lirik Pure Saturday yang membius Ade lah yang bertanggung jawab atasnya, terutama di era album pertama (Pure Saturday) dan kedua (Utopia). Meski Suar pun ikut andil namun tak seintens Ade. Yang menarik dalam proses pembuatan lirik, Ade biasanya memenggal prosa yang sebelumnya dia tulis lalu menjadikannya lirik yang utuh dan penuh. Bahkan seniman orkes keroncong asal Bandung, Kartawijaya, mengatakan Pure Saturday kerap memainkan peran yang kuat sebagai “pengamat kesunyian” (the observer of solitude). Hal itu termanifestasi dalam lirik-liriknya.

Lalu, tokoh ketiga, Satria ‘Iyo’ Nurbambang (vocalis), Iyo adalah kawan dekat Aditya ‘Adhi’ Ardinugraha (Gitar) di ITB di fakultas seni rupa. Iyo pula lah yang seringkali menyemangati dengan menggebu kawan-kawannya di Pure Saturday untuk kembali berkarya setelah sekian tahun vakum karena terjadi gesekan internal diantara para personilnya. Hingga ia memberani-nekadkan diri menjadi seorang manajer band yang saat itu sedang kosong, sampai harus menggantikan posisi Suar sebagai vokalis. Permasalahan baru pun muncul, Iyo harus rela kena cibiran fans karena acapkali dibanding-bandingkan dengan Suar. Karisma Suar begitu kuat di kalangan fans Pure saturday. Mereka mengganggap sosok Suar tak tergantikan. Tekanan mental seperti itu yang harus dihadapinya. Dia harus mendobrak dan melawan itu semua (Hal 141). Meski di tengah berbagai cibiran Iyo tetap konsisten menjadi dirinya sendiri. Tekad dan semangat untuk menjadi diri sendiri tertanam dalam benaknya. Dia merasa bahwa dirinya bukan “Suar”, dia adalah “Iyo”. Iyo yang kini adalah vokalis Pure Saturday (Hal 142).

Namun bukan berarti dua tokoh lainnya yaitu si kembar Adhitya “Adhi” Nugraha (Gitar) dan Yudhistira “Udhi” Nugraha (Drum) tak dirundung masalah saat memotori Pure Saturday. Hanya saja dalam hemat saya Idhar tak terlalu menonjolkan rintangan yang  dihadapi kedua aktor tersebut dalam bukunya. Kecuali harus mengejar nilai kuliah yang jauh tertinggal. Begitu juga dengan tokoh Arif Hamdani (Gitar) yang harus mengakali waktu antara bekerja dan maen band.

Saya merasa tak menemukan kekurangan suatu apa dalam buku ini. Cover-nya simple dan terasa pas. Semacam mendeskripsikan Pure Saturday itu sendiri yang sebetulnya memang simple saja. Bermusik sesuai hasrat. Idhar juga nampaknya berupaya keras untuk memadatkan Perjalanan Pure Saturday Setelah 19 Tahun ini. Jika pun ada kekurangan dalam buku ini ia terletak pada foto yang terlalu banyak di dalamnya, terkesan komikal. Walaupun itu cukup membantu mendeskripsikan konteks “waktu” saat itu, namun tetap saja jadinya harus memangkas paragraf yang seharusnya lebih banyak lagi. Meski demikian buat saya bukan masalah yang terlalu besar.

Akhirulkalam, sudah sepatutnya Pure Saturday mendapat tempat yang layak di skena musik Tanah Air bahwa mereka telah membuktikan satu hal -yang walaupun terdengar klasik, keberhasilan sebuah band (bahkan apapun) hanya dapat terjadi jika terus diperjuangkan dan meyakini apa yang telah dilakukan. Sebagaimana penggalan lirik yang terdapat di lagu Buka, Hai kawan masihkah kita ada/ di jalan yang sama/ setelah sekian lama/ seperti dulu kita bersama/ menempuh banyak jalan dan rintangan/ kita tak sendiri….

Kepulangan Kelima: Kerinduan Itu Menyergap

Sebuah album musikalisasi puisi yang cukup menarik. Karya Irwan Bajang yang juga seorang pemilik Indie Book Publishing Yogyakarta dengan label; Indie Book Corner. Irwan juga dikenal sebagai penggiat sastra. Ini adalah proyek kolaborasi yang tergolong unik. Tak banyak penyair berani memproduksi album musik puisi sendiri seperti yang Irwan lakukan hari ini. Ari KPIN penggiat musik puisi asal Bandung dan Illustrator Oktora Guna Nugraha menjadi kawan kolaborasi Irwan. Sekilas melihat cover album ini tadinya aku mengira ini cuma musikalisasi puisi saja, ternyata tidak, ia lebih dari itu; bisa dibaca, didengar, dan dilihat.

Seketika pun gaungan komposisinya mengingatkanku pada Iwan Fals era 90’an yang dimix dengan Mukti-Mukti Mimesis Soul. Juga tak luput sentuhan maut Jeff Buckley menyadur Led Zepelin dalam melodi dan petikan gitar yang minimalis. Sendu-liris-merindu. Dibalut dengan balada rawkustik yang menghadirkan senyawa sunyi-sepi yang maksimal. Suara Ari KPIN yang khas terasa pas dilatari deklamasi puisi Irwan. Seketika juga menyeret isi kepalaku pada sebuah romantisme akan kampung halaman dibawah kaki ciremai sana. Aku hanya mampu merasai apa yang diperdengarkan dari track ke track yang terdapat di album ini. Bukan menafsirkan puisi-puisi didalamnya.

And this is the effect…

Romantisme Sawahwaru

Bagi kami -anggota Karang Taruna- merayakan hari kemerdekaan adalah sesuatu yang niscaya. Setiap menjelang kemerdekaan, ketua RT, pak RT, hingga warga beramai-ramai mempersiapkan hari itu. Meski sejarah dalam buku-buku sekolah sesungguhnya mengabarkan apa yang tidak kami kira. Menyewa panggung pun sebuah keniscayaan. Hasil dari udunan warga. Prinsip ekonomi yang seharusnya tidak tergerus teori akumulasi modal yang merusak elemen individu dan masyarakat hari ini.

Waktu itu warga pun wajib untuk menampilkan kemampuannya diatas pentas kelak, entah itu nge-band, berpuisi, bernyanyi, menari, dan yang lain-lain. Sebelum pentas digelar, hampir setiap malam kami -lelaki perempuan, berkumpul disebuah ruangan milik warga membahas persiapan untuk hari esok, tak jarang kami bernyanyi bersama-sama disana. Sesekali sambil memperdengarkan puisi ekspresif yang muncul begitu saja dari mulut. Menghadirkan tawa yang memorable, tentu saja.

Kawan-kawan dilingkup RT adalah fanboys Iwan Fals akut, dengan begitu menyanyikan lagu-lagu milik Iwan Fals dari Bongkar, Ibu, Bento, Mata Indah Bola Ping-Pong, sampai Yang Terlupakan adalah tidak bisa tidak. Bergelas kopi, berbungkus rokok, kue, dan sudah pasti gegorengan dan sebangsanya tersedia. Masa-masa itu pun seakan dibetot kembali dalam sentuhan liris sebagaimana penggalan puisi Bangun Tengah Malam yang ditaburi melodi khas bernafas balada, persis menjelang lagu menemu akhir; Ohh…Seperti aku merindukan malam masa-masa kecilku yang penuh dongeng….

Belum cukup sampai disitu kerinduan ngungun itu direngkuh lagi dalam puisi Pagi Insomnia dan Seorang Pemuda yang Kehilangan Separuh Hidupnya; disini, aku menunggu separuh kenangan/ tentang malam khusyuk di balai-balai sawah dekat sungai/ dan kuburan kampung tanah kelahiran/ kucari separuh kenangan yang hilang, saat aku mengajak pohon-pohon kelapa rukuk sujud beserta semesta….

Puisi lainnya pun berpotensi menyesatkan pada kerinduan yang tidak mungkin untuk diraih lagi. Ah, sesungguhnya nostalgia itu memang mengandung racun, meminjam adagium Milan Kundera; “The more vast the amount of time we’ve left behind us, the more irresistible is the voice calling us to return to it.” Perkawinan kata dan musik dapat jadi merupakan mesin waktu yang nyata namun fiksi. Sehingga cukupi saja catatan ini dan rasakan saja puisi-puisinya. 🙂

Gambar