Puitif

Rinai, Dimensi Hujan Jatuh Saat Mentari Tenggelam

Aku tidak meminta pada siapapun untuk menyukaiku, menyayangiku, mencintaiku. Aku adalah aku sebagaimana diriku. Meski aku tahuk, aku begitu lemah ketika kita saling memandang. Senyummu, tahik lalatmu, suaramu, menenangkan keapianku. Konon, orang yang lahir pada hari selasa memiliki sifat-sifat api secara lebih kental. Dan memang eksis dalam diriku bara itu. Dalam situasi kondisi tertentu, aku dapat dengan mudah terpancing emosi, sulit berpikir jernih, kekanak-kanakkan. Tetapi, hanya memandangmu, memerhatikan simpul senyum bertahik lalat di atas bibirmu cenderung menciptakan kedamaian dalam diriku, kusadari, aku memang punya kecenderungan mendadak tenang hanya dengan memandang perempuan yang kusukai. Entah sejak kapan perasaan seperti itu muncul dari dalam diriku. Hanya baru kusadari sekarang. Keluguanmu, sejujurnya seringkali membuatku tertawa, dan kusimpan hanya dalam malam. Saat hening mencapai telak. Menepikannya pada sunyi memakam dalam ruang yang tak terlalu besar ini. Ruang tempat aku bekerja, makan, dan terlelap. Kita memang sudah tahuk perihal kesunyian yang tercatat di dalam. Ada yang selalu jatuh dari langit sana, setiap senja, sebelum suara adzan menggema. Ada yang selalu menangkap matamu di daratan ini, dekat, erat seperti percik air menempel di tepi kaca jendela.

Advertisements

Belum Juga Usai: Kemerduanmu

Engkau membaca puisi disertai kelincahan gerak tubuhmu yang lentur dan sedikit lebar. Ke kiri dan ke kanan, maju juga mundur. Aku tak henti-hentinya menatapmu, memerhatikan setiap gerakmu. Backsound menambah nuansa panggung makin sublim.

Engkau membacakan puisi Rendra, hanya aku lupa dengan judulnya. Bukan Sebatang Lisong, bukan pula Pesan Pencopet Pada Pacarnya karena aku hapal betul keduanya. Mataku tertuju padamu sepenuhnya. Enerjik, pikirku. Penampilanmu mengalihkan puisi yang engkau baca saat itu. Nampaknya, engkau terbiasa melakukannya. Engkau sudah terlatih dengan baik. Aku suka. Sangat suka.

Suaramu begitu merdu, tidak terlalu keras memang, engkau meninggi-rendahkan bait-bait yang kiranya pas untuk ditekan ke atas atau pun agak rendah. Ditambah dengan ekspresionis tubuhmu yang lunglai. Seperti kupu-kupu yang baru menetas dari kepompong. Aku pun bergidik dibuatnya.

Setelah penampilanmu aku meminta temanku mengenalkanmu padaku, sebelumnya engkau sudah saling kenal memang. Kemudian engkau dan temanku menghampiriku, memperkenalkan namamu, begitupun juga aku.

Sesuai dugaanku, engkau sudah terbiasa melakukannya. Membaca puisi dengan penuh penghayatan, menjiwainya, menjadikannya menyatu denganmu. Engkau melakukannya sejak SMA, katamu. Merdu, pelan, dengan senyuman yang lucu.

Puisi pun selesai hanya sampai di situ, puisi itu tuntas hingga di sana. Mungkin. Mungkin?

Sekolah Malala Sekolah

:kami hanya ingin sekolah apa itu salah?

kami tumbuh diantara gegap gempita pucuk senjata. kami tumbuh bersama pepohonan yang tumbang, kran air yang patah, rumah-rumah rusak, tembok-tembok berkeping. dan kami berkembang remaja kala para tentara dan militan memekikkan letupan-letupan diudara. entah mengapa? kami tak tahu. kami tak pernah mengerti.

setiap hari kami dengar tangisan adik-adik kami. meratapi betapa tidak adilnya dunia  yang kami hadapi. setiap hari kami memandangi api membakar ladang kebun-kebun kami, tanaman-tanaman kami yang biasa kami masak saat sarapan pagi sebelum berangkat sekolah.

di lembah swat kami yang dahulu rimbun. dimana alir sungainya  menyeka lelah  saat  pulang sekolah, dimana gradasi laut menaburi sayap-sayap mentari dikicaui burung-burung ababil. pada hari ini tak terdengar sama sekali merdunya. pada hari ini hal yang kami kangeni  telah bertukar api yang berkobar memberangus mimpi dan cita-cita kami.

di lembah yang kami hidupi kini kebodohan makin melekat. kami tak boleh pergi sekolah, kaum kami dilarang pintar. bila kami berkeras hati berangkat sekolah orang tua-orang tua kami lekas diancam  sekelompok militan biadab. dunia terlalu terlambat menggugat.

dunia terlalu sibuk mengkorupsi informasi. dunia terlalu kecut mengetahui ketidakadilan di lembah kami yang makin menjadi-jadi. yang makin menjadi-jadi. entah mengapa? kami tak tahu. kami tak pernah mengerti.

meski langkah kami diselimuti ancaman-ancaman peluru. tak sesentipun kami gentar berbalik mundur. sebab kami telah bersumpah pada setiap buku yang kami baca. pada mereka yang miskin dan bodoh. kami harus menjadi siswi-siswi pintar. sehingga kerabat-kerabat kami yang mati terlalu dini tidak sia-sia. bahagia disurga sana.  biarpun kaki-kaki kami diburu militan yang keji. perjuangan kami tak akan pernah berhenti. tekad kami tak akan pernah mati. sekalipun timah panas menyarang dalam kepala kami. hari-hari kami. keremajaan kami.

AN: pernah dicetak di Sorakudazine, sebuah zine lokal kota Kuningan.

Sesaat Sehabis Pagi

Kadang aku merasa heran dengan seseorang yang terlalu mudah menjustifikasi seseorang lainnya hanya karena orang itu baru kenal satu dua hari dan merasa dekat satu sama lain. Semudah ia mengoreksi nilai-nilai UTS di sekolah. Apakah aku mendapat nilai 60, 75, atau 95? Mengingat kita baru saja kenal. Kita belum tahu apa-apa tentang apa-apa dalam diri kita. Kecuali soal visual masing-masing. Dan yang parah darinya, terlalu jauh meleset dan melesat entah kemana. Seolah terjun bebas dari ketinggian Everest untuk kemudian menjemput remuk redam karena nilai-nilai yang engkau buat atas dasar keabsurdan. Tidak jelas juga. Seperti banyolanku ini. Atau jangan-jangan kita lah contoh absurd yang acapkali dibicarakan para pujangga pra-Camus. Tapi sesungguhnya aku tidak terlalu ambil pusing atasnya. Toh setiap orang punya daya imajinasi tinggi (rasanya ini pun imajinasi). Dan lagi dirimu punya hak prerogatif dalam mensubjetifkan sebuah hal. Sebuah bualan barangkali lebih tepat dalam hal diriku pada dirimu. Amat tidak penting memang. Lagi pula aku memang seorang lelaki yang tidak penting untuk kau pikiri. Tak pantas untuk mendekati (mu). Apalagi kau cintai. Apalagi?

but fast justification thats not good to your healthy, dear…

Sebagai September

Barangkali angin akan mengusir cemasmu yang digelayuti muram menggugu. Berpikir akan ada hal ajaib diantara warna pelangi yang tampak kelabu. Musim yang terus bergerak tanpa ampun. Membuat kita lupa bahwa setiap keinginan meminta agar dilunasi. Serupa janji Sangkuriang kepada Dayang Sumbi; yang dalam kegagalannya tetap mengalir darah dengan utuh gairah. Memang rasa bosan merupakan awan gelap sebelum pelangi tiba. Mestinya kita punya cara untuk mengenyahkannya. Meski dalam diam bersaksikan buku-buku yang selalu mampu membunuh waktu di awal pekan. Kau tahu, hujan selalu punya cara menerbitkan sebaris getir dan hasrat mengalun di tiap jatuhnya. Memunculkan kembali masa yang tak ingin kita lupakan. Tak maukah kau mati sebagai hujan?

Suara Malam Memanggilmu

Kita terenyuh pada sebuah gagap yang seringkali datang saat sepi menyublim. Berkaca pada hari demi hari yang dilewati bersama mereka yang kita cintai dengan mata dan muka polos. Dengan harap yang menyergap digemasi lautan cemas. Mungkin kesepian merupakan jalan untuk menujumu dalam diam. Seperti batu-batu sungai yang cuma bertengger di antara hijau pepohonan yang tak pernah dahaga. Ah, kau kira hidup cuma untuk memaknai sesuatu. Kebermaknaan hanya akan bermakna jika hanya ada satu makna yang kau yakini dan perjuangkan dalam gontai dan gemeretak sepatu kerjamu. Burung tak pernah belajar soal makna tapi ia mengajarkan langsung tentang kebahagiaan menjadi bebas di angkasa. Mengepakkan sayap tanpa rasa was-was. Landas. Apakah kita mampu mengangkat kaki-kaki kita tanpa rasa cemas?

Kepada Pagi #1

Aku menggumuli pagi yang dipenuhi sinar mentari. Kulihat sinar itu menembus daun-daun jatuh kering terpanggang. Serupa telur yang gosong diatas koali berapi. Aku berjalan di antara rentetan tanda dan tanya? Adakah cinta yang tak mewaktu? Serupa sinar pagi hari yang tak pernah peduli dengan apa yang disinarinya. Namun ia menghidupi.

 

Lacuna

Seekor serigala meraung kesakitan ditimpa berlaksa-laksa kesepian. Tak seperti biasanya ia meraung seperti itu, pasalnya ia telah akrab dengannya namun kali ini kesepian itu seolah berubah jadi jarum. Menusuk hingga ke ulu jantung.

Seekor serigala kini kehilangan kekasih yang dicintainya. Kehilangan rumah yang didiaminya. Kehilangan api yang menghangatkannya. Kehilangan berjuta cahaya purnama yang memantul dari langit bila malam penuh.

Seekor serigala kini hanya terus berjalan, berjalan, dan berjalan. Ia tahu tak mudah melewati hari-hari ngilu seperti itu. Tapi ia sadar mengaum adalah satu-satunya cara agar eksistensinya tetap menyala betapapun jarum itu semakin meraksuk dan meraksak.

Ia melewati malam itu yang tampak bagai lautan penuh riak tanpa air. Matanya menangkap satu bintang menggelantung di ujung langit itu namun nyalanya muram. Semuram malam digelayuti awan. Sebuah bintang kecemasan telah terbit di malam yang tepat.

Serigala masih terus berjalan, mengaum, berjalan, mengaum, dan berjalan. Menyusuri hutan, menerabas malam, mengangkangi belantara bahaya, dihujam berlaksa-laksa jarum kesepian. Serigala belum mau mati karenanya. Ia masih ingin mengaum, terus mengaum.

Mimpi Serigala